Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

BPBD Cimahi sebut semua kelurahan rawan longsor dan banjir setelah kemarau panjang

KDM · Oleh ·

BPBD Kota Cimahi menyatakan seluruh kelurahan berpotensi longsor dan banjir, dengan wilayah bekas kemarau panjang paling rentan.

BPBD Cimahi sebut semua kelurahan rawan longsor dan banjir setelah kemarau panjang

Warga di kawasan perbukitan Kota Cimahi diminta memeriksa retakan tanah dan struktur rumah masing-masing. Peringatan itu muncul setelah hujan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur Bandung Raya beberapa hari terakhir, disertai puting beliung dan longsor di Padalarang serta banjir di Kota Cimahi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyatakan tidak ada kelurahan yang bisa dianggap aman dari bencana hidrometeorologi. Daerah yang sebelumnya dilanda kemarau panjang ia sebut paling rentan karena kondisi tanahnya sudah berongga.

"Perlu diwaspadai daerah-daerah yang mengalami kekeringan panjang bisa memicu longsor. Bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi di semua kelurahan di Kota Cimahi," kata Fithriandy, Minggu (1/11/2026).

Tanah berongga menjadi labil ketika terisi air hujan dalam jumlah besar. Karena itu, warga yang tinggal dekat tebing atau di kontur tanah miring diminta mengamati lingkungan sekitar, bukan hanya kondisi cuaca harian.

Baca Juga: Lima Bangunan Peninggalan Kolonial Masih Berdiri di Bogor, Istana hingga Vihara Abad ke-18

Fithriandy meminta laporan segera disampaikan bila warga menemukan tanah retak atau titik longsoran baru. Laporan bisa masuk ke BPBD maupun aparat pemerintahan setempat, sehingga penanganan tidak menunggu bencana terjadi lebih dulu.

"Jika ada tanah retak atau titik longsoran baru agar segera melapor ke BPBD atau aparat pemerintahan setempat," kata Fithriandy.

Selain lereng, BPBD Kota Cimahi menyoroti bangunan rumah. Warga diminta memeriksa bagian atap dan dinding yang berpotensi rapuh saat diterjang angin kencang atau hujan lebat, sekaligus membersihkan lingkungan untuk menekan risiko banjir.

Baca Juga: Penelitian Qolby dan Nuralia Telusuri Asal-usul Nama Ciwidey dari Wide Bambu sampai Pabrik Teh 1870

Di tingkat provinsi, BPBD Jawa Barat merekomendasikan status siaga bencana hidrometeorologi basah berlaku 1 November 2026 sampai 30 April 2027. Rekomendasi itu lahir dari rapat koordinasi bersama BMKG, PVMBG, dan para kepala pelaksana BPBD kabupaten/kota. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menyebut penetapan status masih menunggu Keputusan Gubernur dari Dedi Mulyadi.

Rekomendasi serupa sudah bergulir di daerah lain Jawa Barat. BPBD Cianjur sebelumnya mengimbau warga 32 kecamatan waspada longsor saat musim hujan, dan pola bencana serentak pernah tercatat dalam 11 bencana di Sukabumi berupa banjir dan longsor akibat hujan deras.

Bagi pembaca di Bandung Raya, masa transisi dari kemarau panjang ke musim hujan adalah periode paling rawan. Hujan pertama di tanah yang mengering bertahun sebelumnya sering memicu longsor, sementara drainase yang belum dibersihkan memperbesar peluang genangan. Karena itu, laporan warga soal retakan tanah menjadi bagian dari peringatan dini, bukan sekadar keluhan lingkungan.