Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dari Perhatian ke Kekerasan: Mengapa Korban Sulit Keluar dari Siklus Hubungan Abusif

Jabar · Oleh · · Diperbarui 13 Agustus 2026

Kasus penyekapan perempuan di Bandung hubungan abusif. Psikolog jelaskan mengapa korban sulit keluar dari siklus kekerasan dan cara mendapat bantuan.

Dari Perhatian ke Kekerasan: Mengapa Korban Sulit Keluar dari Siklus Hubungan Abusif

Kasus Penyekapan di Bandung yang Mengguncang Publik

Kasus penyekapan perempuan di Bandung menjadi sorotan publik dan membuka mata kita terhadap realitas kekerasan dalam hubungan yang selama ini sering tidak terlihat. Seorang perempuan berinisial YTR (29) menjadi korban kekerasan oleh laki-laki bernama Taufik Hidayat (30) yang kini tengah menjalani proses hukum.

YTR disekap dan dianiaya di sebuah kamar kos hingga mengalami luka berat, termasuk kerusakan penglihatan akibat penganiayaan. Keluarga korban juga mengungkapkan bahwa YTR mengalami kekerasan seksual oleh pelaku. Selama masa penyekapan, korban kehilangan sejumlah barang berharga, mulai dari sepeda motor, ponsel, hingga uang tunai.

Baca Juga: Jenal Aripin Minta Veteran Karawang Langsung Tegur Kalau Dirinya Keliru dalam Pengabdian

Kisah Awal Hubungan yang Terlihat Normal

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Gita Aulia Nurani, Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa hubungan abusif biasanya tidak dimulai dengan kekerasan. Di awal, pelaku menunjukkan perhatian dan kasih sayang berlebihan hingga membuat korban bergantung secara emosional.

"Jadi ada fase yang dimulai dari upaya memperoleh kepercayaan pasangan terlebih dahulu," terang Gita. Dalam kasus ini, YTR awalnya mengaku hubungan mereka berjalan normal. Mereka bertemu di sebuah konser musik di kota Bandung, dan korban tidak menyadari bahaya yang mengintai.

Baca Juga: Siloam Hospitals Mampang gandeng brand alas kaki Bocorocco edukasi kesehatan kaki pekerja

Modus Pelaku: Dari Kasih Sayang ke Kekerasan

Menurut Gita, setelah korban terperangkap secara emosional, pelaku mulai melakukan kekerasan secara bertahap. Mulai dari kekerasan verbal, psikologis, hingga fisik yang semakin parah. Hal ini dilakukan agar korban merasa tidak bisa pergi dan semakin bergantung pada pelaku.

Kasus ini menunjukkan bahwa pelaku sengaja menyebabkan kerusakan penglihatan korban agar membuatnya semakin sulit melarikan diri. Kondisi tersebut membuatnya semakin bergantung pada pelaku untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

"Kegagalan korban untuk bebas (keluar dari kekerasan) bukanlah tanda bahwa ia menerima kekerasan, melainkan menunjukkan besarnya hambatan yang dihadapinya saat mencoba melarikan diri."

Pernyataan tersebut sempat menjadi perdebatan di masyarakat karena korban dianggap tidak segera keluar dari situasi tersebut. Psikolog menjelaskan bahwa upaya melarikan diri dari hubungan kekerasan justru dapat mengancam nyawa dan membuat korban berada dalam situasi yang lebih berbahaya.

Manipulasi Psikologis yang Menghancurkan

Gita mengungkapkan bahwa pelaku biasanya memanipulasi psikologis korban melalui berbagai cara:

"Dalam jangka panjang, korban dapat kehilangan kepercayaan diri atau bahkan merasa tidak memiliki pilihan lain. Inilah yang membuat korban sulit mencari bantuan meskipun sebenarnya ingin keluar dari situasi tersebut," jelas Gita.

Pola Siklus Kekerasan yang Terus Berulang

Kasus kekerasan yang berlangsung lama biasanya diselingi oleh fase permintaan maaf dan janji pelaku untuk berubah. Psikolog menyebut bahwa pola ini adalah bagian dari siklus kekerasan yang dirancang untuk mempertahankan kendali atas korban.

Pola siklus kekerasan dalam hubungan:

  1. Fase ketegangan — pelaku mulai menunjukkan tanda-tanda kemarahan dan ketidakpuasan
  2. Fase ledakan — kekerasan terjadi secara fisik, verbal, atau seksual
  3. Fase bulan madu — pelaku memohon maaf dan berjanji berubah, memberi harapan palsu kepada korban

Tanda-Tanda Hubungan Abusif yang Perlu diwaspadai

Masyarakat perlu mengenali berbagai tanda kekerasan dalam hubungan:

"Dalam hubungan yang sehat, pasangan saling menghargai dan memberikan kebebasan. Jika menemukan pola-pola tersebut, segera cari bantuan dan jangan abaikan tanda-tanda awal," saran Gita.

Langkah untuk Korban Kekerasan

Untuk keluar dari siklus kekerasan, korban disarankan:

"Ladies dapat menghubungi Kemen PPPA melalui SAPA 129 atau Komnas Perempuan di 021-3903963 saat membutuhkan perlindungan dari kasus kekerasan," himbau Gita.

Catatan Penting

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam hubungan bisa terjadi pada siapa saja dan sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya hubungan abusif dan memberikan dukungan bagi korban yang beraniSpeak up.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang psikologi korban dan siklus kekerasan, diharapkan kita dapat mencegah dan membantu lebih banyak korban untuk menemukan jalan keluar dari situasi berbahaya.