Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Satu Tahun Bandung: Wali Kota Farhan Fokus Menjaga Kepercayaan Publik

Bandung · Oleh Fikri Ramadhan ·

Satu tahun kepemimpinan Muhammad Farhan sebagai Wali Kota Bandung, ia fokus menjaga kepercayaan publik melalui layanan sehari-hari, transparansi, dan kolaborasi warga untuk kota yang lebih baik.

Satu Tahun Bandung: Wali Kota Farhan Fokus Menjaga Kepercayaan Publik

KOTA BANDUNG – Suduh satu tahun Muhammad Farhan mengemban amanah sebagai Wali Kota Bandung. Dalam perjalanan kepemimpinannya yang pertama, ia menekankan bahwa fokus utama adalah menjaga kepercayaan publik, sambil mengakui bahwa Bandung adalah kota dengan energi besar, kreativitas tinggi, dan ekspektasi publik yang tidak pernah kecil.

Foto: Diwan Sapta Nurmawan

Latar Belakang Pengalaman Satu Tahun Kepemimpinan

Farhan menyampaikan bahwa dalam setahun terakhir, ia telah menerima berbagai masukan, harapan, kritik, bahkan kekecewaan dari warga Bandung, baik secara langsung maupun melalui ruang digital. Ia menegaskan bahwa semua masukan itu diterimanya sebagai bagian dari demokrasi kota yang hidup.

"Sejak awal, kami berkomitmen menjaga agar ruang bagi warga menyampaikan pendapat, termasuk kritik, tetap terbuka. Tugas pemerintah adalah memastikan suara-suara itu tidak berhenti di keluhan, tetapi dijawab dengan perbaikan nyata," ujar Farhan dalam keterangan pers.

Prioritas Layanan Publik yang Dirasakan Sehari-hari

Farhan menambahkan bahwa memimpin Bandung tidak cukup dengan gagasan besar atau program yang terdengar menarik. Yang paling dirasakan warga adalah hal-hal sehari-hari: sampah yang terkelola, jalan yang tertata, parkir yang lebih manusiawi, ruang publik yang ramah, serta pelayanan publik yang responsif. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan warga hampir selalu berangkat dari pengalaman nyata dalam keseharian mereka. Karena itu, ia tidak melihat kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa kehadiran pemerintah harus benar-benar terasa dalam kehidupan warga.

Kota Bandung sering dijuluki sebagai kota event, dan Farhan mengakui bahwa julukan ini tidak sepenuhnya keliru. Event dapat menggerakkan ekonomi, memberi ruang ekspresi budaya, dan menarik wisatawan. Namun, ia juga memahami kritik yang menyertainya, seperti kemacetan, sampah pasca-acara, dan pertanyaan tentang manfaat jangka panjang bagi warga.

"Ke depan, setiap event di Kota Bandung harus memenuhi standar yang lebih jelas. Tidak cukup hanya ramai, tetapi harus berdampak. Dampak ekonomi harus terukur, keterlibatan UMKM harus nyata, dan tanggung jawab lingkungan harus menjadi bagian dari perencanaan," jelas Farhan.

Ia menambahkan bahwa isu seperti sampah, tata kota, dan ruang publik mungkin tidak selalu menjadi berita utama, tetapi inilah wajah pemerintahan yang paling dekat dengan kualitas hidup masyarakat.

Menghadapi Ujian Integritas dan Kepercayaan

Menurut Farhan, tahun pertama kepemimpinan ini juga menjadi pengingat bahwa membangun kota tidak pernah lepas dari ujian. Di tengah kerja-kerja pembangunan dan pelayanan publik, kepercayaan masyarakat diuji oleh berbagai dinamika yang menyentuh aspek etika dan integritas pemerintahan. Ia menegaskan prinsip yang dipegang: menghormati proses hukum, menjaga akuntabilitas institusi, dan memastikan pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa gangguan.

"Integritas pemerintahan tidak ditentukan oleh absennya masalah, melainkan oleh cara kita bersikap ketika masalah itu muncul," ujarnya.

Membangun Kepercayaan Melalui Transparansi dan Konsistensi

Farhan juga menyinggung bahwa kepercayaan publik tidak bisa dibangun dengan retorika. Ia tumbuh dari keterbukaan dan konsistensi. Karena itu, pemerintah kota sedang berupaya memperkuat transparansi, termasuk dalam pengelolaan anggaran daerah dan pengambilan keputusan publik.

"Pemerintah kota tidak boleh alergi terhadap pertanyaan. Di era digital, kepercayaan dibangun lewat data, penjelasan yang jujur, dan kesediaan untuk dikoreksi," tambahnya.

Ia menggunakan kata "merawat" untuk menggambarkan arah kepemimpinan Kota Bandung. Menurutnya, kota bukan sekadar kumpulan proyek, melainkan ruang hidup bersama. Merawat berarti memperhatikan yang kecil, mendengar yang lemah, dan memperbaiki yang rusak, sedikit demi sedikit tetapi konsisten.

"Satu tahun pertama ini adalah fase belajar dan menata fondasi. Tahun-tahun berikutnya harus menjadi fase mempercepat, dengan komitmen pada layanan publik yang manusiawi, lingkungan yang lestari, ekonomi yang inklusif, dan tata kelola yang bersih," jelas Farhan.

Ajakan Kolaborasi untuk Masa Depan Bandung

Farhan menekankan bahwa Bandung tidak akan pernah selesai oleh wali kota dan jajaran pemerintah saja. Kota ini hidup dan bergerak karena warganya. Karena itu, ia mengajak seluruh warga Bandung untuk terus terlibat, mengawasi, dan menjaga kota ini bersama-sama.

"Satu tahun ini bukan tentang klaim keberhasilan, melainkan tentang tanggung jawab untuk terus belajar. Bandung yang kita cintai bukan hanya warisan, tetapi titipan bagi generasi berikutnya. Tugas kita hari ini adalah merawatnya bersama agar Bandung benar-benar tumbuh sebagai kota utama, unggul dalam kualitas hidup, terbuka dalam tata kelola, amanah dalam kepemimpinan, dan terus bergerak maju," pungkasnya.