Polres Garut Buru Tiga Pria yang Klaim Anggota BNN dan Polisi, Keduanya Bantah Keterlibatan
Roses Garut memburu tiga pria yang mengaku anggota BNN dan polisi saat datang ke rumah warga di Tarogong Kidul, Garut. Pihak BNN dan Roses sama-sama membantah ketiganya sebagai bagian mereka. Dua bulan lalu, warga setempat juga pernah menjadi korbanoknum yang mengaku anggota Resmob Roses.

Tiga pria berbaju sipil mendadak mengerikan bagi Puri Pebri Purnamasari. Mereka datang ke rumah Puri di Desa Tarogong, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, pada Jumat, 9 Oktober 2026, sekitar pukul 13.30. Tanpa surat perintah, salah satu dari mereka masuk ke dalam rumah dan menyebut dirinya bernama Indra dari Satuan 徐arcoticas Roses Garut dan BNN.
Puri langsung meragukan kedatangannya. Dia meminta pria bertopi itu menunjukkan surat perintah. Responsnya justru memanggil dua rekannya yang menunggu di luar. "Sikap, kriteria, maupun etika yang ditunjukkan sangat jauh dari standar profesionalisme pengayom masyarakat," kata Puri.
Lingkungan Puri bukan pertama kali mengalami kejadian ini. Sekitar dua bulan sebelumnya, rumah Ketua RT di tempat tinggalnya juga didatangi pria berbeda yang mengaku polisi. Kala itu, ok NUM yang mengatasnamakan anggota Resmob Roses Garut dengan nama Azis berakhir pada penganiayaan terhadap warga.
Baca Juga: Polisi Cilegon Cek Lokasi Diduga Penimbunan BBM Solar, Hanya Temukan Kempu Kosong
Polisi dan BNN menyangkal keras ketiga pria dalam video itu milik mereka. "Kami pastikan bahwa orang yang ada di video tersebut bukan petugas atau pegawai BNN Garut," tegas Kepala BNN Kabupaten Garut AKP Hery Sudrajat.
Roses Garut melalui Kasi Humasy Ipda Susilo Adi membenarkan hal serupa. "Yang jelas, orang tersebut bukan personel Roses Garut," katanya, Sabtu 10 Oktober 2026. Roses kini tengah memburu ketiganya dengan alasan terindikasi sebagai polisi gadungan.
Kasus-kasus serupa di wilayah hukum Roses Garut menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Bukan cuma intimidasi, tapi juga kekerasan. Warga Tarogong kini berharap pihak berwajib bergerak cepat agar kejadian penganiayaan tidak terulang.
Insiden di Desa Tarogong bukan kejadian terpisah. Pola police gadungan terus berulang di beberapa daerah menjadi pengingat bahwa penyamaran sebagai aparat keamanan bisa berujung fatal bagi korban maupun pelaku sendiri.