Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Dampak Kekeringan di Ciamis: Petani Sukamantri Terpaksa Tinggalkan Sawah 1 Hektare

KDM · Oleh Salsa Maharani ·

Kekeringan memaksa petani di Kampung Patrol, Ciamis, tinggalkan sawah 1 ha. Tanpa irigasi, gagal panen rugikan jutaan.

Dampak Kekeringan di Ciamis: Petani Sukamantri Terpaksa Tinggalkan Sawah 1 Hektare

Musim kemarau panjang memaksa sejumlah petani di Kampung Patrol, Desa Cibeureum, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, untuk meninggalkan lahan pertanian mereka. Lahan sawah seluas 1 hektare yang semula menjadi sumber penghidupan kini telah berubah menjadi area kering dan tandus akibat kekeringan berkepanjangan.

Kegagalan Panen karena Infrastruktur Irigasi yang Memadai

Tidak adanya saluran irigasi yang memadai menjadi akar permasalahan yang dihadapi para petani di wilayah ini. Curah hujan yang menurun drastis membuat permukaan tanah menjadi keras dan pecah-pecah. Kondisi tersebut membuat pasokan air ke areal persawahan sangat terbatas, sehingga tanaman padi tidak dapat tumbuh dengan optimal.

Para petani menjelaskan bahwa meskipun hujan turun beberapa kali, volume air yang dihasilkan tidak cukup untuk mengairi lahan pertanian secara menyeluruh. Dampaknya, bulir padi yang muncul menjadi hampa dan daun-daun tanaman menguning sebelum waktunya.

Kerugian yang Ditanggung Petani

Dampak finansial dari kegagalan panen ini sangat terasa bagi para penggarap lahan. Mereka harus menanggung berbagai biaya operasional yang telah dikeluarkan di awal musim tanam, mulai dari pembelian bibit, pupuk, hingga sewa traktor untuk mengolah tanah. Seluruh investasi tersebut kini menguap tanpa menghasilkan panen yang bisa dijual.

"Tanah yang digarap kini kering, ditumbuhi rumput, dan tanaman padi menguning. Panen di tahun ini gagal total," keluh salah seorang petani setempat.

Situasi ini mendorong sebagian petani untuk mulai mempertimbangkan kemungkinan mengalihkan usaha mereka ke sektor lain sebagai jalan keluar dari krisis yang mereka hadapi.

Langkah Strategis yang Diambil Petani

Menghadapi situasi yang semakin sulit, sebagian petani kini mulai membentuk kelompok usaha bersama yang terintegrasi dengan peternakan domba. Langkah ini diambil sebagai upaya diversifikasi usaha untuk mengurangi ketergantungan pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan air.

Para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah dalam bentuk pembangunan infrastruktur irigasi yang memadai, pendampingan teknis, serta program perlindungan usaha tani yang dapat membantu mereka bangkit dari kondisi saat ini.

Upaya yang Masih Bisa Dilakukan

Di sisi lain, sebagian petani yang memiliki akses terhadap pompa air masih bertahan mengolah lahan mereka. Curah hujan yang masih terjadi secara berkala menjadi harapan tersendiri bagi mereka untuk tetap bisa bercocok tanam, meskipun dengan hasil yang belum tentu maksimal.

Namun, bagi lahan-lahan yang berada di area dengan kontur lebih tinggi, tantangan kekurangan air semakin sulit diatasi. Beberapa petani di wilayah tersebut telah memilih untuk sementara waktu tidak menggarap sawah mereka sampai kondisi iklim membaik.

Pentingnya Perlindungan Terhadap Petani

Kondisi yang terjadi di Kampung Patrol, Cibeureum, ini mencerminkan kerentanan sektor pertanian tradisional terhadap perubahan iklim dan kurangnya infrastruktur pendukung. Diperlukan langkah-langkah konkret untuk melindungi para petani kecil, seperti pembangunan dan perbaikan jaringan irigasi, penyediaan akses pompa air, serta program asuransi pertanian.

Tanpa adanya intervensi yang tepat, siklus gagal panen dan perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian akan terus berulang, mengancam ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan di wilayah Ciamis.