BRT Cekungan Bandung Rp1,3 Triliun Resmi Dibangun, Target Layani Warga 2027
Pembangunan BRT Cekungan Bandung bernilai Rp1,3 triliun resmi dimulai, target beroperasi penuh 2027 dengan 753 halte dan jalur khusus 21 km.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan ketersediaan transportasi umum terintegrasi dan berkeadilan kini telah menjadi kebutuhan dasar bagi warga metropolitan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul dimulainya proyek pembangunan infrastruktur Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung secara resmi melalui groundbreaking di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, pada Rabu (22/7) lalu.
Kebutuhan Transportasi Publik Meningkat Pesat
Dedi menyebutkan dengan jumlah penduduk kawasan yang besar dan perkembangan yang ada, kebutuhan akan transportasi atau angkutan publik semakin meningkat.
"Ini adalah kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Kita berharap penyelenggaraan pembangunannya berjalan aman, lancar, tanpa gangguan, dan mampu menghadirkan kualitas infrastruktur yang bermutu tinggi," kata Dedi.
Pria yang akrab dipanggil KDM itu menekankan agar lonjakan trafik pengguna angkutan publik diimbangi dengan pengamanan ekstra, ketersediaan fasilitas kebersihan, trotoar laik, serta penerangan jalan.
"Jawa Barat harus adil. Kota-kota besar berkembang, tetapi desa-desa juga harus merasakan pembangunan. Infrastruktur dasar wajib menjangkau seluruh lapisan masyarakat."
Rincian Investasi dan Spesifikasi BRT
Sistem angkutan massal modern bernilai investasi Rp1,3 triliun tersebut diproyeksikan ditopang pembangunan dengan spesifikasi sebagai berikut:
- Jalur khusus sepanjang 21 kilometer
- 6 depo utama untuk perawatan dan operasional
- 753 halte tersebar di seluruh kawasan
- Penerapan sistem transportasi pintar (Intelligent Transportation System/ITS)
Proses pembangunan BRT Cekungan Bandung ini masuk dalam proyek infrastruktur Indonesia Mass Transit Project (Mastran) berbasis jalan raya.
Solusi Jangka Panjang Atasi Kemacetan
Di lokasi yang sama, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan penataan sistem pergerakan melalui BRT menjadi solusi jangka panjang dalam menekan tingkat kemacetan yang menggerus produktivitas dan meningkatkan biaya logistik kawasan Cekungan Bandung.
"Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah dalam mewujudkan transportasi publik modern. Kita ingin menghadirkan angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi sehingga menjadi opsi utama mobilitas masyarakat," kata Dudy.
Dengan target seluruhnya beroperasi penuh pada 2027, sistem ini diharapkan mampu menjadi alternatif transportasi yang meningkatkan konektivitas dan mengurangi kemacetan di kawasan metropolitan.
Pembiayaan Multilateral
Direktur Jenderal Perumahan Jalan Kemenhub Aan Suhanan merinci pembiayaan proyek Mastran bersumber dari tiga pihak, yakni:
- Pemerintah Indonesia
- World Bank
- Agence Française de Développement (AFD)
Total porsi BRT Cekungan Bandung mencakup 719 halte off-corridor serta 34 halte on-corridor.
Pembangunan tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama BRT. Sementara tahap berikutnya akan dikembangkan untuk halte ikonik serta depo di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.
Standar Layanan dan Target Operasional
Aan menjelaskan bahwa ke depannya, sistem BRT ini ditargetkan memiliki waktu tunggu (headway) maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk.
"Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target," kata Aan.
Dengan standar layanan tersebut, BRT Cekungan Bandung diproyeksikan dapat melayani jutaan penduduk kawasan metropolitan Bandung secara optimal dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi masyarakat.