Putih Sari Tegaskan Bahaya Hoaks, Tantangan LGBT, dan AI dalam Penguatan 4 Pilar MPR RI di Era Digital
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Putih Sari menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR di Sukamurni, Bekasi, menekankan perannya sebagai benteng melawan hoaks, ideologi asing, dan tantangan AI, serta mendorong masyarakat tetap berpegang pada nilai kebangsaan.

Mengapa Empat Pilar MPR Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Digital di Bekasi
Di tengah derasnya arus informasi digital yang membawa peluang dan ancaman sekaligus, Empat Pilar MPR RI kembali menjadi fokus perhatian sebagai dasar pertahanan nilai kebangsaan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Putih Sari, menegaskan hal ini dalam acara sosialisasi yang diadakan di Desa Sukamurni, Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Bekasi pada 15 Desember 2026.
Sosialisasi Empat Pilar di Sukamurni: Dialogis dengan Masyarakat
Acara yang diikuti masyarakat dengan antusias ini berlangsung dalam suasana dialogis dan akrab, dengan penekanan pada semangat gotong royong dan toleransi. Tujuan utama sosialisasi adalah mengingatkan kembali pentingnya Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai panduan hidup di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan.
Hoaks Sebagai Racun Sosial: Bagaimana Empat Pilar Berperan?
Putih Sari menyoroti bahwa hoaks adalah ancaman serius yang dapat memecah belah persatuan masyarakat. > "Hoaks adalah racun sosial. Jika masyarakat tidak memiliki filter nilai Pancasila, maka hoaks bisa memecah persatuan, merusak kepercayaan, bahkan memicu konflik di tengah masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, Empat Pilar MPR berperan sebagai filter yang membantu masyarakat membedakan kebenaran dari kebohongan. Pancasila sebagai dasar berpikir membuat masyarakat mampu menilai informasi dengan kritis, sedangkan NKRI sebagai harga mati memperkuat ikatan persatuan yang tidak mudah dipecah oleh disinformasi.
Ideologi Asing dan Isu Global: Pancasila Sebagai Kompas Moral
Dalam menghadapi ideologi asing dan isu global seperti LGBT, Putih Sari menekankan pentingnya tetap berpegang pada jati diri bangsa. > "Indonesia menjunjung tinggi kemanusiaan dan keadilan, namun kita juga memiliki jati diri, nilai agama, dan budaya luhur. Pancasila menjadi kompas moral agar bangsa ini tidak kehilangan arah dalam menyikapi berbagai isu global," tegasnya.
Empat Pilar MPR menjadi landasan untuk menyikapi isu-isu global dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan, tanpa harus mengorbankan identitas Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat perbedaan juga membantu masyarakat menghargai keragaman tanpa harus terjebak pada paham yang tidak sesuai dengan konteks lokal.
AI Tanpa Nurani? Mengintegrasikan Teknologi dengan Nilai Kebangsaan
Tantangan lain yang dihadapi adalah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Putih Sari mengingatkan bahwa AI harus dimanfaatkan secara beretika dan berlandaskan Empat Pilar MPR. > "AI adalah alat, bukan pengganti nilai. Tanpa Pancasila, teknologi bisa kehilangan nurani. Karena itu, kecerdasan buatan harus diimbangi dengan kecerdasan moral dan kebangsaan," ungkapnya.
Dia menekankan bahwa UUD 1945 sebagai rujukan hukum harus menjadi dasar dalam penggunaan AI, sehingga teknologi tidak menjadi alat manipulasi atau penyebaran kebencian. Integrasi teknologi dengan nilai kebangsaan akan memastikan bahwa AI memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa merusak nilai luhur Indonesia.
Tindak Lanjut: Membangun Warga Digital Cerdas Berlandaskan Nilai Luhur
Pada akhir acara, Putih Sari berharap masyarakat khususnya generasi muda mampu menjadi warga digital yang cerdas. Dia menekankan bahwa Empat Pilar MPR bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
- Membangun literasi digital untuk mengenali hoaks dan disinformasi
- Menggunakan AI dengan bertanggung jawab sesuai dengan nilai kebangsaan
- Menjaga persatuan dengan menghargai perbedaan berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika
Dengan menerapkan hal ini, masyarakat Bekasi dapat menjadi benteng yang kuat melawan berbagai tantangan modern, sekaligus mempertahankan keutuhan dan martabat bangsa Indonesia.