Anggaran Rp300 Miliar APBD 2026 untuk Perbaikan Jalan Kota Bandung
Pemkot Bandung mengalokasikan Rp300 miliar APBD 2026 untuk perbaikan dan perawatan jalan, dengan tahapan pengerjaan mulai dari perbaikan drainase hingga overlay malam hari untuk mengurangi gangguan lalu lintas warga.

Kota Bandung menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp300 miliar dari APBD 2026 untuk perbaikan dan perawatan infrastruktur jalan, guna mengatasi permasalahan mobilitas yang sering terganggu akibat kerusakan jalan. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Rizki Kusrulyadi, mengkonfirmasi rencana ini dalam wawancara pada Kamis (7/5/2026).
Rincian Anggaran dan Jenis Pekerjaan
Tidak seluruh anggaran digunakan untuk menambal jalan berlubang, melainkan mencakup tiga kategori pekerjaan utama: perbaikan skala besar, pemeliharaan berkala kontraktual, dan pemeliharaan rutin. Rizki menjelaskan, pemeliharaan berkala bersifat kontraktual dan dilaksanakan dalam paket pekerjaan terstruktur. Tahap pertama tahun 2026 awalnya mencakup sepuluh ruas jalan, namun satu paket dinyatakan gagal lelang sehingga jumlah paket yang berjalan berkurang.
Dari sisa paket, satu pekerjaan telah selesai sepenuhnya di kawasan Jalan Sunda, sementara tujuh ruas lainnya sedang dalam tahap pengerjaan awal di lapangan. Ruas jalan yang sedang dalam proses pengerjaan meliputi kawasan Taman Sari, Siliwangi–Sulanjana, Dago, Wastu Kencana, Cihampelas, Sukaraja hingga Gunung Batu.
Baca Juga: Staf Administrasi RSUD Dr. Soekardjo Diduga Hina Pasien BPJS yang Sempat Keluhkan Waktu Tunggu 8 Jam
Tahapan Pekerjaan yang Teliti
Pekerjaan perbaikan jalan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui tahapan yang terstruktur untuk memastikan kualitas hasil. Rizki menekankan bahwa tahapan awal tidak langsung melibatkan pengaspalan jalan. Sebaliknya, tim pertama akan fokus pada pembenahan saluran drainase dan perbaikan struktur dasar jalan sebelum melanjutkan ke tahap finalisasi overlay aspal.
"Berprogres itu bukan berarti langsung diaspal. Ada tahapan awal pengerjaan di lapangan, mulai dari perbaikan saluran terlebih dahulu, baru nanti overlay sebagai tahap finalisasi," ujar Rizki.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan jalan berulang akibat masalah drainase yang tidak teratasi.
Strategi Mengurangi Gangguan Aktivitas Warga
Salah satu perhatian utama dalam pelaksanaan pekerjaan adalah meminimalkan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari warga. Untuk itu, tahap overlay aspal akan dilakukan pada malam hari ketika arus lalu lintas lebih lengang. Rizki menjelaskan:
"Kalau overlay pasti dilakukan malam hari karena lalu lintas tidak sepadat siang hari, sehingga mobilitas warga tidak terlalu terganggu."
Selain itu, cuaca menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan dalam proses pengaspalan. Campuran aspal hotmix tidak boleh terkena terlalu banyak air, karena dapat mengurangi daya rekat material dan menurunkan kualitas akhir pekerjaan.
Baca Juga: Dukcapil: 34,7 Juta Penduduk Indonesia Berzodiak Cancer, Terbanyak dari Semua Zodiak
Pemeliharaan Rutin sebagai Pendukung Pekerjaan Besar
Selain pekerjaan kontraktual skala besar, DSDABM juga terus menjalankan program pemeliharaan rutin melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di lapangan. Pekerjaan ini fokus pada penanganan kerusakan ringan seperti retak dan lubang kecil yang bisa diperbaiki segera tanpa membutuhkan anggaran besar. Rizki menjelaskan perbedaan antara kedua jenis pekerjaan:
"Kalau untuk penghamparan skala besar tentu membutuhkan biaya besar dan dilakukan melalui kontrak pekerjaan. Sedangkan yang rutin dilakukan teman-teman UPT biasanya untuk penanganan retak dan lubang."
Program pemeliharaan rutin ini bertujuan untuk mencegah kerusakan jalan semakin parah dan mengurangi kebutuhan akan perbaikan skala besar di masa depan.
Rencana Tahap Selanjutnya
Selain tahap pertama, Pemkot Bandung telah menyiapkan rencana pekerjaan untuk tahap kedua dan ketiga. Tahap kedua mencakup sebelas paket pekerjaan, sedangkan tahap ketiga meliputi 12 hingga 13 paket pekerjaan lainnya. Alokasi anggaran untuk tahap selanjutnya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan tahap pertama.
Alokasi anggaran Rp300 miliar ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas infrastruktur jalan di Kota Bandung, mengurangi gangguan lalu lintas, dan mendukung mobilitas warga sehari-hari. DSDABM akan terus memantau progres pekerjaan untuk memastikan setiap tahap dilaksanakan sesuai jadwal dan standar kualitas yang ditetapkan.