Cianjur Distribusikan 255 Unit Pompa Air untuk Antisipasi Kekeringan 2026
DTPHP Cianjur distribusikan 255 unit pompa air dan 11 pompanisasi untuk mitigasi kekeringan. 86.369 hectare sawah siap hadapi musim kemarau 2026.

Strategi Mitigasi Kekeringan Lahan Pertanian di Kabupaten Cianjur
Musim kemarau menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Mengantisipasi potensi kekeringan yang dapat mengancam produktivitas padi, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Cianjur telah mempersiapkan berbagai langkah mitigasi komprehensif sejak awal tahun 2025.
Koordinasi lintas instansi menjadi kunci utama dalam strategi penanganan kekeringan. DTPHP Cianjur berkoordinasi aktif dengan Kementerian Pertanian, BBWS Citarum, Dinas TPH Provinsi Jawa Barat, dan Dinas PUTR Cianjur untuk memastikan kesiapan infrastruktur pengairan.
Baca Juga: IS Ringkus di SPBU Cimerak Usai Rampas Gelang Emas Nenek 77 Tahun di Batukaras
"Kami memastikan kondisi saluran irigasi primer, sekunder, dan tersier berfungsi optimal, serta bendungan yang mengalami gangguan dapat segera diperbaiki," jelas Dadan Hendrayana, Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kabupaten Cianjur.
Distribusi Pompanisasi dan Pompa Air
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah telah membangun fasilitas pompanisasi air permukaan sejak 2025. Sebanyak 11 unit pompa telah disebar di delapan kecamatan strategis, mencakup wilayah utara hingga selatan Kabupaten Cianjur.
Baca Juga: Komplotan Pembobol Mess TKA di PT D Majalengka Ditangkap, Tiga Pelaku Masih Buron
Berikut rincian distribusi pompanisasi:
- Cidaun: 1 unit
- Cijati: 2 unit
- Cilaku: 2 unit
- Agrabinta: 1 unit
- Cibinong: 1 unit
- Leles: 1 unit
- Cibeber: 1 unit
- Kadupandak: 2 unit
Selain pompanisasi, DTPHP Cianjur juga menyalurkan bantuan sebanyak 244 unit pompa air ke seluruh kecamatan. Total keseluruhan mencapai 255 unit peralatan pengairan yang siap dioperasikan saat musim kemarau tiba.
Perbaikan Infrastruktur Irigasi
Guna menjamin kelancaran pasokan air, beberapa daerah irigasi prioritas telah menjalani perbaikan dan normalisasi. Daerah Irigasi Cibalagung, Ciheulang, dan Cihea menjadi fokus utama perbaikan agar kebutuhan air pertanian tetap terjaga selama musim kemarau panjang.
Pengaturan pola pembagian air dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Kepala UPTD Pertanian, Kepala UPTD Pengairan, dan P3A Mitra Cai. Jadwal penggunaan air irigasi ditentukan dalam Rencana Tata Guna Lahan dan Air (RTGR) untuk memastikan distribusi yang adil dan efisien.
Bantuan Benih Padi Tahan Kekeringan
Pemerintah daerah juga memfasilitasi bantuan benih padi dengan varietas unggul berumur pendek. Beberapa varietas yang telah didistribusikan meliputi Pajajaran, Cakrabuana, Inpari 19, dan M70D yang dikenal memiliki ketahanan lebih baik terhadap kondisi kering.
Kondisi Lahan dan Luas Tanam
Sepanjang tahun 2026, luas tanam padi di Cianjur telah mencapai 86.369 hektare. Dari total tersebut, sekitar 11.183 hektare menggunakan benih bantuan dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian. Menariknya, 40 persen di antaranya merupakan varietas genjah Pajajaran yang memiliki masa panen lebih singkat.
Berdasarkan laporan berkala dari Balai Proteksi Tanaman Dinas TPH Provinsi Jawa Barat periode 16-30 Juni 2026, lahan sawah yang terancam kekeringan tercatat seluas 201 hektar tersebar di delapan kecamatan.
Delapan kecamatan terdampak tersebut meliputi:
- Lima kecamatan mengalami dampak kekeringan tahap ringan dengan total lahan 9,5 hektar
- Naringgul: 2 hektar
- Gekbrong: 3 hektar
- Cilaku: 1 hektar
- Cikalongkulon: 2 hektar
- Haurwangi: 1,5 hektar
Upaya Pemantauan Berkelanjutan
DTPHP Cianjur terus memantau perkembangan kondisi lahan dan mengantisipasi perluasan area terdampak. Koordinasi terpadu antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan lokal.
Dengan kesiapan infrastruktur dan koordinasi yang solid, diharapkan sektor pertanian Cianjur dapat melewati musim kemarau 2026 tanpa gangguan berarti terhadap produksi padi.