Sumedang: Menjaga Surplus Beras untuk Ketahanan Pangan Regional Jabar
Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mencatat surplus beras signifikan pada 2025 dengan produksi 294 ribu ton, jauh melebihi kebutuhan lokal. Artikel ini mengulas upaya dan tantangan menjaga ketahanan pangan regional.

Momen Panen Padi di Sawah Sumedang
Hamparan sawah di Kecamatan Sumedang Selatan mulai menguning di pagi hari, menandakan musim panen padi telah tiba. Di bawah sinar matahari yang baru saja muncul dari balik perbukitan, para petani sibuk memanen hasil panen yang telah mereka rawat selama berbulan-bulan. Bunyi mesin perontok padi bersahut-sahutan bercampur dengan tawa para pekerja, seiring tumpukan gabah yang perlahan memenuhi karung di tepi sawah.
Bagi para petani, momen panen bukan hanya penanda akhir siklus tanam, tetapi juga awal harapan baru. Namun di balik keindahan pemandangan sawah menguning, tersimpan narasi besar tentang bagaimana Kabupaten Sumedang berhasil menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian cuaca. Kini, Sumedang menjadi salah satu daerah dengan surplus beras terbesar di Jawa Barat, dengan produksi padi yang jauh melebihi kebutuhan konsumsi lokal.
Angka Produksi dan Surplus Beras
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumedang, Tono Suhartono, menjelaskan bahwa capaian produksi padi tahun 2025 mencapai sekitar 294 ribu ton. Angka ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Sumedang yang hanya sekitar 103 ribu ton per tahun.
"Produksi kita sekitar 294 ribu ton, sementara kebutuhan hanya 103 ribu ton. Artinya, kita memiliki surplus cukup besar, lebih dari 190 ribu ton," ujar Tono.
Surplus beras ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap pasokan pangan di wilayah lain di Jawa Barat. Hal ini menjadikan Sumedang sebagai tulang punggung ketahanan pangan regional.
Sentra Produksi Padi di Sumedang
Beberapa kecamatan di Sumedang menjadi pusat produksi padi yang mendukung surplus besar tersebut. Berikut adalah lima kecamatan dengan produksi padi tertinggi:
- Kecamatan Buahdua: 43,19 ribu ton
- Kecamatan Conggeang: 32,18 ribu ton
- Kecamatan Ujungjaya: 30,25 ribu ton
- Kecamatan Tanjungkerta: 24,68 ribu ton
- Kecamatan Sumedang Selatan: 23,9 ribu ton
Kombinasi hamparan sawah yang luas, dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, serta pengalaman bertani yang diwariskan lintas generasi menjadi faktor kunci stabilitas produksi padi di wilayah-wilayah ini. Para petani yang telah terbiasa dengan pola tanam yang sesuai dengan kondisi lokal mampu memaksimalkan hasil panen setiap musim.
Tantangan Menjaga Ketahanan Pangan
Meskipun memiliki surplus beras yang signifikan, Sumedang tidak dapat menganggap remeh tantangan yang harus dihadapi untuk mempertahankan capaian ini. Beberapa masalah utama yang perlu diatasi antara lain:
- Ketersediaan air irigasi: Perubahan iklim menyebabkan curah hujan yang tidak terprediksi, sehingga membutuhkan upaya pengelolaan air yang lebih baik untuk memastikan pasokan air yang cukup untuk sawah.
- Infrastruktur irigasi yang perlu diperbaiki: Beberapa saluran irigasi di wilayah pedalaman masih dalam kondisi yang tidak memadai, sehingga mengurangi efektivitas penyiraman dan berpotensi menurunkan produktivitas tanaman.
- Adopsi teknologi pertanian: Meskipun sebagian petani telah menggunakan mesin perontok padi untuk mempercepat proses panen, masih banyak petani yang masih menggunakan metode tradisional yang kurang efisien dan membutuhkan waktu lebih lama.
- Regenerasi petani: Banyak petani muda yang lebih memilih bekerja di kota daripada terjun ke dunia pertanian, sehingga menyebabkan kekurangan tenaga kerja pertanian yang terampil di masa depan.
Tono Suhartono juga menekankan bahwa menjaga produktivitas pertanian adalah pekerjaan rumah yang harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan dampak perubahan iklim yang semakin parah. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan surplus beras, tetapi juga untuk memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan bagi Sumedang dan wilayah Jawa Barat pada umumnya.