Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Viral di Medsos: Kontroversi Pembongkaran TK di Cirebon untuk Bangunan Koperasi Desa

Jabar · Oleh Rizky Maulana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Peristiwa pembongkaran Taman Kanak-kanak di Desa Guwa Kidul, Cirebon untuk kantor koperasi desa viral di medsos, memicu kontroversi tentang prioritas pembangunan dan perlindungan fasilitas pendidikan.

Viral di Medsos: Kontroversi Pembongkaran TK di Cirebon untuk Bangunan Koperasi Desa

Sebuah peristiwa pembongkaran Taman Kanak-kanak (TK) di Desa Guwa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menjadi perbincangan hangat setelah video rekaman peristiwa tersebut viral di media sosial. Bangunan TK yang telah berdiri sejak 2007 dan digunakan sebagai tempat belajar puluhan siswa usia dini diduga dibongkar untuk pembangunan kantor Koperasi Desa Merah Putih.

Kronologi Peristiwa dan Video Viral

Video rekaman yang berdurasi 1 menit 33 detik menunjukkan bangunan TK telah rata dengan tanah, dengan material bangunan berserakan di lokasi. Dalam video, perekam mengklaim pembongkaran dilakukan secara paksa oleh pemerintah desa, dan bertujuan untuk membangun kantor koperasi desa setempat. Narasi video juga menyoroti bahwa lembaga pendidikan yang telah beroperasi selama lebih dari 15 tahun harus terkorban untuk proyek pembangunan desa.

Seruan dari Perekam Video

Perekam video dalam unggahan tersebut menyampaikan seruan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, meminta perhatian dan keadilan atas peristiwa tersebut. Berikut adalah kutipan dari seruan tersebut:

"Pak Prabowo, Kang Dedi, ini bagaimana? Masa lembaga pendidikan dibongkar seperti ini? Kami bagaimana? Anak-anak didik kita bagaimana?"

"Pak Prabowo, apakah harus mengorbankan TK yang sudah lama berdiri dari tahun 2007? Mohon disikapi, Kang Dedi,"

Unggahan video tersebut telah ditonton ribuan kali dan memicu beragam komentar dari warganet, sebagian besar menyayangkan kemungkinan pembongkaran tanpa solusi relokasi yang jelas bagi siswa dan tenaga pendidik TK.

Pertanyaan tentang Prosedur dan Status Lahan

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa lahan tempat berdirinya TK merupakan aset desa, yang akan dimanfaatkan untuk pembangunan kantor koperasi. Namun, hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Desa Guwa Kidul maupun pihak kecamatan terkait tentang status lahan dan mekanisme pembongkaran yang dilakukan.

Beberapa pihak juga mempertanyakan prosedur yang ditempuh sebelum pembongkaran, termasuk apakah telah ada kesepakatan tertulis antara pemerintah desa dan pengelola TK. Selain itu, isu tentang belum adanya kepastian lokasi relokasi bagi siswa dan tenaga pendidik TK juga menjadi perhatian utama. Narasi dalam video juga menyebutkan bahwa pembongkaran dilakukan pada hari libur, yang memicu asumsi bahwa proyek dilakukan saat aktivitas belajar mengajar tidak berlangsung.

Dampak pada Kegiatan Belajar Mengajar

Dampak pembongkaran tersebut langsung terasa pada puluhan siswa TK di Desa Guwa Kidul. Kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan di ruang tersisa atau memanfaatkan bangunan lain yang masih berdiri di lokasi. Orang tua siswa dilaporkan mengkhawatirkan kelanjutan pendidikan anak-anak mereka, terutama jika tidak ada kejelasan tentang tempat belajar pengganti yang aman dan layak.

Status Terkini dan Kurangnya Keterangan Resmi

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Desa Guwa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, maupun instansi terkait di Kabupaten Cirebon mengenai kronologi lengkap pembongkaran tersebut. Hal ini termasuk informasi tentang dasar hukum yang mendasari pembongkaran, rencana penanganan pascapembongkaran, dan langkah apa pun yang akan diambil untuk menangani keluhan warga dan orang tua siswa.

Diskusi Luas tentang Prioritas Pembangunan Desa

Peristiwa ini juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai prioritas pembangunan desa di Indonesia. Banyak pihak menanyakan apakah pembangunan fasilitas ekonomi seperti koperasi desa harus mengorbankan fasilitas pendidikan yang telah ada dan berperan penting dalam mengembangkan potensi anak usia dini di desa setempat. Perlindungan terhadap fasilitas pendidikan juga menjadi sorotan, terutama dalam konteks upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di daerah terpencil.

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya transparansi dalam proses pembangunan desa, terutama ketika melibatkan fasilitas publik seperti lembaga pendidikan. Warganet dan masyarakat luas terus menunggu keterangan resmi dari pihak terkait untuk memahami kronologi lengkap peristiwa dan menemukan solusi yang adil bagi semua pihak.