Sujiwo Tejo, Riri Riza, dan Acep Zamzam Noor Ajak Anak Muda rawat Indonesia Lewat Kebudayaan
Tiga seniman, Sujiwo Tejo, Riri Riza, dan Acep Zamzam Noor, berdialog dengan anak muda Bandung soal mencintai Indonesia lewat kebudayaan jelang Hari Santri

Di sebuah diskusi jelang Hari Santri, tiga seniman mengutarakan satu pandangan serupa. Kebudayaanlah yang bisa menjadi jalan bagi anak muda untuk mencintai Indonesia di tengah kompleksitas politik saat ini.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Barat mengundang Sujiwo Tejo, Riri Riza, dan Acep Zamzam Noor untuk berdialog dengan ratusan anak muda Bandung, Minggu (18/10/2026). Pertemuan ini tidak diawali dengan pidato politik, melainkan dengan pengalaman.
Sujiwo Tejo membuka obrolan dengan mengakui kenyataan bahwa mencintai Tanah Air kini penuh tantangan. Kata-kata idealis kerap tenggelam di tengah sorotan oligarki di media sosial. Baginya, jalan keluarnya ada pada puisi.
Baca Juga: Bek Pengganti Julio Cesar Cetak Gol Penentu, Persib Bandung Petik Tiga Poin dari Persik Kediri
"Pengertian baru untuk mencintai Tanah Air itu harus lewat puisi. Tantangannya bagaimana mencintai Indonesia ini selalu bisa dikeluarkan para penyair dengan kata-kata mereka," tutur Sujiwo.
Dia menjelaskan bahwa penyair-penyair hebat Indonesia banyak berasal dari kalangan pesantren. Cerita lugu mereka selama di pesantren menjadi perspektif baru dalam berbudaya. Sujiwo pun mengajak anak muda di lingkungan pesantren untuk menunjukkan bahwa mencintai Tanah Air tetap bisa dijalankan lewat kebudayaan.
Riri Riza mengambil sudut berbeda. Sineas yang dikenal lewat film-film bertema sosial ini meminta anak muda berkesenian dengan sadar bahwa karya mereka harus mendorong perbaikan di dalam negeri.
Baca Juga: Tiga Tersangka Pen谋杀 di Tol Bocimi KM 69 Dibekuk Usai Melarikan Diri ke Bandung
Seni, menurut Riri, selalu memiliki gagasan luhur. Seni modern pun sebenarnya menjadi identitas Indonesia yang tidak boleh dihilangkan.
"Jadi jelas aspirasinya bagaimana merawat warisan anak bangsa di bidang perfilman," kata Riri.
Bagi anak muda Bandung yang selama ini akrab dengan komunitas kreatif, pesan Riri terasa dekat. Bandung sudah lama dikenal sebagai laboratorium kreatif anak muda Indonesia. Dari scene musik underground hingga festival seni jalanan, kota ini terus melahirkan karya-karya yang punya muatan kritik sosial.
Diskusi ini menjadi pengingat bahwa berkesenian bukan sekadar ekspresi, tapi juga tanggung jawab. Setiap karya yang dihasilkan bisa menjadi ruang untuk merawat nilai-nilai yang menurut para seniman sudah mulai terkikis.
Acep Zamzam Noor memperkuat gagasan itu dengan menunjukkan kekayaanwarisan para leluhur yang kerap diasosiasikan dengan pesantren. Cerpen, puisi, dan bentuk tulisan lain yang lahir dari lingkungan itu bisa menjadi contoh bagi anak muda untuk tetap mencintai Tanah Air lewat pengembangan kebudayaan.
"Warisan spiritual ini bisa dimasukkan pada ranah politik untuk hal yang memang baik," kata Acep.
Syaiful Huda dari DPW PKB Jawa Barat menekankan bahwa mencintai Tanah Air bagi seorang santri adalah kewajiban yang sudah seperti doktrin. Bagi anak muda non-santri yang hadir, pesan ini bisa diterjemahkan sebagai panggilan untuk berkontribusi apa pun latar belakang mereka.
NuArt pernah mengajak anak-anak berekspresi lewat lokakarya jurnal seni sebagai salah satu cara mengembangkan kreativitas di usia dini. Pengalaman itu menunjukkan bahwa potensi kebudayaan sudah bisa ditumbuhkan sejak kecil, bukan menunggu hingga dewasa.