Wabah Ebola Bundibugyo: WHO Umumkan Darurat Internasional di RD Kongo
Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan wabah Ebola galur Bundibugyo di RD Kongo sebagai darurat kesehatan internasional, dengan risiko penyebaran regional yang tinggi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan wabah virus Ebola Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Keputusan ini diambil setelah wabah yang tercatat 246 kasus suspek dan 80 kematian di Provinsi Ituri, RD Kongo, serta penyebaran ke wilayah ibu kota Kinshasa dan perbatasan dengan Uganda, yang meningkatkan risiko penyebaran regional.
Kondisi Wabah Ebola di RD Kongo dan Sekitarnya
Di Provinsi Ituri, timur RD Kongo, wabah telah menyebar ke tiga zona kesehatan: Bunia (ibu kota provinsi), Mongwalu (kota penambangan emas), dan Rwampara. Hingga saat ini, delapan kasus telah dikonfirmasi secara laboratorium di wilayah tersebut, dengan satu kasus tambahan terdeteksi di Kinshasa, ibu kota RD Kongo. Pasien tersebut diyakini baru saja bepergian dari Provinsi Ituri.
Di perbatasan dengan Uganda, negara tetangga, satu kasus terkonfirmasi dilaporkan: seorang pria berusia 59 tahun warga RD Kongo yang meninggal pada 14 Mei, dengan jenazah yang telah dipulangkan ke negaranya asal. Selain itu, satu kasus Ebola Bundibugyo juga dikonfirmasi di Goma, kota di timur RD Kongo yang saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23, berdasarkan laporan kantor berita AFP pada 17 Mei.
Galur Ebola Bundibugyo: Karakteristik dan Tantangan Pengobatan
Virus Ebola Bundibugyo adalah salah satu spesies virus Ebola yang menyebabkan wabah, dengan tingkat kematian sekitar 30% pada outbreak sebelumnya. Berbeda dengan galur Zaire yang memiliki vaksin yang disetujui untuk pencegahan, hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang resmi disetujui untuk melawan galur ini.
Gejala dan Masa Inkubasi
Gejala awal wabah Ebola Bundibugyo muncul secara tiba-tiba, mirip dengan gejala flu biasa, antara lain:
- Demam
- Nyeri otot
- Kelelahan
- Sakit kepala
- Sakit tenggorokan
Seiring perkembangan penyakit, gejala tambahan akan muncul, seperti muntah, diare, ruam, hingga perdarahan internal dan eksternal. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 2 hingga 21 hari setelah terpapar.
Cara Penularan dan Asal Usul
Ebola Bundibugyo menyebar antarmanusia melalui cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah, muntahan, dan sekresi lainnya. Wabah pertama kali dimulai ketika seseorang tertular virus dari hewan reservoar, seperti kelelawar pemakan buah yang menjadi sumber utama virus ini.
Faktor yang Meningkatkan Risiko Penyebaran
WHO menekankan bahwa beberapa faktor telah meningkatkan risiko penyebaran wabah ini ke wilayah yang lebih luas:
- Situasi keamanan yang tidak stabil: Konflik bersenjata di wilayah timur RD Kongo yang membuat respons kesehatan lebih sulit dan menghambat akses ke daerah terdampak.
- Krisis kemanusiaan: Jumlah penduduk yang terganggu dan mobilitas tinggi di wilayah terdampak, yang memudahkan penyebaran virus.
- Lokasi wabah di wilayah perkotaan: Kepadatan penduduk di kota-kota seperti Bunia dan Goma memudahkan penularan virus antar individu.
- Fasilitas kesehatan informal: Kurangnya akses ke layanan kesehatan yang terstandarisasi di daerah terpencil, yang membuat deteksi dini kasus lebih sulit.
Negara-negara yang berbatasan dengan RD Kongo, seperti Rwanda, Sudan Selatan, dan Uganda, dianggap memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran wabah. Rwanda telah mengambil langkah pencegahan dengan memperketat pemeriksaan di perbatasannya dan memperkuat sistem pengawasan kesehatan untuk mendeteksi kasus dini dan merespons dengan cepat.
Langkah Pencegahan dan Rekomendasi WHO
Untuk meminimalkan penyebaran wabah, WHO telah mengeluarkan beberapa rekomendasi penting:
- Isolasi dan perawatan kasus: Pasien yang terkonfirmasi harus segera diisolasi dan dirawat hingga dua tes virus menunjukkan hasil negatif, dengan selang waktu minimal 48 jam antara kedua tes.
- Koordinasi regional: RD Kongo dan Uganda disarankan untuk membentuk pusat operasi darurat yang bertugas memantau, melacak, dan menerapkan langkah-langkah pencegahan infeksi.
- Jangan menutup perbatasan tanpa dasar ilmiah: Negara di luar wilayah terdampak tidak disarankan untuk menutup perbatasan atau membatasi perjalanan dan perdagangan, karena langkah ini biasanya didorong oleh ketakutan dan tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Dalam pernyataannya, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa masih ada ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran wabah secara geografis.
"Saat ini terdapat ketidakpastian signifikan mengenai jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi dan penyebaran wabah tersebut secara geografis."
— Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus
Dr Amanda Rojek dari Pandemic Sciences Institute Universitas Oxford menambahkan bahwa meskipun risiko global terhadap wabah ini tetap rendah, situasi ini memerlukan koordinasi internasional karena kompleksitas tantangan di wilayah terdampak.
Riwayat Wabah Ebola di RD Kongo
Wabah Ebola pertama kali ditemukan di wilayah yang kini menjadi RD Kongo pada tahun 1976, dengan virus yang diyakini berasal dari kelelawar pemakan buah. Sejak itu, RD Kongo telah mengalami 17 wabah Ebola, dengan wabah paling mematikan terjadi antara 2018 hingga 2020 yang menyebabkan hampir 2.300 kematian. Tahun sebelum laporan ini dibuat, wabah di wilayah terpencil menyebabkan 45 kematian.
Secara global, sekitar 15.000 orang telah meninggal akibat virus Ebola selama 50 tahun terakhir, dengan tingkat kematian rata-rata sekitar 50% menurut data yang diterbitkan oleh WHO.
Seberapa Mengkhawatirkan Wabah Ini?
WHO menegaskan bahwa status darurat internasional untuk wabah Ebola ini tidak sama dengan status pandemi yang diberlakukan untuk COVID-19. Risiko yang ditimbulkan virus ini terhadap seluruh dunia tetap sangat kecil, bahkan pada wabah 2014-2016 yang skala besar, hanya ada tiga kasus di Inggris yang melibatkan tenaga kesehatan relawan.
Namun, risiko bagi negara-negara tetangga RD Kongo tetap signifikan, sehingga diperlukan langkah-langkah respons yang cepat dan terkoordinasi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan mengendalikan wabah ini.