Arfiani Rizki Paramata Ikut Program Marikultur Kementerian Sains Tiongkok, Satu dari 20 Peserta Tujuh Negara
Arfiani Rizki Paramata menjadi satu dari 20 peserta dari tujuh negara dalam program marikultur Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok di Qingdao.

Arfiani Rizki Paramata kembali mengikuti program internasional yang digelar Kementerian Sains dan Teknologi Republik Rakyat Tiongkok. Ia menjadi satu dari 20 peserta terpilih yang datang dari tujuh negara. Kegiatan berlangsung 19 Oktober sampai 2 November 2026 di Qingdao, Tiongkok.
Program itu bertema Belt and Road International Program on Mariculture Technologies. Isinya soal pengembangan teknologi budidaya organisme laut. Keikutsertaannya ditandai dengan sertifikat penyelesaian program yang diterbitkan penyelenggara.
Kesempatan ini tidak dibuka untuk umum. Kuota 20 orang dari tujuh negara membuat seleksinya ketat. Bagi Arfiani, undangan kedua kalinya itu bukan hal biasa. Ia menyebutnya sebagai kesempatan istimewa yang memberi ruang memperdalam kapasitas keilmuan.
Baca Juga: MilkLife Strikers Juara Singa Cup 2026 Girls U12 usai Tekuk Selangor FC Academy 2-1 di Final
Penyelenggara menanggung fasilitas peserta selama kegiatan. Dukungan itu membuat peserta bisa berkonsentrasi pada pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan pembangunan jejaring profesional. Ia menilai manfaat terbesarnya bukan pada fasilitas, melainkan pada tiga hal yang ia bawa pulang.
Kesempatan ini memberi saya ilmu baru, rekan dari berbagai negara, serta pengalaman yang memperkaya perjalanan profesional.
Tiga hal itu adalah pengetahuan baru, jejaring internasional, dan pengalaman kerja sama lintas negara. Peserta datang dari Rusia, Ekuador, Bangladesh, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Perbedaan bahasa dan kebiasaan tidak menghalangi mereka berdiskusi soal masa depan sains dan teknologi.
Baca Juga: Polri Tetapkan Listyo Sigit dan Dua Jenderal Tersangka Penyadapan Nomor Prabowo
Arfiani juga memakai forum itu untuk memperkenalkan daerah asalnya, Gorontalo. Ia mengajak peserta lain berkunjung dan mengenal kebudayaan setempat. Baginya, membawa nama daerah ke forum internasional merupakan bagian dari pengenalan potensi Indonesia.
Relevansi untuk Daerah Pesisir
Isi program menyentuh marikultur, yaitu teknologi budidaya ikan laut, rumput laut, kerang, dan sumber daya hayati perairan lain. Bagi provinsi dengan garis pantai panjang seperti Jawa Barat, bidang ini bersinggungan langsung dengan penghidupan warga pesisir. Pantai selatan Jabar dan kawasan pesisir utara menjadi contoh wilayah yang menggantungkan sebagian ekonomi warganya pada hasil laut.
Persoalan yang dihadapi pembudidaya di sana bukan hal baru. Produktivitas tambak dan keramba sering terganggu cuaca, kualitas air, dan harga jual yang berfluktuasi. Teknologi budidaya yang lebih efisien dibutuhkan agar hasil panen tidak bergantung pada musim semata.
Karena itu, penguasaan teknologi marikultur oleh tenaga ahli Indonesia dinilai penting. Pengetahuan itu bisa diadaptasi sesuai karakteristik perairan lokal. Program semacam ini juga membuka peluang kerja sama riset antara lembaga dalam negeri dan mitra luar negeri.
Pengalaman lintas negara seperti ini bukan yang pertama bagi peneliti Indonesia. Pertukaran pengetahuan melalui forum internasional sudah berlangsung di berbagai bidang, termasuk olahraga dan industri kreatif. Sebagai contoh, pemain Persib Bandung Marc Klok kembali ke pemusatan latihan di Bali setelah menjalani dua laga bersama timnas, rutinitas yang menunjukkan bagaimana pengalaman internasional dibawa kembali ke lingkungan kerja harian.
Hal serupa terjadi di sektor usaha. Program BERGEMA yang digelar JNE untuk Ramadan memperlihatkan bagaimana perusahaan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan musiman warga. Di bidang budaya, perjalanan Manshur Angklung dari panggung pernikahan ke pentas dunia menjadi contoh lain bagaimana kapasitas lokal bisa menembus jaringan internasional.
Yang Berubah untuk Warga
Dampak langsung program ini bagi warga Bandung dan Jabar memang tidak serta-merta terasa minggu ini. Hasilnya berjangka panjang dan bergantung pada seberapa jauh ilmu yang dibawa bisa diterapkan di lapangan. Yang bisa dicatat, kapasitas tenaga ahli dalam negeri bertambah satu orang lagi.
Melampaui ilmu pengetahuan, pertukaran budaya dan jejaring global yang membuat perjalanan ini berkesan.
Jejaring yang terbentuk di Qingdao berpotensi membuka kolaborasi riset lanjutan. Bila kolaborasi itu menyentuh pengembangan budidaya laut, daerah pesisir Jabar punya peluang mendapat akses pengetahuan dan teknologi yang selama ini terkonsentrasi di negara maju.
Sertifikat penyelesaian program sudah diterbitkan. Yang tersisa adalah pekerjaan panjang setelahnya, yakni mengubah pengetahuan itu menjadi praktik yang bisa dipakai pembudidaya di kampung-kampung pesisir.