Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

BNI Salurkan PMT Pemulihan untuk 65 Anak Berisiko Stunting di 4 Desa Pangalengan

Bandung · Oleh · · Diperbarui 4 Agustus 2026

BNI salurkan PMT pemulihan untuk 65 anak berisiko stunting dan paket nutrisi bagi 12 ibu hamil KEK di 4 desa Pangalengan, Bandung, dengan total 127 penerima manfaat.

BNI Salurkan PMT Pemulihan untuk 65 Anak Berisiko Stunting di 4 Desa Pangalengan

Program BNI Berbagi Targeting 127 Keluarga Rentan di Kabupaten Bandung

PT Bank Negara Indonesia (BNI) resmi menggeber program kesehatan masyarakat di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Program bertajuk Desa Sehat Bebas Stunting ini menyasar empat desa sekaligus, yakni Sukamanah, Banjarsari, Wanasuka, dan Margamukti.

Tidak tanggung-tanggung, sedikitnya 127 keluarga rentan menjadi penerima manfaat langsung dari program ini. Mereka mencakup anak-anak berisiko stunting, ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK), serta remaja putri yang menjadi target pencegahan sejak dini.

Baca Juga: Pegadaian-OJK Gencarkan Literasi Keuangan di ITB Jatinangor untuk Cegah 200 Mahasiswa Terjerat Judol dan Pinjol

"Penanganan stunting bukan hanya soal pemberian makanan tambahan, tetapi juga soal membangun fondasi kesehatan generations mendatang," tegas Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI.

Rincian Intervensi Gizi untuk 127 Penerima Manfaat

BNI melalui program ini menjalankan strategi intervensi gizi yang terstruktur dan berkelanjutan. Berikut rinciannya:

Baca Juga: Bandung Siapkan Delapan Venue untuk Terima Delegasi 11 Negara di Konferensi Insinyur ASEAN

Seluruh rangkaian program berjalan selama tiga bulan dengan pendampingan dan pemantauan berkala. Tujuannya memastikan setiap penerima manfaat mendapatkan dampak yang optimal dari intervensi yang diberikan.

Prevalensi Stunting 24,1%: Mengapa Pangalengan Jadi Prioritas?

Kabupaten Bandung bukanlah pilihan acak untuk lokasi program. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di kabupaten ini tercatat sebesar 24,1%.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata prevalensi stunting Provinsi Jawa Barat secara umum. Kondisi ini menjadikan wilayah perkebunan dan pertanian di selatan Kota Bandung itu membutuhkan penguatan upaya pencegahan yang masif.

BNI menilai bahwa keberhasilan penanganan stunting memerlukan pendekatan kolaboratif. Karena itu, program ini dirancang secara terintegrasi dengan melibatkan berbagai pihak:

Membangun Lingkungan Sehat untuk Tumbuh Kembang Optimal

Selain pemenuhan gizi langsung, Program Desa Sehat Bebas Stunting juga diarahkan untuk memperkuat beberapa aspek krusial lainnya:

BNI percaya bahwa investasi kesehatan anak usia dini akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Stunting yang tidak ditangani sejak awal dapat menghambat perkembangan kognitif dan fisik anak, sekaligus menurunkan produktivitas mereka saat dewasa nanti.

Komitmen Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas 2045

Okki menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen BNI untuk hadir memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa sinergi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

"Berlandaskan semangat melayani sepenuh hati, BNI akan terus memperluas kontribusinya dalam mendukung pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang unggul," tutur Okki.

Menuju Indonesia Emas 2045, pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas perlu dimulai sejak usia dini. Melalui Program BNI Berbagi, perseroan berkomitmen menghadirkan program sosial yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.

Program serupa diharapkan dapat direplikasi di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi lainnya, sehingga target penurunan stunting nasional dapat tercapai lebih cepat.