Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

‘Bahenol’ di Sumedang Rubuh Lantaran Lapuk Dimakan Usia

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan · · Diperbarui 2 Maret 2026

Bangunan Sanggar Bahenol di Desa Naluk Sumedang rubuh akibat usia dan kurang perawatan. Pengelola telah berulang kali mengajukan bantuan pemerintah tapi tidak diterima, sementara Pemdes mengatakan dana terbatas untuk kebutuhan lain seperti warga sakit.

‘Bahenol’ di Sumedang Rubuh Lantaran Lapuk Dimakan Usia

Latar Belakang Sanggar Bahenol yang Sekarang Rubuh

Sanggar Bahenol, sebuah pusat kegiatan kesenian di Desa Naluk, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, telah berdiri selama delapan tahun. Dibangun dari bambu dengan ukuran sekitar 6x5 meter persegi, sanggar ini sempat menjadi tempat berkumpulnya seniman lokal untuk latihan dan pertunjukan. Namun, kini kondisinya memprihatinkan—bangunan tersebut telah rubuh total akibat usia yang tua dan kurangnya perawatan yang konsisten.

Perjuangan Pengelola Tanpa Bantuan Pemerintah yang Konsisten

Ketua Sanggar Bahenol, Ono Juarna (dikenal akrab sebagai Oneng), mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan proposal bantuan ke pemerintah, namun tidak pernah mendapatkan tanggapan positif.

"Sudah sering mengajukan proposal supaya dapat bantuan dari pemerintah, namun hasilnya tetap tidak ada," ujar Oneng kepada Radar Sumedang baru-baru ini.

Pengasuh sanggar, Kokoy Rokayah (panggilan akrab Bunda Lisfhi), menambahkan bahwa pihaknya hanya pernah menerima dana kecil dari kepala desa saat tampil dalam acara pasanggiri. "Kalau dikasih Rp300 ribu, Rp500 ribu itu pernah kami terima dari pak Kuwu saat tampil. Tapi kalau peralatan kesenian dan untuk pemeliharaan bangunan sanggar kami tidak pernah menerima dari pemerintah. Sudah sering mengajukan bantuan, tapi tak ada hasilnya, sampai kami bosan," jelasnya.

Selama ini, semua biaya untuk kegiatan kesenian di sanggar berasal dari dana pribadi pengelola dan anggota. Tanpa bantuan eksternal, perawatan bangunan yang terbuat dari bambu menjadi hal yang sulit dilakukan secara rutin.

Respons Pemerintah Desa Terkait Bantuan untuk Sanggar Bahenol

Kepala Desa Naluk, Engkus Kusnadi, mengakui bahwa pihaknya belum dapat memberikan bantuan untuk pembangunan atau perawatan Sanggar Bahenol. Menurutnya, dana yang dimiliki oleh Pemdes terbatas dan harus diprioritaskan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

"Karena masih ada warga yang masih harus dibantu, terutama yang sakit," ungkap Kades Engkus.

Ia menambahkan bahwa pihaknya telah membantu dalam bentuk dana kecil untuk kegiatan pertunjukan sanggar, namun tidak mampu memberikan dukungan yang lebih besar untuk pemeliharaan bangunan.

Dampak Rubuhnya Bangunan terhadap Kegiatan Kesenian Lokal

Setelah bangunan Sanggar Bahenol rubuh, kegiatan kesenian di desa tersebut tidak dapat berjalan maksimal. Sekarang, anggota sanggar harus melakukan latihan di halaman rumah masing-masing, yang tidak memungkinkan untuk melakukan latihan secara bersama-sama dengan lancar.

Pengelola sanggar berharap bahwa nanti ada dana yang tersedia untuk membangun kembali sanggar tersebut. Selain itu, mereka juga membutuhkan peralatan kesenian baru sebagai inventaris, yang selama ini juga dibeli dari dana pribadi.

Analisis Tantangan Pelestarian Kesenian Lokal di Daerah Pedesaan

Kasus Sanggar Bahenol tidaklah unik di daerah pedesaan Jawa Barat. Banyak sanggar kesenian lokal menghadapi tantangan serupa: kurangnya dukungan pemerintah, dana terbatas, dan infrastruktur yang tidak terawat. Pelestarian kesenian lokal adalah bagian penting dari identitas budaya daerah, namun seringkali menjadi prioritas kedua dibandingkan kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan pihak swasta. Beberapa solusi yang dapat dilakukan antara lain:

Dengan dukungan yang konsisten, sanggar kesenian lokal seperti Bahenol dapat terus berperan dalam melestarikan budaya daerah dan menjadi tempat berkembangnya bakat seniman lokal.