32 Penyintas Longsor Cisarua Terima Bantuan Relokasi Rp60 Juta Per KK dari Pemda KBB
32 penyintas longsor Cisarua Bandung Barat terima bantuan relokasi Rp60 juta per KK dari Pemda KBB. Total anggaran lebih dari Rp1,9 miliar.

Rusmiyati dan keluarganya bakal tetap mengontrak rumah selama beberapa bulan ke depan. Bantuan uang dari pemerintah belum cukup untuk membangun rumah baru dari tanah yang masih harus ia cari sendiri.
Hampir sembilan bulan setelah longsor menerjang Kampung Pasir Kuning, RT 05/RW 11, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rusmiyati akhirnya menerima bantuan relokasi. Nilainya Rp60 juta untuk satu kepala keluarga.
"Alhamdulillah akhirnya setelah menunggu lama, uang bantuan diterima. Nominalnya Rp60 juta itu untuk 1 KK," kata Rusmiyati saat ditemui, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga: Sopir Angkot di Batujajar Diduga Paksa Minta Uang Lalu Hancurkan Spion Mobil Tim Rabbani
Pemda KBB Gelontorkan Rp1,9 Miliar untuk 32 KK
Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat mengalokasikan lebih dari Rp1,9 miliar untuk relokasi korban longsor di Cisarua. Bantuan itu mencakup 32 kepala keluarga yang rumahnya hancur akibat bencana di akhir Januari 2026 lalu.
"Hari ini kita salurkan anggarannya per KK itu sekitar Rp60 juta, untuk total penerimanya ada 32 KK. Jadi total Rp1,9 miliar lebih," kata Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.
Skema yang dipakai adalah relokasi mandiri. Artinya, penerima bantuan sendiri yang menentukan lokasi untuk hunian baru mereka, bukan ditempatkan di satu area oleh pemerintah.
"Jadi ini relokasi mandiri, sesuai dengan yang kita bahas dan sesuai permintaan masyarakat. Semua sepakat relokasi mandiri, jadi biar bantuannya dalam bentuk uang saja," terang Jeje.
Bantuan uang dipilih karena masyarakat menolak relocate kolektif ke lokasi yang jauh dari kampung asli mereka. 10.044 Kilogram Beras Cadangan Pemerintah Disalurkan untuk 558 Penyintas Longsor Cisarua
Rp60 Juta Kurang untuk Bangun Rumah dari Nol
Rusmiyati sudah menentukan lokasi baru untuk rumahnya. Ia memilih kampung tetangga yang masuk zona aman dari ancaman longsor awal tahun 2026. Pertimbangannya sederhana, suaminya masih bekerja sebagai petani sayur di lahan dekat lokasi lama.
"Masih satu desa, cuma lokasinya agak jauh dari longsor kemarin. Soalnya suami kan kerja di kebun sayur, jadi kuli di lahan orang. Enggak bisa pindah jauh-jauh dari sini," kata Rusmiyati.
Kendati bersyukur mendapat bantuan, Rusmiyati mengakui nominal Rp60 juta belum cukup untuk memiliki hunian baru. Ia masih harus membeli tanah terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan.
"Ya kalau untuk membangun rumah dari nol sampai selesai, dengan uang Rp60 juta nggak akan cukup. Kan saya harus beli tanah, terus membangun rumahnya. Tapi alhamdulillah itu sangat membantu kami, segitu juga ada perhatian dari pemerintah," lanjut Rusmiyati.
Bantuan dari BNPB sebelumnya memastikan 48 rumah terdampak longsor Cisarua direlokasi. Namun angka di lapangan menunjukkan hanya 32 KK yang menerima bantuan uang dari Pemda KBB. Sisanya kemungkinan masuk program berbeda atau belum memenuhi syarat.
Kontrakan dan Sembako untuk Kebutuhan Sehari-hari
Sampai rumahnya selesai dibangun, Rusmiyati dan keluarga tetap bertahan di rumah kontrakan. Pemda KBB menanggung biaya kontrak Rp600 ribu per bulan,加上提供日常必需品。
"Ya masih tinggal di kontrakan dulu, masih ada beberapa bulan lagi. Setiap bulan dikasih sama Pemda KBB itu uang Rp600 ribu untuk ngontrak, sama sembako juga," jelas Rusmiyati.
Bantuan bulanan ini menjadi penyelam hidup bagi keluarga yang kehilangan sumber penghasilan tetap akibat bencana. PERSIB dan Dompet Dhuafa pernah membantu penyintas longsor Cisarua di masa awal tanggap darurat, menunjukkan koordinasi pentahelix antara pemerintah, militer, dan komunitas dalam penanganan korban.