Viral Video Tito Kobra Garut: Ancaman Bunuh Kapolsek Usai Mokel
Warga Garut hebohkan video viral preman Tito Kobra ancam bunuh Kapolsek Pakenjeng usai ditegur mokel di bulan Ramadan.

Insiden Viral di Garut: Preman Ancam Bunuh Kapolsek Usai Mokel
Sebuah video viral kembali menghiasi platform media sosial Indonesia, kali ini menampilkan insiden yang mengejutkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dikutip dari wawancara Kapolsek Muslih Hidayat pada Minggu (15/3/2026), video berdurasi 4 menit 12 detik itu merekam aksi nekat seorang preman kampung bernama Tito alias Tito Kobra, yang mengancam membunuh Kapolsek Kecamatan Pakenjeng, Iptu Muslih Hidayat, usai ditegur karena mengonsumsi minuman keras di siang hari saat bulan Ramadan.
Kronologi Lengkap Insiden
Kesimpulan insiden ini bermula dari patroli rutin polisi selama kegiatan Safari Ramadan di area Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Pakenjeng. Saat melintasi lokasi, tim kepolisian curiga dengan sejumlah sepeda motor yang terparkir tanpa pemilik di sekitar area bawah PLTM. Setelah melakukan pengecekan mendalam, petugas menemukan sekelompok pemuda yang sedang mengonsumsi minuman keras di siang hari—tindakan yang tidak hanya melanggar aturan ketertiban umum, tetapi juga sangat sensitif selama bulan suci Ramadan.
Kapolsek Muslih Hidayat menjelaskan bahwa tim telah memberikan pembinaan berupa hukuman push-up dan pendataan data pribadi terhadap delapan orang pemuda yang terlibat dalam kegiatan konsumsi minuman keras tersebut, termasuk Tito Kobra. Meskipun proses penertiban dilakukan sesuai prosedur, Tito menyimpan dendam akibat merasa dipermalukan saat kejadian pertama.
Beberapa hari kemudian, Tito mendatangi pos polisi Pakenjeng secara tiba-tiba saat petugas sedang berbagi takjil dengan komunitas pemuda lokal. Dalam pertemuan yang memanas dan penuh emosi, Tito menyampaikan keberatannya dan menolak penjelasan petugas bahwa tindakan penertiban merupakan bagian dari tugas kepolisian sesuai maklumat Forkopimda dan MUI.
Situasi semakin memburuk ketika Tito mulai mengeluarkan kata-kata kasar dan melontarkan ancaman pembunuhan terhadap Kapolsek, Camat Pakenjeng, serta anggota kepolisian lainnya. Pertengkaran fisik pun tak terhindarkan selama beberapa menit, sebelum Tito akhirnya dapat dilumpuhkan oleh petugas dengan bantuan warga sekitar. Selanjutnya, petugas menemukan sebilah golok kecil yang dibawa oleh pelaku saat melakukan aksi.
Berdasarkan penyelidikan sementara, Tito diduga kuat berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang saat melakukan aksi nekat tersebut. Selain itu, pihak kepolisian juga mengungkapkan bahwa Tito telah menjadi orang yang kerap meresahkan warga Kecamatan Pakenjeng dalam beberapa bulan terakhir.
Keputusan Kapolsek yang Tidak Menindaklanjuti Hukum Formal
Meskipun menerima ancaman serius terhadap dirinya dan rekan-rekan, Kapolsek Muslih Hidayat mengambil keputusan yang tidak lazim: ia memilih untuk tidak membawa kasus ini ke jalur hukum formal. Menurutnya, tindakan pembinaan intensif terhadap Tito akan lebih efektif untuk mencegah dia mengulangi perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban umum.
"Saya lebih memilih untuk memberikan pelajaran yang lebih dalam kepada Tito, agar dia memahami pentingnya menjaga ketertiban selama bulan Ramadan dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan orang lain," ujar Muslih dalam wawancara eksklusif.
Ia menambahkan bahwa keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi mental dan kemungkinan pengaruh zat terlarang pada Tito saat melakukan aksi, serta tujuan untuk memperbaiki perilakunya daripada menghukumnya secara formal.
Dampak Insiden Terhadap Komunitas Lokal
Insiden ini telah membuat warga Pakenjeng terkejut, terutama karena terjadi selama bulan suci Ramadan yang identik dengan damai, kedamaian, dan ketertiban. Banyak warga mengungkapkan keprihatinan terhadap meningkatnya aksi nekat dan pelanggaran aturan selama bulan suci di daerah mereka.
Selain itu, insiden ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi aparat kepolisian dalam menegakkan hukum selama bulan Ramadan, terutama ketika berhadapan dengan individu yang berada di bawah pengaruh zat terlarang atau memiliki dendam yang mendalam terhadap petugas.
Beberapa warga juga mengungkapkan harapan agar insiden ini dapat menjadi pelajaran bagi semua orang untuk menghormati aturan dan menjaga ketertiban selama bulan suci Ramadan, serta menghindari tindakan yang dapat membahayakan orang lain.