10.771 ODHA di Bandung sejak 1991: Walkot Farhan Tegas Perangi Stigma Demi Zero HIV 2030
10.771 kasus HIV/AIDS kumulatif di Bandung sejak 1991. Walkot Farhan tegas perangi stigma dan targetkan zero new HIV 2030 dengan edukasi dan identifikasi titik rawan.

Lonjakan ODHA di Bandung Sejak 1991 hingga 2026
Kota Bandung menghadapi tantangan serius dalam penanggulangan HIV/AIDS. Data terkini menunjukkan bahwa secara kumulatif, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di kota ini telah mencapai 10.771 kasus sejak pertama kali teridentifikasi pada 1991 hingga Mei 2026. Angka ini menjadi peringatan bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk mengambil langkah konkret dalam menekan penyebaran virus berbahaya tersebut.
Kata Kunci "Wisata Seks" yang Mengkhawatirkan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan keprihatinannya setelah menemukan hasil pembacaan aplikasi yang menunjukkan kata kunci pencarian wisata Kota Bandung di media sosial mengarah pada praktik yang tidak sehat. Ia menyoroti berbagai istilah yang muncul berkaitan dengan wisata seks, termasuk praktik-praktik yang berisiko tinggi.
"Dari hasil bacaan aplikasi kata kunci tentang wisata Kota Bandung, kata kunci Kota Bandung adalah wisata seks. Ini tidak hanya heteroseksual, dari itu juga ada homoseksual, ada swingers atau bertukar pasangan, sampai wisata seks pedofilia," jelas Farhan.
Prevalensi Penularan HIV Melalui Hubungan Seksual Tidak Aman
Berdasarkan data yang dipaparan kepada orang nomor satu di Kota Bandung tersebut, prevalensi penularan HIV melalui hubungan heteroseksual yang tidak aman mencapai sekitar 38 persen. Farhan menjelaskan bahwa tingkat prevalensi ini selalu dinamis sejak pertama kali kasus ditemukan.
Pola penyebaran HIV terus berubah dari waktu ke waktu. Selain penularan melalui hubungan seksual, kasus juga ditemukan pada anak yang lahir dari pasangan dengan HIV/AIDS. Di sisi lain, risiko penularan melalui transfusi darah di Kota Bandung disebut nyaris tidak ada karena proses penyaringan darah oleh Palang Merah Indonesia (PMI) dilakukan secara disiplin.
"Dari PMI Bandung tingkat risiko prevalensi HIV/AIDS di transfusi darah ini nol, karena kedisiplinan dan ini jadi patokan bersama," tegas Farhan.
Upaya Identifikasi dan Pencegahan Tanpa Stigma
Farhan menegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh disertai stigma maupun diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Pemerintah hanya berfokus pada pencegahan perilaku yang berisiko menularkan HIV. Ia telah meminta Satpol PP dan Dinas Sosial untuk mengidentifikasi titik-titik praktik prostitusi di Kota Bandung sebagai bagian dari upaya pencegahan.
"Yang mereka lakukan itu stigmatisasi, ini yang harus dihindari oleh pemkot Bandung sampai ke kewilayahan. Maka saya minta ke Satpol PP dan Dinsos untuk identifikasi titik PSK transpuan, sekali dengan PSK perempuan maupun PSK laki-laki. Di Bandung ada seperti itu," terang Farhan.
Target Zero New HIV dan Zero Stigma 2030
Pemerintah Kota Bandung terus berupaya mengurangi angka ODHA dengan berbagai program hingga pembentukan aturan. Farhan menegaskan bahwa yang harus diperangi bukanlah kelompok tertentu, melainkan virus HIV/AIDS dan perilaku yang meningkatkan risiko penularannya.
"Yang dimusuhi adalah AIDS dan virusnya, dan perilaku berisikonya," tegas Farhan.
Pemerintah menargetkan terwujudnya zero new HIV dan zero stigma pada tahun 2030. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan sinergi seluruh elemen masyarakat dalam memperkuat pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Bandung, Asep Cucu Cahyadi, mengungkapkan bahwa kondisi ini terjadi karena berbagai kasus di antaranya hubungan seks homoseksual dan heteroseksual. Dengan angka yang masih stagnan tersebut, pemkot Bandung menggandeng berbagai elemen masyarakat agar bisa meminimalisir penyebaran HIV/AIDS setiap tahunnya.
"Kita harus sama-sama menyamakan persepsi dalam penanggulan ini dan memperkuat jejaring agar program yang dijalankan bisa berdampak signifikan pada penurunan kasus di Kota Bandung," tutup Cucu.
Langkah Preventif yang Diperlukan
Keterbukaan informasi di media sosial memang tidak bisa dihindari, namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengglorifikasi praktik-praktik seksual yang berisiko maupun merusak citra Kota Bandung sebagai destinasi wisata. Diperlukan langkah-langkah preventif terpadu meliputi:
- Edukasi masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS dan cara penularannya
- Identifikasi titik-titik rawan untuk pengawasan dan干预
- Penguatan jaringan antar instansi terkait dalam penanggulangan
- Eliminasi stigma terhadap ODHA agar mereka tidak takut melakukan tes dan pengobatan
- Peningkatan akses terhadap testing dan pengobatan HIV/AIDS