Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Sukabumi Catat Inflasi 2,47% per Juli 2026, Emas Perhiasan Sumbang Andil Terbesar

Jabar · Oleh ·

Inflasi tahunan Sukabumi Juli 2026 capai 2,47% dengan IHK 112,67. Emas perhiasan jadi penyumbang andil terbesar 0,52%. Secara bulanan justru deflasi 0,02%.

Sukabumi Catat Inflasi 2,47% per Juli 2026, Emas Perhiasan Sumbang Andil Terbesar

Tren kenaikan harga terus berlanjut di Kota Sukabumi sepanjang tahun ini. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan (year-on-year) pada Juli 2026 mencapai 2,47 persen dengan Indeks Harga Konsumen menyentuh 112,67, dibandingkan angka 109,95 pada periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi pendorong utama inflasi di kota itu. Kelompok ini melonjak 9,80 persen secara tahunan. Emas perhiasan menyumbang bagian terbesar dari kelompok ini dengan andil 0,52 persen terhadap inflasi tahunan.

"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Juli 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan," kata Kepala BPS Kota Sukabumi Dani Jaelani, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Prabowo Ingin Laba Danantara Mengalir ke APBN, Bagaimana Modalnya

Andil emas perhiasan itu diikuti oleh komoditas kebutuhan harian seperti sampo dan pasta gigi yang masing-masing menyumbang 0,02 persen. Hand body lotion, parfum, kacamata, dan tarif gunting rambut wanita juga ikut mengerek angka inflasi di kelompok perawatan pribadi.

Komoditas kebutuhan pokok turut andil dalam melonjakkan inflasi. Minyak goreng dan daging ayam ras menjadi pemicu utama di kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang inflasi 2,69 persen dengan andil masing-masing 0,13 persen. Rokok kretek mesin dan tahu mentah juga menyumbang dari kelompok yang sama.

Bensin menjadi komoditas dominan dari sektor transportasi dan kebutuhan pokok yang memberikan sumbangan inflasi bulanan sebesar 0,05 persen pada Juli ini.

Baca Juga: MC hingga Pemberi Tantangan Jadi Tersangka dalam Kasus Hafalan Al-Qur'an Berbasis Miras di Ancol

Kendati secara tahunan melambung, harga-harga di Kota Sukabumi justru menunjukkan pelemahan pada bulan berjalan. Indeks harga konsumen pada Juli turun 0,02 persen dibanding Juni yang menandakan deflasi bulanan tipis.

"Penurunan harga bulanan ini dipicu oleh koreksi harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,56 persen, serta kelompok perawatan pribadi yang terkoreksi 0,80 persen," jelas Dani.

Posisi inflasi year-to-date dari Januari hingga Juli 2026 saat ini berada di angka 1,52 persen.

Sebagai perbandingan, gempa magnitudo 3,2 pernah mengguncang wilayah ini pada awal tahun tanpa menyebabkan kerusakan. Kondisi geografis Sukabumi yang berada di wilayah rawan gempa menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam analisis dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat kota tersebut.