Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Tragedi Cimanggung: 116 Santri Keracunan Massal, Polisi Turun Tangan

Jabar · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

116 santri di Pesantren Nuurush Sholaah Sumedang mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi katering pengajian Jumat malam. 61 di antaranya dirujuk ke RS, Polres Sumedang menggunakan tim INAFIS untuk penyelidikan laboratorium dan menekankan tidak terkait program MBG.

Tragedi Cimanggung: 116 Santri Keracunan Massal, Polisi Turun Tangan

Keracunan Massal 116 Santri Sumedang: Polres Gunakan Teknologi INAFIS untuk Ungkap Penyebab Katering Pengajian

Pada malam Jumat terbaru, insiden keracunan massal menggemparkan lingkungan Pesantren Nuurush Sholaah di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Sebanyak 116 santri mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi katering yang disediakan selama acara pengajian rutin. Insiden ini tidak hanya mengkhawatirkan pihak pesantren dan keluarga santri, tetapi juga menjadi perhatian utama bagi instansi kesehatan dan kepolisian untuk segera mengungkap penyebab pasti.

Langkah Penyelidikan Polres dengan Teknologi INAFIS

Untuk menangani insiden ini secara profesional dan akurat, Kepolisian Resor (Polres) Sumedang segera menerjunkan tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) untuk melakukan penyelidikan intensif. Meskipun INAFIS lebih dikenal untuk identifikasi sidik jari, tim ini juga memiliki kemampuan forensik laboratorium yang dapat menganalisis sampel makanan dan bahan tubuh korban untuk menemukan jejak penyebab keracunan.

"Para santri ini keracunan setelah melaksanakan acara pengajian pada malam Jumat. Oleh karena itu, Polres Sumedang menurunkan tim dari INAFIS untuk pemeriksaan laboratorium yang detail," ujar Kapolsek Cimanggung, Kompol Aan Supriatna, pada Sabtu dini hari.

Pemeriksaan laboratorium ini diharapkan dapat memberikan hasil yang akurat dalam waktu singkat, sehingga pihak berwenang dapat segera mengambil tindakan pencegahan dan memberikan kejelasan kepada masyarakat.

Kondisi Kesehatan Santri dan Penanganan Medis

Dari total 116 santri yang menunjukkan gejala keracunan, gejala yang dialami antara lain:

Sebanyak 61 santri yang kondisi kesehatannya lebih parah harus dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Sementara itu, 55 santri lainnya ditangani oleh tenaga kesehatan di lingkungan pesantren dengan pemberian obat-obatan dan cairan infus. Sampai saat ini, kondisi sebagian besar santri telah menunjukkan perbaikan, namun masih ada beberapa yang membutuhkan pengawasan lebih lanjut.

Penjelasan Tidak Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Kompol Aan juga menegaskan secara tegas bahwa insiden keracunan ini sama sekali tidak berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh pemerintah. Penjelasan ini diberikan untuk menghindari kesalahpahaman dan isu yang tidak benar di masyarakat.

"Saya yakin ini bukan dari MBG karena pesantren ini memang tidak menerima makanan dari program tersebut. Makanan yang dikonsumsi santri berasal dari katering swasta yang disediakan khusus untuk acara pengajian malam Jumat," tambah Kompol Aan.

Pentingnya Pengawasan Keamanan Pangan di Acara Komunitas

Insiden keracunan massal ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang pentingnya pengawasan keamanan pangan di acara komunitas, terutama di lingkungan pesantren yang seringkali menggelar acara makan bersama dalam jumlah besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Harapan untuk Penyelesaian Cepat Penyelidikan

Penyelidikan oleh tim INAFIS diharapkan dapat segera mengungkap penyebab pasti keracunan ini, sehingga dapat diambil tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan. Selain itu, hasil penyelidikan juga akan memberikan kejelasan kepada keluarga santri dan masyarakat tentang apa yang sebenarnya terjadi, serta memberikan rasa aman bagi semua pihak yang terlibat.

Pihak pesantren juga telah menyatakan bahwa akan meningkatkan pengawasan keamanan pangan di semua acara yang diadakan di lingkungannya, serta bekerja sama dengan pihak kesehatan untuk memberikan pelatihan tentang keamanan pangan kepada orang yang bertanggung jawab atas persiapan makanan.

Insiden ini menunjukkan bahwa keamanan pangan adalah masalah yang tidak boleh diabaikan, terutama di lingkungan yang memiliki jumlah orang banyak. Dengan kerja sama antara pemerintah, instansi kesehatan, kepolisian, dan masyarakat, kita dapat mencegah insiden keracunan massal dan menjaga kesehatan masyarakat secara umum.