Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Polrestabes Bandung Hadirkan Kompetisi Melukis untuk Pelajar Difabel

Jabar · Oleh · · Diperbarui 25 Agustus 2026

Polrestabes Bandung gelar Lomba Melukis Difabel untuk pelajar SLB. 10 peserta tunjukkan kreativitas tanpa batas, bukti keterbatasan fisik tak menghambat seni.

Polrestabes Bandung Hadirkan Kompetisi Melukis untuk Pelajar Difabel

Polrestabes Bandung Dorong Inklusivitas Lewat Lomba Melukis Pelajar SLB

Sejumlah kanvas putih terpajang rapih di ruangan Polrestabes Bandung, Jumat (17/7/2026). Tidak seperti suasana kantor polisi pada umumnya, ruangan itu kini bertransformasi menjadi studio seni. Di balik keramaian, para pelajar dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Bandung fokus memainkan kuas dan memadukan warna.

Kesunyian mendominasi ruangan. Hanya suara sapuan cat yang lambat laun membentuk gambar di setiap kanvas. Bagi para peserta, lomba melukis ini bukan sekadar kompetisi. Setiap goresan menjadi media ekspresi diri, membuktikan bahwa keterbatasan fisik maupun sensorik sama sekali tidak menghambat kreativitas.

Baca Juga: Kejari Purwakarta Tahan Tiga Tersangka Penyalagunaan Kredit Bank BUMN Senilai Rp 3,4 Miliar

Peluang yang Disiapkan untuk Berprestasi

Polrestabes Bandung hadir memberikan ruang kreatif bagi penyandang disabilitas di kota ini. Lomba Melukis Difabel menjadi bukti nyata kepedulian institusi ini terhadap kesetaraan.

Wakapolrestabes Bandung,AKBP Dedi Wahyudi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari amanat undang-undang.

Baca Juga: Damkar Kuningan Evakuasi Ular Kobra 1 Meter dari Rumah Guru Ngaji

"Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Polri dalam menjunjung kesetaraan serta menjalankan amanat undang-undang agar kita bersama-sama menjaga kebersamaan tanpa memandang kondisi fisik," jelas Dedi.

Menurut beliau, setiap individu memiliki hak yang sama untuk menunjukkan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Lomba ini merupakan bagian dari ikhtisar untuk memperluas kesempatan bagi masyarakat difabel agar bisa berprestasi.

Antusiasme yang Tidak Bisa dibendung

Gagasan ini mendapat respons positif dari para pelajar SLB di Bandung. Data menunjukkan bahwa dari 35 SLB yang tersebar di Kota Bandung, tercatat 15 pelajar mendaftarkan diri. Sayangnya, lima di antaranya berhalangan hadir sehingga kompetisi akhirnya diikuti oleh 10 peserta.

Namun demikian, antusiasme peserta tetap tinggi. Sebagian besar telah mempersiapkan konsep lukisan mereka sejak satu hingga dua hari sebelum perlombaan dimulai. Persiapan matang ini bertujuan agar mereka bisa menghasilkan karya terbaik saat momen penilaian tiba.

Kreativitas Tanpa Batas

Peserta yang mengikuti lomba berasal dari berbagai latar belakang disabilitas, baik sensorik maupun fisik. Perbedaan kondisi tersebut sama sekali bukan penghalang untuk mencurahkan ide ke atas kanvas. Masing-masing menemukan cara unik mereka dalam mengungkapkan imajinasi.

Bagi Dedi, karya-karya yang dihasilkan menjadi pengingat kuat bahwa kreativitas tidak mengenal batasan. Kesempatan yang setara untuk berkarya dan berprestasi perlu terus dibuka lebar.

"Oleh karena itu, lomba ini menjadi salah satu ikhtiar Bapak Jenderal untuk memastikan masyarakat difabel memiliki kesempatan berkarya dan berprestasi dengan baik," katanya.

Lewat kompetisi ini, penyandang disabilitas dapat menunjukkan potensi yang selama ini mungkin kurang mendapat sorotan publik. Langkah kecil dari Polrestabes Bandung ini membuktikan bahwa ruang kreatif seharusnya bersifat inklusif.