TNI-Polri Bersama Petani Garut Buru Tikus Cegah Gagal Panen Sawah
Gerakan massal pengendalian hama tikus melibatkan TNI-Polri, petani, dan instansi terkait di Sukawening Garut untuk mencegah gagal panen sawah akibat serangan tikus

Aksi Bersama TNI-Polri dan Petani di Sukawening Garut Melindungi Lahan Persawahan
Anggota TNI, Polri, dan kelompok tani Mitra Bhakti di Kampung Munjul, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat, baru saja melaksanakan gerakan massal pengendalian hama tikus di lahan persawahan setempat. Aksi ini dilaksanakan dengan tujuan utama mencegah kerusakan tanaman padi yang berpotensi memicu gagal panen dan mengganggu ketahanan pangan lokal.
Latar Belakang Pelaksanaan Aksi
Kapolsek Sukawening, Ajun Komisaris Budiman Suhardiana, menjelaskan bahwa langkah pengendalian hama tikus ini diambil setelah pihaknya menerima laporan jelas dari masyarakat mengenai banyaknya lahan pertanian yang rusak akibat serangan pengerat tersebut. Merespons keluhan petani, aparat keamanan langsung turun ke lapangan untuk membantu melakukan perburuan hama secara terstruktur.
"Sebagai bentuk kepedulian terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan para petani, kami berupaya melakukan gerakan pengendalian dengan memburu hama tikus di lahan persawahan. Langkah ini krusial untuk mencegah gagal panen," ujar Budiman, Senin (25/5/2026).
Daftar Instansi yang Berpartisipasi
Gerakan ini melibatkan sinergi berbagai instansi untuk memaksimalkan efektivitas, antara lain:
- TNI Angkatan Darat wilayah Garut
- Kepolisian Resort Garut dan Polsek Sukawening
- Pemerintah Desa Kampung Munjul
- Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sukawening
- Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Garut
- Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Cara Pelaksanaan Pengendalian Hama
Para petugas dan petani menggunakan peralatan tradisional yang mudah diakses, seperti jaring, golok, cangkul, dan linggis, untuk menyisir lubang-lubang tikus di sepanjang pematang sawah. Selain metode penyiraman langsung, tim juga melakukan pengasapan dengan membakar jerami di dalam lubang tikus untuk memaksa hama keluar dari persembunyiannya. Budiman menambahkan, banyak hama tikus yang berhasil terjaring dan dimusnahkan selama aksi ini. "Banyak hama tikus yang berhasil terjaring. Langkah ini kami lakukan agar kerusakan tanaman padi tidak meluas, sehingga hasil panen petani dapat meningkat dan produksi padi tetap terjaga," imbuhnya.
Apresiasi dari Perwakilan Petani
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Petani Mandiri Indonesia (GPMI) Jawa Barat, Yuyun Suyud yang akrab disapa Abah Uyung, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan aparat keamanan dalam membantu petani. Menurutnya, saat ini petani di wilayah Priangan Timur sedang mempercepat masa tanam untuk memanfaatkan curah hujan yang masih tersedia sebelum memasuki musim El Nino, yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi.
"Kami mengapresiasi peran TNI, Polri, dan pemerintah daerah yang proaktif melakukan gerakan ini. Serangan hama tikus sangat berbahaya karena menyerang batang hingga bulir padi secara sporadis, yang dampaknya bisa menurunkan hasil produksi secara drastis," papar Abah Uyung.
Harapan dan Dampak Gerakan ke Depan
Gerakan pengendalian hama secara kolektif ini diharapkan dapat menjadi model perlindungan tanaman pangan di wilayah lain, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ancaman hama yang kerap muncul menjelang musim panen. Selain itu, aksi ini juga memperkuat sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat petani dalam menjaga ketahanan pangan lokal. Dengan adanya gerakan ini, diharapkan produksi padi di wilayah Garut dapat terjaga dan petani tidak mengalami kerugian akibat serangan hama tikus.