Purnatugas di Usia 57, Mantan Manajer Hotel Sukabumi Kini Six Kali Taklukkan Rute 60 Kilometer
Agus Safari (67) di Palabuhanratu, Sukabumi, baru serius berlatih fisik di usia 57 seusai pensiun. Ia telah enam kali menaklukkan rute lari 60 kilometer dan kini membangun arena kalistenik buatan sendiri untuk melawan penuaan otot.

Di halaman rumah seluas seperempat hektar di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, berdiri sebuah arena kalistenik sederhana namun ekstrem. Kerangka pipa besi dengan tangan horizontal dan gelang kayu gantung dari tali tambang menjadi pusat latihan harian bagi Agus Safari (67). Pria yang semula hanya gemar bermain bulutangkis ini baru serius melatih fisiknya setelah pensiun dari jabatan Front Office Manager di Grand Inna Samudra Beach Hotel pada 2014.
Peralihan karier ke olahraga berat membuahkan hasil luar biasa. Agus mencatatkan enam kali keberhasilan menempuh rute lari sepanjang 60 kilometer dari Kota Sukabumi menuju Palabuhanratu. Untuk menyelesaikan lintasan itu, ia biasanya menginap di rumah anaknya di Sukabumi, lalu memulai langkah di kisaran waktu setelah salat subuh. "Jarak tempuh kurang lebih 60 kilometer," katanya.
Seiring bertambahnya usia, Agus mulai mengurangi porsi lari jarak jauh. Ia kini mengalihkan fokus pada latihan kalistenik yang mengutamakan tumpuan berat badan sendiri. Setiap Senin hingga Jumat, ia menargetkan akumulasi jarak lari hingga 80 kilometer. Latihan itu diselingi push-up sebanyak 40 hingga 50 kali per hari.
Peralihan itu bukan tanpa alasan. Kalistenik menjadi benteng untuk melawan sarcopenia, yaitu penurunan massa dan kekuatan otot pada lansia yang secara alami berkurang sekitar satu persen per tahun jika tidak terjaga lewat aktivitas fisik. Di arena buatannya, Agus mampu melakukan front lever dengan mengunci tubuh secara horizontal di udara, serta bergelantung terbalik dengan tumpuan otot punggung dan lengan. Ia juga rutin membalik ban kendaraan berat seberat 65 kilogram sebagai latihan beban.
Gaya hidup aktif ini iawariskan kepada cucu-cucunya. Di fasilitas besi buatannya, cucunya yang berusia tiga tahun sudah terbiasa bergelantung pada gelang kayu. "Yang bungsu saja yang baru tiga tahun sudah bisa naik ke sini. Kami bagikan terhadap cucu dulu, nanti terhadap orang lain," tutur Agus.
Semangat itu menjalar lewat komunitas lari bernama Kokojorun yang didirikannya pada 2 September 2018. Kelompok ini awalnya hanya beranggotakan segelintir orang, kini membawahi sekitar 200 anggota dengan latar belakang beragam, mulai dari PNS, pekerja swasta, hingga pedagang pasar. Komunitas ini aktif mengikuti event lari nasional di Jakarta, Yogyakarta, hingga Bali.
Bagi Agus, latihan fisik harus ditopang gaya hidup seimbang. Ia menerapkan enam pilar kesehatan harian secara disiplin, meliputi restriksi kalori melalui puasa intermiten, pembatasan karbohidrat olahan, olahraga terukur minimal 30 menit, manajemen stres, tidur 6 hingga 7 jam, serta berjemur pada pukul 10.00 untuk paparan sinar ultraviolet B. "Kita punya satu prinsip, use it or lose it. Apa mau kehilangan atau digunakan? Otot dan otak harus terus dilatih," katanya. Lewat derap langkah puluhan kilometer dan gelungan otot di tiang besi, ia membuktikan bahwa tubuh manusia menyimpan kapasitas luar biasa untuk tetap bugar selama ada niat dan disiplin.