Situ Cipanten Majalengka: Transformasi Digital Ekonomi Wisata Desa
Situ Cipanten Majalengka jadi contoh sukses integrasi wisata dan inklusi keuangan digital, meningkatkan ekonomi desa melalui BUMDes dan program EKI OJK.

Potensi Wisata Alam yang Menenangkan Hati
Di tepian Situ Cipanten, Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat, suasana tenang menyambut para pengunjung. Danau dengan air berwarna kebiruan dan hijau tua ini dikelilingi pepohonan rindang yang menciptakan kesejukan alami. Ikan-ikan koi bergerombol di permukaan air, menunggu pakan dari wisatwan yang duduk bersantai di bibir beton.
Perahu bebek melintas perlahan di tengah danau, mengangkut tawa keluarga yang mencari pelarian dari kepenatan rutinitas sehari-hari. Bagi Eki Yulianto, wisatawan asal Cirebon, Situ Cipanten menawarkan ketenangan yang sulit ditemukan di destinasi wisata lain yang cenderung padat.
"Tempatnya walau ramai, sangat sejuk, jadi enak buat santai. Duduk saja sudah cukup. Rasanya kepala lebih ringan setelah lihat air dan pepohonan," ujar Eki.
Kesan alami dan sederhana menjadi daya tarik utama destinasi ini. Arif, pengunjung asal Sumedang, mengaku tertarik berkunjung setelah melihat foto-foto Situ Cipanten di media sosial. Keasrian suasana menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin melepas penat.
BUMDes Karya Mekar: Tulang Punggung Ekonomi Desa
Di balik keindahan alamnya, Situ Cipanten telah bertransformasi menjadi tulang punggung ekonomi Desa Gunung Kuning. Pengelolaan destinasi wisata ini ditangani oleh BUMDes Karya Mekar bekerja sama dengan karang taruna setempat.
Fasilitas dibangun secara bertahap, mulai dari mushala, area parkir, hingga tujuh wahana air yang meliputi perahu dayung dan sepeda gantung. Pertumbuhan ini terlihat dari angka pendapatan yang terus meningkat.
Pertumbuhan ekonomi Situ Cipanten:
- Pendapatan bruto BUMDes 2024: Rp2,4 miliar
- Pendapatan hingga September 2025: Rp2,5 miliar
- Jumlah wisatawan hingga September 2025: 139 ribu orang
- Kunjungan periode Natal 2025-Tahun Baru 2026: 13.710 orang
Dari sektor wisata ini, BUMDes mampu menyerap sekitar 70 pekerja muda desa dengan honor mingguan sekitar Rp1,5 juta. Banyak di antara mereka yang sebelumnya bekerja serabutan atau merantau kini dapat bertahan dan berkarya di kampung halaman sendiri.
Inklusi Keuangan Melalui Sektor Wisata
Desa Gunung Kuning dipilih sebagai lokasi program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program ini memanfaatkan sektor wisata sebagai pintu masuk untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Direktur BUMDes Karya Mekar, Yosep Hendrawan, menyatakan bahwa dampak program mulai nyata terlihat di kawasan wisata. Sebanyak 28 warung binaan di Situ Cipanten kini telah menggunakan pembayaran digital melalui QRIS.
"Saat ini tinggal diperkuat literasinya, supaya masyarakat lebih paham penggunaan uang digital," kata Yosep.
Program ini tidak hanya fokus pada pembayaran digital, tetapi juga memberikan edukasi komprehensif mengenai:
- Tabungan dan pengelolaan keuangan
- Kredit usaha yang sehat
- Bahaya pinjaman online ilegal
- Penggunaan layanan keuangan formal
Perubahan cara pandang masyarakat terhadap uang mulai terlihat. Warga semakin terbiasa menabung, mengenal layanan perbankan, dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal. Wisata memberikan pemasukan, sementara inklusi keuangan menjaga agar perputaran uang tetap sehat dan berkelanjutan.
