Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

50 Anak Sukabumi Pentaskan Teater Musikal Penuh Makna tentang Kesehatan Mental

Jabar · Oleh · · Diperbarui 4 Agustus 2026

Sekitar 50 anak di Sukabumi tampil dalam teater musikal Where Did the Lights Go?, menggabungkan seni dan edukasi kesehatan mental lewat cerita penuh makna.

50 Anak Sukabumi Pentaskan Teater Musikal Penuh Makna tentang Kesehatan Mental

Pertunjukan Spektakuler di Gedung Juang '45 Sukabumi

Gedung Juang '45 Kota Sukabumi mendadak ramai dan penuh warna pada Senin (22/6/2026). Desain panggung disulap apik dengan dekorasi kastel putih puitis serta pepohonan hijau raksasa di sudutnya. Namun, yang membuat pertunjukan ini begitu mencuri perhatian adalah puluhan anak-anak kreatif yang tampil dengan kostum unik, mengadu akting, dan memamerkan kelincahan olah vokal mereka.

Pementasan bertajuk "Where Did the Lights Go?" ini digagas oleh Ideu Theatre Company, kolaborasi dengan Global Islamic Bilingual School, dan dukungan dari Indonesia Kaya. Totalitas puluhan anak ini banjir pujian dari penonton yang hadir memadati gedung pertunjukan.

Baca Juga: Paman Bacok Keponakan hingga Tewas di Warung Banyuresmi, Ancam 10 Tahun Penjara

"Akting anak-anaknya mengalir banget dan kelihatan profesional sekali untuk usia mereka. Ditambah lagi set pertunjukan, tata pencahayaan yang dramatis, serta latar musik yang spektakuler bikin pementasan ini terasa megah dan bikin takjub dari awal sampai akhir," tutur Mawar, salah seorang penonton yang hadir bersama keluarganya.

Kisahkan Negeri Cahaya yang Kehilangan Cahayanya

Cerita dalam musikal ini berjalan sangat puitis dan penuh fantasi. Mengambil latar di 'Negeri Cahaya', kehidupan yang awalnya terang benderang dan penuh keceriaan mendadak berubah redup. Penyebabnya, Sepatu Cahaya milik para Penjaga Cahaya hilang secara misterius.

Baca Juga: Danantara Setuju Tagihan Utang KCIC Ditanggung Kemenkeu, Bukan Lagi di Laporan Investasi

Mau tak mau, para Penjaga Cahaya kecil ini harus mengumpulkan keberanian untuk masuk ke 'Hutan Gelap' demi mengembalikan cahaya mereka. Hutan tersebut selama ini selalu dianggap sebagai tempat yang asing dan menyeramkan dalam imajinasi mereka.

Petualangan menembus Hutan Gelap membawa para Penjaga Cahaya bertemu dengan Raja Raksasa. Karakter yang selama ini dicap menakutkan itu ternyata menyimpan luka emosional yang mendalam. Di balik tubuh besarnya, ia hanyalah sosok rapuh yang hidup dalam kesepian karena terasing dari lingkungannya.

Misi Pendidikan Karakter Melalui Seni Pertunjukan

Den Aslam selaku sutradara menjelaskan bahwa konsep Hutan Gelap dan Raja Raksasa ini adalah simbol dari wilayah batin anak-anak yang sering kali dipendam sendiri.

"Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga bahasa untuk memahami perasaannya sendiri. Kami ingin anak-anak belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan, kadang keberanian adalah mendekat, mendengar, dan memahami," tegas Den Aslam.

Konsep ini sejalan dengan berbagai riset yang menunjukkan bahwa ekspresi artistik seperti teater dapat menjadi media efektif untuk membangun kecerdasan emosional anak. Melalui cerita yang menyentuh ini, anak-anak diajak untuk:

Totalitas 50 Pemain Cilik Asal Sukabumi

Alur cerita yang menyentuh tersebut dibawakan dengan sangat natural oleh sekitar 50 anak-anak yang terlibat. Enam anak di antaranya dipercaya menjadi pemeran utama dengan dialog teatrikal yang matang. Sementara sisanya sukses mencuri perhatian lewat peran pendukung menggunakan kostum flora dan fauna yang menggemaskan.

Tampil menawan di atas panggung tentu tidak didapat secara instan. Selama berbulan-bulan masa persiapan, puluhan anak-anak ini melewati proses kreatif yang panjang. Mereka tidak hanya digembleng soal teknik bermain peran, olah vokal, dan olah tubuh saja. Lebih dari itu, proses latihan intensif ini juga melatih kepribadian mereka agar tumbuh menjadi:

Seni sebagai Wadah Edukasi Kesehatan Mental Anak

Teater musikal "Where Did the Lights Go?" membuktikan bahwa seni bisa menjadi media yang efektif untuk menyebarkan pesan persahabatan dan pentingnya memahami kesehatan mental sejak dini. Lewat pementasan ini, penonton tidak hanya disuguhi hiburan semata, tetapi juga mendapatkan refleksi berharga tentang cara mensyukuri cahaya dalam kehidupan.

Kolaborasi antara Ideu Theatre Company, Global Islamic Bilingual School, dan Indonesia Kaya ini menunjukkan bahwa investasi dalam pendidikan seni anak memiliki dampak yang jauh lebih besar dari sekadar kemampuan teknis di atas panggung. Para pemain cilik asal Sukabumi ini berhasil menginspirasi bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk menyampaikan pesan bermakna melalui panggung seni.

Dengan semangat juang dan kreativitas yang ditunjukkan, masa depan perfilman dan teater Indonesia sesungguhnya bergantung pada generasi-generasi muda seperti mereka yang siap menerangi panggung pertunjukan dengan cahaya mereka sendiri.