Resiliensi Desa ASEAN: Strategi Indonesia Bangun Ketahanan Komunitas di Bandung
Indonesia menginisiasi diskusi strategis tentang resiliensi berkelanjutan ASEAN di Bandung. Fokus pada peran desa dan komunitas lokal sebagai garda terdepan menghadapi perubahan iklim dan bencana.

Desa sebagai Fondasi Ketahanan ASEAN Menghadapi Tantangan Global
Indonesia mengambil langkah strategis dengan menginisiasi diskusi tingkat tinggi tentang resiliensi berkelanjutan dalam konteks ASEAN. Dalam forum yang diselenggarakan di Bandung pada Kamis (30/7), dibahas secara mendalam peran sentral desa dan komunitas lokal dalam membangun ketahanan kawasan terhadap perubahan iklim dan berbagai ancaman bencana.
Membangun Visi Komunitas ASEAN 2045 Melalui Pendekatan Berbasis Desa
Pertemuan yang gelar di sela-sela ACDM (ASEAN Committee on Disaster Management) ke-48 ini menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam menerjemahkan Visi Komunitas ASEAN 2045 menjadi aksi konkret yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Dr. Raditya Jati, yang juga menjabat sebagai chair ACDM ke-48, menegaskan bahwa forum ini merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur penanggulangan bencana ASEAN.
"Indonesia percaya bahwa masyarakat lokal yang resilien merupakan fondasi dari kawasan ASEAN yang resilien."
Pandangan ini selaras dengan Asta Cita, terutama dalam penguatan pembangunan dari desa sebagai fondasi resiliensi masyarakat, termasuk resiliensi pangan dan energi.
Tiga Langkah Strategis untuk Resiliensi Desa ASEAN
Dalam forum tersebut, Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Nugroho Setijo Nagoro, mengusulkan tiga langkah komprehensif untuk membangun resiliensi desa di kawasan ASEAN:
- Desa sebagai inisiator utama dalam setiap program pembangunan dan penanggulangan bencana
- Siklus pembangunan berbasis desa yang memastikan keberlanjutan dan kesinambungan program
- Dukungan multi-pihak yang melibatkan berbagai stakeholder untuk memperkuat kapasitas desa
Peran Akademisi dan Pemuda dalam Melestarikan Kearifan Lokal
Wacana tentang resiliensi berkelanjutan juga mendapat kontribusi berharga dari sektor akademis. Yoga Andriana Sendjaja, Wakil Dekan Universitas Padjadjaran (Unpad), menekankan pentingnya pelibatan pemuda dan peran universitas dalam melestarikan kearifan lokal sebagai pendekatan berkelanjutan untuk membangun resiliensi desa.
Pendekatan ini dinilai krusial mengingat kearifan lokal sering kali menjadi modal sosial yang tidak ternilai dalam menghadapi berbagai tantangan di tingkat komunitas.
Kolaborasi Global untuk Resiliensi Berkelanjutan
Perwakilan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), Iwan M. Raharja, memberikan apresiasi tinggi terhadap Tinjauan Strategis Resiliensi Berkelanjutan yang diajukan Indonesia. Ia menyatakan kesiapan UNOCHA untuk mendukung sinergi kerangka kerja ini hingga ke tingkat global.
Dalam forum tersebut, Indonesia mengajukan proposal untuk pembahasan lebih lanjut terkait implementasi ASEAN Leaders' Declaration on Sustainable Resilience yang telah diadopsi pada tahun 2023. Pembelajaran antarnegara anggota dan mitra diharapkan menjadi percontohan global untuk agenda Pasca-2030.
Menciptakan Kawasan ASEAN yang Tangguh dan Berdaya Saing
Forum yang diselenggarakan di Bandung ini menghasilkan rekomendasi kebijakan dan peta kemitraan strategis yang memperkokoh posisi ASEAN sebagai kawasan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan global.
Konsep Sustainable Resilience atau Resiliensi Berkelanjutan yang dibahas dalam forum ini menegaskan bahwa resiliensi tidak hanya diterapkan dalam penanggulangan bencana, tetapi perlu diarusutamakan dalam berbagai sektor dan pilar kerja sama ASEAN. Dengan demikian, kesepakatan tentang pentingnya resiliensi desa dalam membangun ketahanan kawasan atas ancaman iklim dan resiliensi pangan menjadi salah satu pencapaian signifikan dari pertemuan ini.