Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

APeksi Muda Ajak Anak Muda Kembangkan Budaya Lokal jadi Sumber Ekonomi Kreatif

Bandung · Oleh ·

Forum APEKSI Muda di Singkawang mengajak anak muda mengembangkan budaya lokal jadi ekonomi kreatif. Peserta diajak mengenali kota lewat cerita warga dan walking tour.

APeksi Muda Ajak Anak Muda Kembangkan Budaya Lokal jadi Sumber Ekonomi Kreatif

Forum APEKSI Muda yang diselenggarakan di Singkawang pada 15-17 Oktober 2026 menempatkan generasi muda sebagai garda depan pelestarian budaya.

Forum Rembuk Kebudayaan Kota Kita ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah kota, dan berbagai pemangku kepentingan dengan tema "Menolak Lupa, Menolak Runtuh, Menolak Punah". APEKSI Muda: Cerita Kota Cerita Kita menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperluas keterlibatan generasi muda.

Sesi Participatory Urban Storytelling dan Warga Muda Walking Tour mengajak peserta dari Singkawang, Pontianak, dan sekitarnya untuk mengenali kota melalui pengalaman serta cerita warga. Mereka mengunjungi Masjid Raya, vihara, dan Rumah Marga Tjia.

Baca Juga: Bek Pengganti Julio Cesar Cetak Gol Penentu, Persib Bandung Petik Tiga Poin dari Persik Kediri

"Kita mendapatkan insight inter-city, jalan, saling bertukar pikiran, belajar tentang konsep kota yang profesional dengan cara dan pembawaan yang gen-z banget. Hal yang berat diolah jadi hal yang enak dibicarakan dengan gaya orang muda," kata seorang peserta.

Peserta lainnya mengatakan kegiatan ini membuka mata mereka tentang kota sendiri. "Sebagai orang muda kota Singkawang, kegiatan ini sangat membuka mata saya tentang kota saya sendiri," katanya.

Gerakan ekonomi kreatif berbasis budaya sudah hidup di Bandung dan Jawa Barat. Anak muda Bandung mengembangkan kain tenun, angklung, dan wayang golek menjadi sumber mata pencaharian. Mereka yang tertarik punya peluang memanfaatkan forum-forum seperti APEKSI untuk memperluas jaringan dan pengetahuan.

Baca Juga: Tiga Tersangka Pen谋杀 di Tol Bocimi KM 69 Dibekuk Usai Melarikan Diri ke Bandung

APEKSI Muda yang mempertemukan delapan kota ini jadi bukti bahwa kolaborasi antarkota bisa memperkuat peran anak muda dalam ekonomi kreatif. Pengalaman dari gebyar budaya di Garut bisa jadi referensi untuk kota-kota lain. Porprov XV Jawa Barat 2026 juga menunjukkan bahwa event besar bisa mendongkrak ekonomi lokal melalui sektor kreatif.

Budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi bisa menjadi kekuatan ekonomi kreatif. Eri Cahyadi, Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, menegaskan bahwa kebudayaan berperan sebagai pemersatu masyarakat sekaligus penggerak ekonomi.

"Budaya merupakan pemersatu dan penggerak ekonomi. Budaya juga dapat menjadi kekuatan kota, di mana kota yang kuat tidak akan melupakan budaya dan sejarahnya," katanya.

Tjhai Chui Mie, Wali Kota Singkawang, mengingatkan bahwa pelestarian budaya harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan. "Ini bukan sekadar jargon atau pemanis, tapi panggilan jiwa, call to action. Kalau warisan kebudayaan kota hilang, kota itu mati!" katanya. Ia juga menekankan bahwa budaya hadir di ruang-ruang pendidikan, bukan sekadar di panggung.

Fadli Zon, Menteri Kebudayaan yang hadir secara daring, menilai pemerintah kota memiliki posisi strategis untuk mengembangkan potensi ekonomi dari karakter budaya lokal. "Ketika sumber daya alam dan industri manufaktur tidak selalu menjadi tumpuan ekonomi, kebudayaan dapat menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus memperkuat karakter masyarakat," katanya.

Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, menyoroti bahwa masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif lokal perlu memiliki kendali atas nilai intelektual yang lahir dari kebudayaan mereka. "Warisan kota bukan sekadar artefak masa lalu. Warisan budaya adalah sumber termahal kita. Tantangan kita adalah mengubah identitas budaya ini menjadi nilai tambah ekonomi tanpa menghilangkan kekhasan dan keahliannya," katanya. Manfaat ekonomi dari produk dan karya kreatif diharapkan kembali secara adil kepada komunitas yang menjaga tradisi.

Forum Rembuk Kebudayaan mempertemukan delapan kota untuk berbagi pengalaman mengelola ekosistem kebudayaan di daerah mereka. Delegasi dari berbagai kota bertukar praktik terbaik dalam Forum Koordinasi Kebudayaan.