Banjir Sumedang: Unpad Awasi Pengerukan Sungai Cikeruh, Ini Alasannya
Unpad turun tangan memantau pengerukan Sungai Cikeruh, Sumedang, untuk mengatasi banjir. Tim dari universitas ini juga mendorong pelibatan masyarakat dan pengembangan ekonomi kreatif demi solusi banjir yang berkelanjutan.

Unpad Ambil Bagian dalam Pengawasan Pengerukan Sungai Cikeruh, Dorong Solusi Komprehensif Banjir Sumedang
Jatinangor, Jawa Barat – Penanganan masalah banjir yang terus-menerus melanda wilayah sekitar Sungai Cikeruh di Sumedang kini memasuki babak baru dengan keterlibatan aktif Universitas Padjadjaran (Unpad). Tim Pengabdian pada Masyarakat (PPM) Unpad secara langsung memantau proses pengerukan sediment trap di Sungai Cikeruh, Senin (12/1), sebagai bagian dari upaya holistik penanggulangan bencana.
Kunto Sofianto, Ketua Tim PPM Unpad, menegaskan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari program penanganan banjir yang telah dirancang, dengan fokus utama pada Desa Cikeruh dan area sekitarnya yang rutin terendam saat musim hujan. "Kami hari ini menindaklanjuti apa yang telah kita lakukan sebelumnya, yakni program penanganan banjir di sekitar Desa Cikeruh," ujar Kunto di lokasi.
Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan Temuan di Lapangan
Saat tim Unpad tiba di lokasi, Pemerintah Kabupaten Sumedang ternyata sedang giat melaksanakan pengerukan sedimen sebagai bagian dari normalisasi Sungai Cikeruh. Kunto menyampaikan apresiasinya, "Kami terjun langsung ke wilayah sediment trap Sungai Cikeruh dan alhamdulillah Pemkab Sumedang sedang melaksanakan pengerukan di kawasan ini."
Upaya pengerukan ini tidak lepas dari koordinasi yang intensif antara Tim PPM Unpad dan pemerintah daerah. Sebelumnya, pada November 2025, tim Unpad telah melakukan kunjungan ke Bappeda Sumedang dan berdiskusi dengan staf Dinas Pekerjaan Umum Sumedang, yang lantas merespons positif kebutuhan mendesak akan pengerukan sedimentasi sungai.
Pentingnya Pelibatan Masyarakat dan Potensi Ekonomi Lokal
Lebih dari sekadar solusi teknis, Unpad menyoroti krusialnya pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sediment trap. Kunto mengungkapkan bahwa selama ini kawasan tersebut belum terkelola secara optimal karena absennya sistem pengelolaan berbasis komunitas. "Kami memastikan warga di wilayah Sungai Cikeruh ini juga bisa terakomodasi dalam pengelolaan sediment trap," tambahnya.
Sediment trap, menurut Kunto, memiliki potensi ekonomi yang belum tergarap jika dikelola secara kreatif oleh warga sekitar. Informasi dari masyarakat menunjukkan bahwa belum ada pola perawatan yang jelas yang melibatkan mereka. "Di wilayah sediment trap ini, warga sebenarnya bisa mengelola kawasan agar menghasilkan secara ekonomi. Potensi itu ada, tetapi belum tergarap," jelasnya.
Pelibatan masyarakat tidak hanya akan memperkuat fungsi pengendalian banjir, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi kreatif lokal. Dengan demikian, perawatan sediment trap dapat berlangsung lebih berkelanjutan karena dilakukan langsung oleh warga yang merasakan manfaatnya.
Tim PPM Unpad berharap dapat memacu dan mendukung pelaku ekonomi kreatif di kawasan tersebut, menciptakan sinergi antara mitigasi bencana dan peningkatan kesejahteraan. "Kami ingin ikut mendorong dan memajukan para pelaku ekonomi kreatif di kawasan ini," pungkas Kunto. Pendekatan komprehensif ini diharapkan dapat menjadi model bagi penanganan masalah serupa di daerah lain, menciptakan solusi yang tidak hanya efektif namun juga berkelanjutan secara sosial dan ekonomi.
_(Terakhir diperbarui: Rabu, 14 Januari 2026 - 05:38 WIB)_