Becak Listrik untuk Lansia di Bandung Makin Jarang Diminati Penumpang
Becak listrik bantuan untuk penarik becak usia 55 tahun ke atas di Bandung makin sepi penumpang karena masyarakat lebih pilih ojek online yang bisa bawa barang besar tanpa keluar rumah

Setahun terakhir, Opi (58) setiap pagi tetap berdiri di dekat Pintu Utara Stasiun Kiaracondong. Bedanya, sekarang dia mengayuh becak listrik berwarna biru muda. Alat transportasi itu digantungkan padanya lewat program bantuan pemerintah pusat lewat Kodam III/Siliwangi. Namun angka pencari tumpangan jauh menurun dari tahun ke tahun.
"Dulu sebelum covid, sehari bisa dapat lima sampai tujuh penumpang. Sekarang paling cuma satu, kadang tidak ada sama sekali," kata Opi kepada.IDN Times belum lama ini. Pengalamannya itu diamini puluhan penarik becak lain di kawasan itu.
Data terakhir menunjukkan ojek online menguasai lebih dari 60 persen perjalanan masyarakat Bandung. Angkutan mikro itu bukan hanya mengangkut orang, tapi juga barang belanjaan, paket, dan segala bentuk muatan yang dulu menjadi dominio becak. Grabmart dan Maxim sudah lebih dulu mengajarkan pelanggan bahwa bawaannya bisa diantar tanpa harus keluar rumah.
Baca Juga: 150 Ribu Rumah Tangga Bandung Butuh Perbaikan Sanitasi, Pemetaan Dimulai dari Data RW
"Orang sudah jarang pakai becak kecuali yang bawa barang banyak dari pasar atau dari toko," kata Ardi, salah satu penerima becak listrik berusia 60 tahun.
Minimnya penumpang membuat daya tarik becak listrik sebagai alat transportasi malah tidak terpakai optimal. Baterai yang harusnya dicas setiap hari cukup dicas dua hari sekali. Pengisian penuh cukup untuk dua hingga tiga hari beroperasi karena tidak ada penumpang yang diajak.
Bekal becak listrik itu memang dirancang untuk penarik usia di atas 55 tahun. Pertimbangannya, usia itu sudah tidak mudah mengayuh becak konvensional. Becak listrik mengurangi beban fisik secara signifikan. Ardi dan teman-temannya tidak perlu lagi mengeluarkan tenaga besar untuk menarik penumpang di tanjakan. Namun desain yang lebih lebar dan nyaman tidak cukup menjadi alasan masyarakat kembali menggunakan becak.
Baca Juga: Stadion Si Jalak Harupat siapkan 2.026 personel amankan Grup B FIFA ASEAN Cup 2026
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sebelumnya memastikan becak listrik tidak beroperasi seperti ojek online. Penumpang harus memesan secara konvensional dan titik operasinya akan ditentukan lewat koordinasi kecamatan. Farhan menyebut becak listrik akan diposisikan sebagai transportasi penunjang, diarahkan ke kawasan datar seperti pasar induk atau dijadikan becak wisata.
"Nanti kami akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk menentukan titik-titik operasinya," kata Farhan.
Rencana itu belum menjawab masalah utama. Yayah, salah satu penumpang setia becak di kawasan itu, menyebut desain becak listrik lebih aman dibanding becak manual karena pijakan kakinya lebih lebar. Tapi dia enggan menyebut ongkos karena sudah menjadi langganan tetap.
Minimnya penumpang membuat para penarik becak listrik ini bertahan dari tarif tetap pelanggan lama. Bukan dari gairah menarik penumpang baru. Mereka yang berusia di atas 55 tahun ini kini menghadapi pilihan sulit. Becak listrik memang gratis dan nyaman, tapi jika tidak ada yang naik, alat itu hanya jadi aset mati yang berdiri di pinggir stasiun setiap pagi.