Ramai Insiden Anjing Serang Anak: dari Cianjur-Bandung dan Penyebabnya
Dua kasus serangan anjing liar di Cianjur dan Bandung menyerang anak-anak, menyebabkan luka serius dan gejala seperti panas serta kejang. Artikel ini menganalisis peristiwa, penanganan korban, dan upaya pencegahan kejadian serupa.

Serangan Anjing Liar di Jawa Barat: Dua Kasus yang Mengkhawatirkan dan Upaya Pencegahan
Kasus di Cianjur: 8 Ekor Anjing Menyerang Bocah SD Sepulang Sekolah
Pada Kamis (29/1), bocah SD perempuan berusia 7 tahun bernama CS dari Desa Mekarjaya, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur mengalami kejadian traumatis saat berjalan kaki pulang sekolah. Ia diserang oleh delapan ekor anjing liar di area perkebunan, yang langsung menggigit dan mengoyak tubuhnya hingga mengalami luka serius di sekujur badan.
"Kondisi korban masih dalam penanganan intensif RSUD Sayang, Cianjur. Karena, terdapat beberapa luka parah akibat gigitan anjing liar itu," ujar Kepala Desa Mekarjaya, Ahmad Saripudin, kepada kumparan pada Jumat (30/1).
Menurut Saripudin, kejadian ini adalah yang pertama kali terjadi di wilayah tersebut. Warga segera menolong korban dan membawanya ke rumah sakit untuk penanganan medis. Selain itu, sejumlah anjing yang berhasil ditangkap warga langsung dibunuh sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang. Saat ini, pihak rumah sakit sedang melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah korban terinfeksi virus rabies, meskipun hasil awal belum menunjukkan indikasi tersebut.
"Serangkaian pemeriksaan uji laboratorium masih menunggu hasil. Hingga saat ini tidak terlihat gejala-gejala rabies. Tapi, kita pastikan dengan hasil laboratorium," ucap Humas RSUD Sayang, Raya Sandi.
Kasus di Bandung: 5 Anjing Besar Serang Dua Bocah Bersaudara
Satu hari sebelumnya, Rabu (28/1), dua bocah bersaudara yaitu Arisa dan Kanisa di RT 04/RW 10, Kelurahan Warung Muncang, Bandung Kulon, Kota Bandung juga menjadi korban serangan anjing. Mereka sedang berjalan pulang setelah jajan ketika segerombolan lima anjing besar datang dari arah Jalan Rajawali dan langsung menyerang salah satu dari mereka.
"Malamnya panas sampai 39 derajat dan kejang-kejang, dibawa lagi ke rumah sakit sampai jam 12 malam," kata Agus, kakek korban, kepada kumparan.
Korban mengalami luka gigitan dan dibawa ke Rumah Sakit Pindad untuk penanganan serta vaksinasi. Meskipun kondisi kini berangsur membaik, kedua bocah masih merasakan trauma dari kejadian tersebut. Pemilik anjing-anjing ini bersedia bertanggung jawab terhadap luka yang dialami korban, meskipun hingga saat ini belum ada kalkulasi pasti tentang biaya perawatan.
Alasan anjing-anjing itu bisa lepas adalah karena gerbang tempat mereka ditempatkan di garasi tidak dikunci. Ada dua kemungkinan penyebabnya: gerbang dibuka oleh tukang beling (rongsok) atau pembantu pemilik lupa mengunci gerbang. Anjing-anjing ini dimiliki oleh seseorang yang tinggal di daerah Rajawali, jauh dari tempat kejadian.
Dampak dan Upaya Pencegahan Kejadian Serupa
Kedua kasus ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap keberadaan anjing liar di wilayah Jawa Barat. Selain dampak fisik berupa luka serius dan risiko infeksi rabies, korban juga mengalami dampak psikologis berupa trauma yang bisa berlangsung lama.
Untuk mencegah kejadian serupa, beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:
- Koordinasi antara desa/kota dengan dinas peternakan untuk melakukan penangkapan dan pemeriksaan rutin anjing liar di wilayahnya
- Edukasi masyarakat tentang cara berinteraksi dengan anjing liar dan langkah yang harus diambil jika diserang
- Tanggung jawab pemilik anjing untuk selalu mengawasi dan menutup tempat penampungan anjing dengan benar, agar tidak lepas dan menyerang orang lain
- Pemeriksaan rabies secara berkala pada anjing liar yang ditangkap, untuk memastikan tidak ada risiko penularan virus ke manusia
Kasus serangan anjing liar di Cianjur dan Bandung harus menjadi peringatan bagi semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga pemilik anjing, untuk bekerja sama dalam menjaga keamanan warga, terutama anak-anak yang lebih rentan menjadi korban.