Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Transformasi Pengusaha Karamba: Strategi Bangkitkan Ekonomi Nelayan Waduk Cirata

Jabar · Oleh Salsa Maharani · · Diperbarui 2 Maret 2026

Wakil Bupati Purwakarta diminta BGN agar petani karamba jaring apung Waduk Cirata kembali jadi pengusaha mandiri lewat KUR, pasar MBG, dan pendampingan bisnis.

Transformasi Pengusaha Karamba: Strategi Bangkitkan Ekonomi Nelayan Waduk Cirata

Revolusi Bisnis Perikanan: Dari Buruh Jadi Bos di Perairan Purwakarta

Purwakarta – Lebih dari 86 ribu karamba jaring apung (KJA) menghiasi permukaan Waduk Cirata, namun di balik angka gemilang itu tersimpan kisah pilu: sebagian besar petani ikan kini hanya menjadi buruh di lahan yang pernah mereka miliki. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, mendorong Pemkab Purwakarta untuk mengembalikan martabat mereka sebagai pengusaha perikanan mandiri.

Rantai Penderitaan: Modal Tinggi, Harga Jual Melorot

Asep, salah satu pekerja KJA, mengungkapkan ketimpangan ekonomi yang membelenggu. Untuk satu kali musim tanam, ia membutuhkan modal Rp20–30 juta, sebagian besar untuk pakan ikan yang harganya kian melambung. Padahal, panen baru bisa dinikmati 3–6 bulan kemudian.

"Sekarang harga jual dengan harga pakan itu, mahal, Bu, beda jauh. Jadi ada ketimpangan di situ," ujar Asep, menyesali nasib yang harus ditanggungnya dan ratusan pekerja KJA lainnya.

Belum lagi musibah alam berupa upwelling—pembalikan lapisan air—yang menyebarkan sulfur oksida dan memicu kematian massal ikan. "Kalau ada balikan air seperti itu, ikan-ikan mati semua, dan kami rugi," tambahnya.

Jatuh Bangun Karamba: Dari Pemilik Jadi Buruh

Wakil Bupati Purwakarta, Abang Ijo Hafidin, mengakui transformasi kepemilikan yang terjadi. Awalnya warga setempat memiliki KJA, tetapi karena tekanan modal dan risiko usaha, mereka terpaksa menjual asetnya pada tauke berduit. "Setelah dijual, mereka yang semula memiliki karamba ini, kemudian menjadi kulinya," tuturnya.

Nanik menanggapi kisah tersebut dengan emosi tercampur haru. "Sedih juga kalau gini… saya kira punya dia… ternyata pekerja," ucapnya saat menengok rumah apung milik Asep di tengah Waduk Cirata.

Solusi Tiga Pilar: KUR, Pasar Bergizi, dan Edukasi

Untuk membalikkan nasib, Nanik mengusung tiga strategi utama:

  1. Akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bank Himbara dengan bunga rendah agar mantan pemilik KJA bisa kembali mengelola usaha mereka.
  2. Jaminan pasar hasil panen melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membutuhkan pasokan ikan setiap hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  3. Pendampingan bisnis agar petani mampu mengelola keuangan, memilih jenis ikan yang tepat—seperti patin yang lebih terjangkau—dan mengantisipasi risiko cuaca.

"Pak Wabup hebat nih kalau bisa mengembalikan mereka menjadi pemilik lagi, menjadi pengusaha lah," tegas Nanik.

Dampak Bergizi: MBG Jadi Motivasi Anak Nelayan

Tidak hanya soal ekonomi, program MBG turut meningkatkan partisipasi pendidikan. Kedua anak Asep kini rajin sekolah karena mengetahui akan mendapat makanan bergizi jika hadir di kelas. "Kalau nggak sekolah, (mereka) nggak dapat MBG. Jadi mereka semangat sekolah karena MBG," ungkap Asep.

Langkah Nyata: Membangun Ekosistem Perikanan Berkelanjutan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat kelebihan kapasitas KJA di Cirata: 86.437 unit vs daya dukung ideal 21.792 unit. Kondisi ini memicu pencemaran perairan akibat sisa pakan. Karenanya, restrukturisasi izin dan pendidikan lingkungan menjadi kunci keberlanjutan.

Nanik menutup kunjungannya dengan pesan moral: "Pak semangat ya, Pak… Bapak nih ambil alih lagi punya sendiri, Nggak terus jadi pekerja… musti harus jadi bos… Menjadi bosnya sendiri lagi."

Harapan Baru: Sinergi Pusat-Daerah dan Swasta

Ke depan, sinergi multi-pihak—BGN, Pemkab Purwakarta, perbankan, serta pelaku usaha—diperlukan untuk:

Jika langkah-langkah ini dijalankan, Waduk Cirata bukan hanya lumbung ikan, melainkan lumbung ekonomi mandiri yang menaikkan derajat warga sekitar tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.