Beban Ganda Ibu di Sekitar Karhutla: Jaga Anak dari Asap sambil Hadapi Tekanan Ekonomi
Ibu di sekitar area karhutla menghadapi tekanan ganda: menjaga anak dari asap dan menghadapi dampak ekonomi seperti pendapatan berkurang dan pengeluaran kesehatan yang melonjak

Roslina Verauli menjelaskan, ketika usaha proteksi maksimal ibu terbentur oleh lingkungan yang tak kunjung membaik, muncul perasaan tak berdaya atau learned helplessness.
Kondisi itu bukan tanpa alasan. Di tengah karhutla berkepanjangan, ibu bukan hanya menghadapi ancaman asap terhadap kesehatan anak, tetapi juga tekanan ekonomi yang ikut memburuk.
Paparan asap berkepanjangan membuat anak sakit. Anak sakit berarti salah satu atau kedua orang tua harus cuti kerja untuk menjaga. Pengeluaran untuk obat dan kebutuhan medis naik. Pendapatan justru bisa berkurang.
Baca Juga: Kebakaran di Tasikmalaya Hanguskan Rumah dan 12 Domba, Kerugian Rp250 Juta
Beban berganda inilah yang kerap tidak terlihat dalam laporan karhutla. Selama ini perhatian besar pada kualitas udara dan kesehatan fisik anak. Padahal, di rumah tangga yang terdampak langsung, tekanan psikologis ibu berjalan paralel dengan tekanan keuangan.
Dampak ekonomi karhutla pada pekerja dan pelaku usaha di sekitar area kebakaran sudah terdokumentasi. Cuti sakit anak yang berulang mengurangi produktivitas kerja. Bisnis kecil yang bergantung pada aktivitas luar ruangan kehilangan pelanggan. Biaya hidup naik karena harga kebutuhan pokok melonjak akibat distribusi terganggu.
Situasi semacam ini tidak hanya terjadi di Kalimantan. Pada 2024, Blue Fire Gunung Papandayan memicu penutupan jalur pendakian. Wisatawan yang sudah merencanakan kunjungan membatalkan rencana. Pengusaha wisata, porter, dan warung di sepanjang jalur kehilangan pendapatan selama periode penutupan.
Dalam perspektif Teori Sistem Keluarga, ibu berfungsi sebagai pengatur emosi utama di rumah. Tekanan dari luar, baik asap maupun kerugian ekonomi, secara otomatis mengalir ke pundak ibu. Roslina Verauli mengatakan, ketika sumber daya untuk menghadapi situasi berisiko minim dan pilihan terlalu sempit, tekanan psikologis yang dialami ibu bisa sangat besar.
Role overload terjadi ketika tuntutan peran melebihi kapasitas seseorang. Dalam konteks karhutla, ibu harus tetap bekerja atau mencari nafkah, menjaga anak yang sakit, memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, sekaligus berusaha mengendalikan situasi yang sebenarnya di luar kendalinya.
Peningkatan suhu di wilayah lain ikut memperburuk kondisi. Suhu 37,2 derajat di Cirebon mendorong kekhawatiran warga terhadap potensi karhutla dan krisis air bersih. Krisis air bersih berarti ibu harus menghabiskan waktu dan tenaga ekstra hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Dukungan pasangan dan keluarga terbukti efektif meringankan beban ibu. Berbagi tanggung jawab pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga mencegah akumulasi tekanan yang berujung pada parental burnout.
Namun di banyak keluarga pekerja, skema dukungan itu tidak selalu tersedia. Ketika cuti melahirkan habis dan tidak ada penitipan anak yang terjangkau, ibu kembali ke dunia kerja sambil membawa beban domestik sepenuhnya sendiri.