Warga Bandung Sampaikan Keluhan Padat Soal Angkot, Kursi Wali Kota Kosong jadi Mic Curhat
Warga Bandung sampaikan keluhan soal angkot dalam diskusi di Gedung Indonesia Menggugat. Wali Kota Farhan tidak hadir, kursinya jadi tempat curhat warga yang desak pembenahan transportasi umum.

Warga Bandung Sampaikan Keluhan Padat Soal Angkot di Tengah Ketidakhadiran Wali Kota
Komunitas masyarakat Kota Bandung gelar diskusi serius soal angkutan umum, Minggu (28/6/2026). Agenda yang diselenggarakan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) itu seharusnya diagendakan menghadirkan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan pukul 11.00 WIB. Namun, hingga tengah hari sang eksekutif tidak juga hadir.
Menariknya, panitia tetap memulai diskusi. Kursi kosong Farhan kemudian dihiasi sebuah botol minum dengan tulisan "Wali Kota Bandung". Hal ini pun menjadi candaan para peserta yang sudah hadir sejak pagi.
Baca Juga: Evakuasi Jasad Perempuan dari Sumur 12 Meter di Tasikmalaya Terhambat Ular Kobra
Kursi kosong itu justru menjadi simbol bagaimana harapan warga terhadap pemimpinnya. Warga butuh pemimpin yang hadir, bukan hanya representation.
Hadir dalam diskusi tersebut perwakilan dari Dishub Kota Bandung, ahli transportasi dari ITB Sony Sulaksno, perwakilan Kopamas Budi Kurnia, serta masyarakat yang diwakili Syifa Maudini.
Baca Juga: MUI: Laki-laki Pakai Pakaian Perempuan Saat Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
Angkot Bandung Dinilai Sudah Tidak Memenuhi Kebutuhan Mobilitas Warga
Muhammad, warga Bandung Timur, mengatakan bahwa angkot di Kota Bandung sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mobilitas masyarakat modern, khususnya generasi muda yang menginginkan layanan cepat, praktis, dan pasti.
"Bandung kota kreatif, kota wisata, banyak tempat baru. Tapi pertumbuhan kendaraan dan ruas jalan tidak sebanding. Makanya Bandung jadi kota macet. Secara finansial dan mental ini kerugian bagi kami," keluhnya.
Ia menilai angkot seharusnya terintegrasi dengan kawasan permukiman, pusat pendidikan, hingga sentra ekonomi agar lebih mudah diakses masyarakat. Selain itu, kepastian tarif dan rute juga harus diperjelas karena saat ini masih sering membingungkan penumpang.
Beberapa poin utama yang disoroti warga:
- Angkot tidak mengikuti perkembangan kawasan wisata dan pusat aktivitas baru
- Kapasitas jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan
- Kemacetan meningkat baik dari sisi waktu, biaya, maupun kesehatan mental warga
- Rute dan tarif yang sering berubah bikin bingung penumpang
Perbandingan dengan Sistem Transportasi Jakarta Jadi Catatan Penting
Dimas, warga Bandung yang kini bekerja di Jakarta, turut memberikan perbandingan menarik. Ia membandingkan layanan angkot di Bandung dengan sistem transportasi terintegrasi di Ibu Kota yang menggunakan aplikasi JakLingko.
"Dear Kang Farhan, capek naik angkot di Bandung, tapi kita semua butuh angkot. Yang dibutuhkan itu jadwal yang jelas, pembayaran yang mudah seperti JakLingko, dan layanan yang menjangkau seluruh wilayah Bandung," sarannya.
Dimas mengingatkan agar pengembangan transportasi umum tidak berhenti pada program yang bersifat seremonial. Perluasan layanan angkot harus benar-benar menyentuh kawasan yang berkembang dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Warga Desak Pembenahan Aksesibilitas Angkot untuk Penyandang Disabilitas
Masukan serius juga datang dari kalangan penyandang disabilitas. Taufik Hidayattullah dari komunitas disabilitas mengatakan akses angkot hingga kini masih belum ramah bagi pengguna kursi roda maupun tongkat.
" Terkait transportasi yang aksesibel, ini harus benar-benar diwujudkan. Baik untuk disabilitas fisik maupun sensorik. Angkot harus bisa digunakan pengguna tongkat maupun kursi roda. Ini sudah menjadi kewajiban pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan," tegas Taufik.
Ia mengaku sejak duduk di bangku sekolah hingga perguruan tinggi masih mengandalkan angkot. Namun, proses naik dan turun kendaraan kerap menjadi tantangan serius karena desain armada belum mendukung mobilitas penyandang disabilitas.
Taufik mengingatkan bahwa pembenahan transportasi umum tidak hanya menyangkut kenyamanan, tetapi juga pemenuhan hak seluruh warga untuk memperoleh layanan transportasi yang aman, mudah diakses, dan setara.
Harapan: Angkot Bandung Harus Bisa Beradaptasi dengan Kebutuhan Masa Kini
Dari berbagai aspirasi yang sampaikan, satu pesan jelas mengemuka: angkot harus kembali menjadi pilihan transportasi utama masyarakat Bandung. Namun, untuk mewujudkan hal itu, diperlukan pembenahan menyeluruh mulai dari integrasi rute, kepastian jadwal, hingga peningkatan kenyamanan dan aksesibilitas.
Masalah kemacetan yang semakin parah di Kota Bandung dinilai menjadi alasan pemerintah harus segera melakukan reformasi transportasi umum. Warga berharap angkot tidak hanya dipertahankan sebagai moda transportasi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Kejadian kursi kosong Wali Kota dalam forum diskusi ini boleh jadi menjadi cerminan bagaimana hubungan antara pemimpin dan rakyat masih perlu dibangun lebih baik. Warga Bandung membuktikan bahwa mereka punya aspirasi tinggi terhadap transportasi umum yang layak, sekarang giliran pemerintah yang harus responsif menanggapinya."