Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Tragedi Ibu Hamil Ditandu 9 KM: Menguak Masalah Akses Kesehatan Desa Indonesia

Jabar · Oleh Raka Permana ·

Tragedi ibu hamil yang harus ditandu 9 kilometer ke rumah sakit di Polewali Mandar menjadi bukti ketimpangan akses kesehatan yang masih merajalela di desa terpencil Indonesia, menelan banyak korban jiwa.

Tragedi Ibu Hamil Ditandu 9 KM: Menguak Masalah Akses Kesehatan Desa Indonesia

Pada bulan tertentu tahun ini, sebuah tragedi menyayat hati terjadi di Desa Ratte, Kecamatan Tutar, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Seorang ibu hamil harus ditandu oleh warga setempat sejauh 9 kilometer melewati jalan yang rusak parah, untuk mencapai rumah sakit terdekat. Sayangnya, bayi yang dikandungnya tidak tertolong dan meninggal dunia sebelum tiba di fasilitas kesehatan. Peristiwa ini bukan hanya sebuah tragedi keluarga, tapi juga potret kegagalan sistem pembangunan dan akses kesehatan di Indonesia yang telah berulang kali menelan korban.

Tragedi yang Berulang di Seluruh Nusantara

Lebih ironis lagi, kasus serupa telah terjadi berulang kali selama beberapa tahun terakhir, tanpa adanya perubahan signifikan untuk mencegahnya. Beberapa contoh tragedi serupa:

Warga setempat di berbagai wilayah telah mengakui bahwa kasus serupa terus berulang karena akses jalan yang buruk dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan darurat. Bahkan, banyak puskesmas di desa terpencil tidak memiliki fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai untuk menangani kasus darurat.

Jalan Rusak: Bukan Hanya Masalah Infrastruktur, tapi Nyawa yang Terancam

Jalan rusak bukan hanya masalah infrastruktur yang terabaikan. Dalam konteks akses kesehatan, jalan rusak bisa menjadi pembunuh yang diam-diam. Ketika ambulans tidak bisa mencapai desa terpencil, warga harus bergantung pada pengangkutan manual, seperti ditandu, untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih jauh. Hal ini tidak hanya menambah risiko komplikasi bagi pasien, tapi juga meningkatkan kemungkinan kematian, terutama bagi ibu hamil dan bayi baru lahir.

Di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur besar di kota-kota besar dan pidato pertumbuhan ekonomi yang terus digaungkan, masih ada warga di desa terpencil yang harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar. Anggaran kesehatan negara yang mencapai ratusan triliun rupiah sepertinya tidak sampai ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan, sementara elite politik di pusat kekuasaan sibuk membangun citra dan berebut panggung politik.

Kutipan Pemikir yang Mengungkap Jiwa Bangsa

Kata-kata mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, pernah memiliki makna yang sangat relevan dengan tragedi ini:

"There can be no keener revelation of a society’s soul than the way in which it treats its children."

— Nelson Mandela, Mantan Presiden Afrika Selatan

Bayi-bayi yang kehilangan kesempatan hidup bukan karena perang atau bencana alam, tapi karena akses jalan dan layanan kesehatan yang buruk.

Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, juga menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, tapi juga kemampuan manusia untuk hidup sehat, aman, dan bermartabat. "Jalan desa yang menghubungkan desa terpencil ke puskesmas sesungguhnya sama pentingnya dengan proyek infrastruktur besar bernilai triliunan rupiah yang sedang berjalan di kota-kota besar," kata Sen.

Mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, pernah menegaskan dengan tegas: "Health is a human right, not a privilege to be purchased." Kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara, bukan kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang tinggal di dekat kota atau memiliki akses ekonomi yang cukup.

Akar Masalah: Ketimpangan Pembangunan yang Mendalam

Tragedi yang terjadi di Polewali Mandar bukan hanya masalah jalan rusak, tapi juga ketimpangan pembangunan yang mendalam di Indonesia. Puskesmas di banyak daerah terpencil masih kekurangan tenaga kesehatan, fasilitas medis yang memadai, dan akses transportasi darurat. Bidan desa sering bekerja sendiri tanpa dukungan yang memadai untuk menangani kasus darurat, sementara rumah sakit di wilayah perkotaan memiliki fasilitas dan tenaga kesehatan yang berlebihan.

Di sisi lain, pemerintah pusat dan daerah seringkali lebih fokus pada proyek pembangunan yang terlihat di kota-kota besar, daripada investasi di wilayah terpencil yang membutuhkan perhatian lebih. Hal ini menyebabkan kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan semakin lebar, dan tragedi seperti di Polewali Mandar terus berulang.

Tantangan Geografis yang Bisa Diatasi

Meskipun Indonesia memiliki tantangan geografis yang kompleks, dengan banyak wilayah yang berada di kawasan pegunungan, hutan, dan sulit dijangkau, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan tragedi berulang. Negara justru dituntut untuk hadir lebih kuat di wilayah-wilayah yang paling membutuhkan perhatian, dan menemukan solusi untuk mengatasi tantangan geografis tersebut.

Beberapa solusi konkret yang bisa dilakukan pemerintah:

Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?

Tragedi di Polewali Mandar harus menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat dan daerah. Evaluasi dan introspeksi serius harus dilakukan, bukan hanya belasungkawa dan ucapan maaf yang kosong. Rakyat tidak hanya membutuhkan belasungkawa, tapi juga perubahan nyata: jalan yang layak, puskesmas yang beroperasi penuh, tenaga kesehatan yang cukup, dan rumah sakit yang benar-benar bisa dijangkau oleh semua warga negara.

Negara seharusnya hadir paling awal untuk urusan nyawa rakyat, bukan hanya hadir paling cepat saat musim kampanye politik tiba. Setiap nyawa yang hilang karena akses kesehatan yang buruk adalah kegagalan negara untuk memenuhi kewajibannya terhadap rakyatnya.

Sebagai sebuah bangsa, kita harus bertanya: apa arti kemajuan Indonesia jika masih ada ibu hamil yang harus ditandu menembus lumpur dan jalan rusak untuk mendapatkan pertolongan? Apa arti anggaran kesehatan triliunan rupiah jika bayi masih harus meninggal karena tidak bisa mencapai rumah sakit tepat waktu? Tragedi di Polewali Mandar bukan hanya masalah daerah, tapi masalah nasional yang harus kita selesaikan bersama.