Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Putih Sari Sosialisasi Empat Pilar di Cibitung, Ajak Warga Cegah Hoaks Menyebar Lewat HP

Jabar · Oleh ·

Putih Sari sosialisasi Empat Pilar di Desa Wanajaya, Cibitung, Bekasi. Ia ajak warga saring sebelum sharing supaya hoaks tidak mudah menyebar lewat telepon genggam.

Putih Sari Sosialisasi Empat Pilar di Cibitung, Ajak Warga Cegah Hoaks Menyebar Lewat HP

Di lingkungan padat seperti Cibitung, Bekasi, satu pesan yang dipelintir bisa menghancurkan kedamaian bertahun-tahun dalam hitungan jam. Warga di Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, merasakan langsung bagaimana hoaks di media sosial mampu mengadu tetangga yang sebelumnya akrab.

Momen itu menjadi bahan bicara Putih Sari, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Partai Gerbera, ketika menemui warga setempat dalam sosialisasi Empat Pilar MPR RI. Dalam forum itu, Putih Sari mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga ruang informasi agar tidak menjadi sumber perpecahan.

"Jangan sampai niat kita memberikan kritik atau masukan, tetapi karena cara penyampaiannya kemudian justru menjelekkan, menghina atau memprovokasi."

Putih Sari mengajak warga untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia mencontohkan, satu informasi yang belum tentu benar kini dapat dengan cepat menjangkau banyak orang hanya melalui telepon genggam. Prinsip saring sebelum sharing menjadi langkah paling sederhana yang bisa dilakukan.

Baca Juga: Effendi Edo Resmikan Gapura Pecinan Cirebon untuk Kembangkan Wisata Budaya di Jalan Winaon

Ia menegaskan bahwa masyarakat boleh menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dianggap perlu diperbaiki. Namun kritik sebaiknya disampaikan berdasarkan fakta, menggunakan bahasa yang baik, dan diarahkan untuk mencari solusi.

"Yang paling penting adalah kita saling mengingatkan. Keberagaman merupakan bagian dari kehidupan kita sebagai orang Indonesia. Jangan sampai perbedaan justru menghilangkan kerukunan."

Informasi yang tidak benar tidak hanya berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Putih Sari menjelaskan, hoaks juga bisa mengubah cara pandang seseorang terhadap kelompok lain maupun terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Terutama ketika sebuah informasi sengaja dibuat dengan narasi yang emosional dan disebarluaskan berulang-ulang.

Baca Juga: Kang Edo bilang pemuda jangan jadi objek pembangunan, harus bagian dari solusi

Generasi muda menjadi kelompok paling aktif menggunakan media sosial dan sekaligus paling rentan terperangkap hoaks. Putih Sari menilai keluarga, lingkungan pendidikan, tokoh agama, serta seluruh elemen masyarakat perlu memberikan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak.

Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dari Empat Pilar harus tercermin dalam cara masyarakat berinteraksi, termasuk ketika menggunakan media sosial. Perbedaan agama, suku, budaya, pilihan politik maupun pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Di era digital, setiap warga memiliki tanggung jawab menjaga ruang informasi agar tidak menjadi ladang hoaks dan provokasi. Ketika informasi yang belum terverifikasi dihentikan sebelum menyebar, kritik disampaikan tanpa kebencian, dan perbedaan dihormati, nilai Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.