Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Terbaru! Warga Garut Koar-koar Jalan Rusak & Dana Desa Malah Diancam? Ini Faktanya

KDM · Oleh Raka Permana · · Diperbarui 2 Maret 2026

Warga Garut kritik jalan rusak & dana desa, malah diancam? Video detik-detik intimidasi viral! Benarkah ini upaya membungkam suara rakyat? Simak faktanya!

Terbaru! Warga Garut Koar-koar Jalan Rusak & Dana Desa Malah Diancam? Ini Faktanya

Dugaan Intimidasi Warga Garut Usai Kritik Jalan Rusak dan Dana Desa Jadi Sorotan

Seorang warga Garut, Holis Muhlisin, mengaku mengalami intimidasi dari sejumlah individu. Dugaan intimidasi ini muncul setelah Holis secara vokal mengkritik kondisi jalan yang rusak dan mempertanyakan pengelolaan dana desa di wilayahnya.

Detik-detik Intimidasi Terekam Video

Insiden dugaan intimidasi tersebut terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah Holis Muhlisin ke akun Facebook pribadinya. Dalam video tersebut, terlihat beberapa pria berbicara kepadanya dengan nada tinggi. Bahkan, pada satu momen, kerah baju Holis sempat diremas oleh salah satu pelaku yang menunjukkan gestur mengintimidasi.

Dialog dalam video tersebut menunjukkan nada ancaman dan pertanyaan bernada meremehkan terhadap Holis:

"Rek anaonan didinya babarawakan cing sok? Hayang tenar didinya? Dek ngajago di media sosial? hayang kumaha? (Dalam rangka apa Anda teriak-teriak? Anda mau terkenal? Mau jago di media sosial? Mau bagaimana?)"

Tak hanya itu, suara lain juga terdengar:

"Gregetan lamun lain jelema, ayeuna sia kitu-kitu teuing ka salaki aing (Saya greget kalau kamu bukan manusia, sekarang kamu begitu sekali dengan suami saya)."

Dugaan kuat menunjukkan bahwa para pelaku intimidasi tersebut memiliki hubungan keluarga dengan Kepala Desa setempat. Selama insiden berlangsung, Holis Muhlisin hanya bisa tertunduk menerima perlakuan tersebut.

Holis Muhlisin Angkat Bicara

Holis Muhlisin akhirnya buka suara terkait intimidasi yang dialaminya. Ia menjelaskan bahwa video kejadian tersebut sebenarnya direkam pada 27 Oktober 2025, namun baru ia unggah ke media sosial pada bulan Desember lalu.

"Setelah mempertimbangkan beberapa hal," jelasnya mengenai keputusannya untuk mengunggah video tersebut setelah jeda waktu.

Menurut Holis, dugaan intimidasi ini merupakan buntut dari kritikannya yang sering dilontarkan terhadap kondisi desa yang ia nilai "amburadul". Salah satu fokus kritiknya adalah kerusakan parah pada infrastruktur jalan. Selain itu, ia juga menyoroti kasus longsor yang terjadi di wilayahnya dan "dibarkan begitu saja" tanpa perbaikan.

"Saya hanya ingin desa saya baik," tegas Holis, membantah motivasi lain seperti mencari ketenaran melalui kritikan di media sosial.

Respons Dedi Mulyadi: Larangan Intimidasi Terhadap Kritik

Video dugaan intimidasi ini segera menarik perhatian publik, termasuk Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM). Melalui akun Instagram pribadinya, Dedi Mulyadi menyampaikan respons tegas.

Ia mengimbau seluruh jajaran aparatur desa, mulai dari kepala desa, perangkat desa, hingga ketua RT/RW dan kepala dusun, agar tidak melakukan intimidasi atau pengancaman terhadap masyarakat yang menyampaikan kritik.

"Untuk jajaran aparat desa di mana pun berada, baik kepala desa, aparat dan perangkat desa sampai ketua RT RW kepala dusun, manakala ada orang yang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin yang tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi pengancaman," ujar Dedi, dikutip Minggu (4/1).

Dedi menekankan bahwa di era saat ini, setiap pemimpin harus mampu menerima kritik dengan lapang dada. Bahkan, menurutnya, kritik dan caci maki mestinya menjadi pendorong untuk melakukan perubahan dan perbaikan.

"Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan kita mencaci maki orang yang mengkritik kita bahkan kita harus tahan terhadap caci maki, karena kita bisa jadi kita ini jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki," lanjutnya.

Ia berharap kejadian intimidasi akibat kritik tidak terulang lagi. Dedi Mulyadi juga meminta seluruh elemen masyarakat, termasuk kepala desa, untuk melakukan rekonsiliasi dan perbaikan.

"Lakukan perbaikan dan pembangunan dan kepada bupati untuk segera menanganinya jangan membiarkan ada tindakan-tindakan intimidatif terhadap kritik," harapnya.

Sejarah Protes dan Dugaan Masalah di Panggalih

Sebelum insiden ini, Kepala Desa Panggalih diketahui pernah menjadi sasaran demo warga. Pada 1 Juni 2023, warga mendatangi Bupati Garut saat itu, Rudy Gunawan, untuk menyampaikan keluhan terkait kinerja Kepala Desa yang dinilai kurang baik. Salah satu isu krusial yang diangkat adalah dugaan korupsi bantuan untuk warga, yang bahkan menyebabkan sejumlah Ketua RW mengundurkan diri serentak.

Para warga mengklaim membawa lebih dari seribu tanda tangan sebagai bentuk dukungan untuk evaluasi dan perubahan kepemimpinan kepala desa.

Sebelum mendatangi bupati, warga disebut telah berulang kali mencoba melakukan pertemuan dan evaluasi, namun tanpa hasil konkret. Saat itu, Bupati Garut mendorong agar solusi dicari melalui musyawarah dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Rudy Gunawan juga menjelaskan bahwa terdapat empat mekanisme yang dapat menghentikan masa jabatan seorang kepala desa, yaitu:

Kasus dugaan intimidasi terhadap Holis Muhlisin ini kembali menyoroti pentingnya kebebasan berpendapat dan transparansi dalam pengelolaan pemerintahan desa, serta perlunya perlindungan bagi warga yang berani menyuarakan kritik demi perbaikan lingkungan mereka.