Kolaborasi Multi-Pihak untuk Ekosistem Keuangan Desa
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, menjelaskan bahwa program Desa EKI dirancang untuk memperkuat akses keuangan sekaligus membangun potensi lokal. Saat ini, program diarahkan untuk mengembangkan konsep desa wisata ramah difabel sebagai keunggulan kompetitif.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi erat antara:
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
- Bank Indonesia
- Pemerintah daerah
- Pemerintah desa
- BUMDes
- Industri jasa keuangan
Pendekatan yang digunakan tidak sebatas penyaluran kredit, melainkan membangun ekosistem keuangan yang utuh di tingkat desa. Program Desa EKI di Gunung Kuning dilaksanakan dalam tiga tahap hingga 2026: pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi.
Pemetaan Kebutuhan dan Product Matching
Pada tahap awal, OJK memetakan kebutuhan akses keuangan terhadap 108 peserta program. Hasilnya menunjukkan kebutuhan yang beragam:
- 51 persen peserta membutuhkan tabungan
- 19 persen membutuhkan kredit usaha
- 4 persen membutuhkan deposito
- 3 persen membutuhkan pembiayaan kendaraan
Tahap selanjutnya dilakukan product matching antara lembaga perbankan dan industri keuangan non-bank untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Edukasi tentang risiko pinjaman online ilegal dan pentingnya menggunakan layanan keuangan resmi menjadi bagian integral dari program ini.
Perluasan Program ke Wilayah Lain
Keberhasilan program di Majalengka mendorong perluasan implementasi di wilayah lain. OJK telah memperluas program Inkubasi Desa EKI di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Di Desa Karangtawang, program melibatkan sekitar 200 UMKM dengan fokus pada penguatan pemahaman masyarakat terhadap produk pembiayaan formal yang aman dan berizin. Peserta diperkenalkan pada berbagai skema pendanaan dari perbankan sebagai alternatif pembiayaan legal untuk pengembangan usaha.
Program serupa juga telah dijalankan di Desa Kaduela, Kabupaten Kuningan. Inisiatif ini berhasil memperluas akses keuangan melalui agen Laku Pandai BUMDes Arya Kamuning, sekaligus menekan praktik rentenir, pinjaman ilegal, dan pungutan liar.
Dukungan Pemerintah Daerah untuk Pengembangan Berkelanjutan
Situ Cipanten kini diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata alam di Kabupaten Majalengka. Pemerintah daerah menilai destinasi ini memiliki potensi besar sebagai objek wisata keluarga maupun ekowisata.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pengembangan kawasan Situ Cipanten melalui:
- Penataan infrastruktur
- Peningkatan aksesibilitas
- Penguatan kapasitas masyarakat sekitar
Pengembangan wisata diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Masyarakat dilibatkan aktif dalam pengelolaan fasilitas, penyediaan jasa wisata, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif.
Pemerintah daerah juga mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, komunitas, dan lembaga pendidikan. Kolaborasi ini diharapkan memunculkan inovasi dalam penataan kawasan, promosi digital, hingga penyelenggaraan kegiatan budaya dan lingkungan yang menarik.
Dampak Jangka Panjang bagi Ekonomi Desa
Integrasi antara pengembangan wisata dan inklusi keuangan di Situ Cipanten menunjukkan model pembangunan desa yang berkelanjutan. Wisata menjadi mesin penggerak ekonomi, sementara literasi keuangan memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung sehat dan inklusif.
Bagi masyarakat desa, program ini membuka peluang:
- Pekerjaan yang layak di kampung halaman
- Akses terhadap layanan keuangan formal
- Peningkatan kapasitas dan keterampilan
- Perlindungan dari praktik pinjaman ilegal
Model yang dikembangkan di Situ Cipanten dapat menjadi referensi bagi desa-desa lain di Indonesia yang ingin mengembangkan potensi wisata sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakatnya melalui inklusi keuangan.