Ribuan Sekolah di Cianjur Belum Diperbaiki, Bantuan Revitalisasi Jadi Solusi
Lebih dari 1.000 sekolah di Cianjur belum diperbaiki, 500 ruang kelas rusak berat. Program revitalisasi Kemendikdasmen jadi solusi nyata untuk sekolah swasta.

Krisis Ruang Kelas Rusak di Cianjur: 1.000 Sekolah Masih Menunggu Perbaikan
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencatat lebih dari seribu SD dan SMP di wilayahnya hingga kini belum tersentuh perbaikan sarana dan prasarana pendidikan. Conditio ini mendorong pemerintah daerah untuk memaksimalkan program revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Kepala Disdikpora Cianjur, Ruhli Solehudin, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Setidaknya 500 ruang kelas di berbagai sekolah mengalami kerusakan berat dan tidak dapat digunakan untuk proses belajar mengajar selama beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Evakuasi Jasad Perempuan dari Sumur 12 Meter di Tasikmalaya Terhambat Ular Kobra
"Kami melakukan berbagai cara tidak hanya ke pemerintah pusat dan provinsi, kami juga menggandeng berbagai perusahaan dapat menyalurkan dana CSR-nya guna membantu pembangunan ruang kelas yang rusak mulai dari utara hingga selatan Cianjur," jelas Ruhli.
Program Revitalisasi untuk Sekolah Swasta
Dalam upaya mengatasi krisis ini, pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen menghadirkan program revitalisasi yang menyasar sekolah swasta di tingkat SD dan SMP. Program ini mencakup peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan, meliputi:
Baca Juga: MUI: Laki-laki Pakai Pakaian Perempuan Saat Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
- Renovasi ruang kelas yang rusak
- Perbaikan ruang guru dan fasilitas pendukung
- Peningkatan ruang fasilitas belajar lainnya
Di Cianjur, beberapa lembaga yang menjadi sasaran program ini antara lain Yayasan Al-Azmi dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sarbini.
Monitoring dan Evaluasi Langsung oleh Kemendikdasmen
Tim dari Kemendikdasmen secara langsung melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke lokasi sekolah yang sedang menjalani proses revitalisasi. Ruhli menyatakan bahwa pemerintah daerah turut mengawasi jalannya program ini.
"Kami mendampingi kegiatan monitoring dan evaluasi dari Kemendikdasmen ke sejumlah sekolah jenjang SD dan SMP swasta yang sedang melaksanakan Program Revitalisasi di Cianjur," tutur Ruhli.
Kegiatan monev ini bertujuan untuk:
- Meninjau progres pelaksanaan revitalisasi secara langsung
- Memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar
- Mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan representatif bagi peserta didik
Tim juga melakukan verifikasi ke PKBM Sarbini di Kecamatan Cugenang sebagai calon penerima bantuan, untuk memastikan seluruh persyaratan dan ketentuan program telah dipenuhi.
Sinergi Pusat dan Daerah untuk Pendidikan Cianjur
Ruhli berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat berjalan optimal, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Program ini diharapkan mampu:
- Menurunkan angka putus sekolah
- Mempercepat perbaikan usia lama sekolah
- Menyesuaikan program dengan arahan pemerintah pusat dan provinsi
Tantangan Anggara jadi Hambatan Utama
Keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama pemerintah daerah dalam memperbaiki infrastruktur pendidikan. Setiap tahun, anggaran dari APBD Cianjur sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan perbaikan ribuan ruang kelas yang rusak.
Karenanya, berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari mengajukan bantuan ke pemerintah pusat dan provinsi, hingga menggandeng perusahaan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) untuk membantu percepatan pembangunan ruang kelas.
Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan darurat terhadap krisis infrastruktur pendidikan di Cianjur membutuhkan kolaborasi multi-sektor antara pemerintah dan dunia usaha demi masa depan pendidikan ribuan anak di wilayah tersebut.