Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dari Agraris ke Kampung Seni: 60 Pelukis Jelekong Buat Karya Raksasa Kolaboratif

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan ·

Acara Ngabaladahan di Kampung Seni Jelekong, Kabupaten Bandung, diikuti 60 pelukis yang kolaborasi buat karya raksasa 11x4 meter dan pameran 112 karya, tegaskan identitas seni lokal.

Dari Agraris ke Kampung Seni: 60 Pelukis Jelekong Buat Karya Raksasa Kolaboratif

Minggu (12/4) menjadi hari yang penuh semangat bagi Kampung Seni Jelekong di Kabupaten Bandung. Lebih dari 60 pelukis berkumpul di kawasan ini untuk menciptakan karya lukisan raksasa berukuran 11×4 meter sebagai bagian dari acara Ngabaladahan, sebuah inisiatif yang menekankan kerja sama kolektif dan penguatan identitas seni lokal. Acara ini juga diiringi pameran seni dan pertunjukan budaya yang memeriahkan suasana, menarik perhatian banyak pengunjung dari berbagai daerah.

Makna di Balik Ngabaladahan dan Jelekongism

Istilah "Ngabaladahan" yang diusung dalam acara ini bukan hanya sekadar metode berkesenian, tapi juga cara hidup masyarakat Jelekong yang mengutamakan kebersamaan. Menurut Arya Sudradjat, ketua Yayasan Bubuara Jelekong Indonesia (YBJI), gagasan ini melahirkan konsep "Jelekongism" yang bertujuan membaca ulang tradisi visual Nusantara. Ia menambahkan bahwa akar seni rupa Indonesia tidak pernah terputus, melainkan terus bertransformasi dari masa ke masa, mulai dari lukisan gua di Sulawesi hingga karya-karya pelukis Jelekong saat ini. Konsep ini juga menekankan pentingnya melestarikan identitas lokal sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Perubahan Kampung Jelekong dari Agraris ke Destinasi Seni

Sejak tahun 1970-an, Kampung Jelekong mengalami pergeseran signifikan dari kawasan agraris menjadi desa pelukis yang mandiri. Saat ini, hampir setiap rumah di kawasan ini memiliki aktivitas melukis, menjadikan seni sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari warga. Perubahan ini tidak hanya mengubah wajah kawasan, tapi juga menciptakan ekosistem seni yang kompleks dan dinamis, yang menarik perhatian banyak seniman dan penggemar seni dari seluruh Indonesia.

Karya Kolaboratif dan Ragam Teknik Pameran

Sebagai pusat dari acara Ngabaladahan, karya lukisan raksasa 11×4 meter menjadi daya tarik utama. Karya ini bukan milik individu, melainkan hasil kerja sama 60 pelukis yang menuangkan imaji, warna, dan ingatan warga ke dalam kanvas. Selain karya raksasa, ada 112 karya lain yang dipajang di ruang pamer acara, dengan beragam teknik dan media:

Cat yang digunakan dalam semua karya juga diracik sendiri oleh para seniman dari campuran berbagai bahan alami, menghasilkan karakter warna yang khas dan unik yang menjadi ciri khas seni Jelekong.

Pertunjukan Budaya dan Visi Masa Depan

Acara Ngabaladahan tidak hanya fokus pada lukisan, tapi juga menyediakan ruang untuk ekspresi budaya lainnya. Pertunjukan musik dan tarian jaipong dari sanggar lokal memeriahkan acara, menegaskan bahwa Kampung Seni Jelekong adalah ruang yang menyatukan berbagai bentuk seni budaya. Hal ini menunjukkan bahwa seni di Jelekong tidak hanya terbatas pada lukisan, tapi juga mencakup berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya.

Pendiri YBJI, Susrinah Sanyoto, menekankan bahwa gerakan seni di Jelekong memiliki potensi besar untuk berkembang ke pasar yang lebih luas. Ia menambahkan bahwa penguatan kualitas karya adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan seniman lokal. "Ketika kualitas karya meningkat, kesejahteraan seniman juga akan ikut terangkat," kata Susrinah.

Kini, Kampung Seni Jelekong tidak lagi dikenal hanya sebagai kampung pelukis, tapi sebagai ekosistem seni yang kompleks dan dinamis. Melalui acara Ngabaladahan ini, para seniman tidak hanya menunjukkan karya mereka ke publik, tapi juga menegaskan identitas kolektif mereka dan membuka peluang untuk menjangkau pasar global. Acara ini juga menjadi bukti bahwa seni lokal dapat menjadi daya tarik utama dan berkontribusi pada perkembangan ekonomi dan budaya kawasan.