10.044 Kilogram Beras Cadangan Pemerintah Disalurkan untuk 558 Penyintas Longsor Cisarua
558 penyintas longsor Cisarua Bandung Barat terima 10.044 kg beras Cadangan Pangan Pemerintah Daerah Oktober 2026, sementara rumah hilang dan lahan ekonomi mereka masih menunggu solusi relokasi.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyerahkan 10.044 kilogram beras Cadangan Pangan Pemerintah Daerah kepada penyintas longsor Cisarua di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Oktober 2026.
Bencana itu terjadi di Gunung Burangrang pada Januari 2026. Material longsoran menewaskan 13 anggota keluarga Teti, termasuk kedua orang tuanya. Teti tinggal di rumah berbeda saat itu, hanya bersama suami dan anak-anaknya, sehingga ia selamat.
Sebanyak 558 jiwa menerima distribusi beras tersebut. Mereka tinggal di zona terdampak yang kini harus menata ulang kehidupan dari awal.
"Kita salurkan sebanyak 10.044 kilogram beras cadangan pemerintah daerah untuk 558 jiwa terdampak," kata Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Jumat (9/10/2026). Ia menjelaskan pihaknya memprioritaskan kebutuhan para penyintas bukan hanya saat bencana, tapi juga setelahnya.
Beras yang dibagikan itu warga terima setelah berjam-jam antre di halaman Desa Pasirlangu. Antrian berjalan teratur sementara matahari bersinar terik di kawasan wisata Cisarua yang biasanya ramai visitante.
Kehilangan rumah masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menjanjikan program relokasi, namun detail dan jadwalnya belum bisa dihubungi.
Baca Juga: Rohto Laboratories Bagikan 2.000 Kacamata Gratis untuk Siswa dan Lansia di Bandung
"Ya kita akan salurkan bantuan nanti untuk relokasi, nanti akan kita sampaikan perkembangannya," kata Jeje.
Selain kebutuhan tempat tinggal, keberlangsungan ekonomi para penyintas juga masih menggantung. Teti menyebut ia belum mendapat pekerjaan tetap sejak bencana terjadi.
Lahan perkebunan sayur yang biasa ia garap kini tertimbun material longsoran. Ia belum memutuskan kapan bisa mengolah lahan kembali karena sumber air masih sulit dijangkau.
"Ya bingung, mungkin nanti mau ngegarap lahan lagi. Cuma kan sekarang lagi kemarau, sumber airnya juga susah," kata Teti.
Perkebunan sayur itu menjadi salah satu sumber penghasilan utama warga di kawasan Cisarua sebelum bencana melanda. Aktivitas pertanian mereka kini lumpuh sementara para penyintas masih menghadapi ketidakpastian tentang masa depan ekonomi mereka.
Proses pemulihan ini bukan hanya soal makanan sehari-hari. Para penyintas butuh kejelasan soal tempat tinggal tetap, akses ekonomi, dan jaminan keamanan mereka di wilayah yang pernah dilanda gerakan tanah.