Polda Jabar Prediksi Dua Gelombang Puncak Mudik Lebaran 2026
Polda Jawa Barat memprediksi dua gelombang puncak mudik Lebaran 2026 di Jabar, beserta rencana pengamanan dan dukungan kebijakan gubernur untuk kelancaran lalu lintas.

Kepolisian Daerah Jawa Barat telah mengumumkan prediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 di wilayah Jabar akan terjadi dalam dua gelombang, beserta serangkaian strategi pengamanan dan rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi keramaian. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan menyampaikan informasi ini dalam apel gelar pasukan pengamanan mudik yang digelar di Bandung, Jumat.
Prediksi Dua Gelombang Puncak Mudik dan Arus Balik
"Puncak operasi diperkirakan ada dua gelombang, yakni pada Sabtu dan Ahad, kemudian kembali terjadi pada 19 dan 20 Maret. Begitu juga arus balik diperkirakan pada 24–25 Maret serta 26–27 Maret," ujar Rudi.
Menurutnya, puncak mudik pertama jatuh pada 14–15 Maret 2026, sedangkan puncak kedua terjadi pada 19–20 Maret 2026. Strategi membagi puncak mudik menjadi dua gelombang ini dirancang untuk menghindari tumpukan kendaraan massal di jalur utama, yang dapat menyebabkan kemacetan parah selama periode Lebaran. Sementara untuk arus balik pulang ke tempat tinggal atau pekerjaan, akan terbagi menjadi dua periode terpisah pada 24–25 Maret dan 26–27 Maret.
Operasi Ketupat Lodaya 2026: Skala Personel dan Pos Pengamanan
Polda Jabar meluncurkan Operasi Ketupat Lodaya 2026 yang berlangsung selama 13 hingga 25 Maret 2026. Untuk mendukung kelancaran operasi, pihaknya telah mengerahkan total 26.692 personel, yang terdiri dari 15.097 personel Polri, 11.595 personel TNI, serta tenaga dari berbagai instansi terkait seperti pemadam kebakaran dan kesehatan. Selain personel, Polda Jabar menyiapkan 332 pos pengamanan dan pelayanan yang tersebar di seluruh wilayah Jabar. Rinciannya meliputi:
- 227 pos pengamanan untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah tindak kriminal
- 79 pos pelayanan untuk memberikan bantuan darurat dan informasi kepada pemudik
- 26 pos terpadu yang menggabungkan fungsi pengamanan dan pelayanan
Setiap pos akan berfungsi sebagai pusat informasi, titik pengamanan kawasan keramaian, dan titik pengaturan lalu lintas selama periode mudik dan arus balik.
Pengamanan Komprehensif untuk Semua Aspek
Rudi menekankan bahwa pengamanan tidak hanya fokus pada orang yang sedang melakukan mudik, tetapi juga pada rumah dan harta benda yang ditinggalkan oleh pemudik. Oleh karena itu, patroli di kawasan permukiman akan diperkuat untuk melindungi properti warga selama mereka berada di kampung halaman. Selain itu, pengamanan akan difokuskan pada titik-titik dengan mobilitas tinggi, seperti rest area, terminal, stasiun, bandara, jalur tol, serta jalur arteri utama yang menjadi rute utama pergerakan pemudik. Hal ini bertujuan untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas dan mencegah gangguan selama periode mudik.
Dukungan Kebijakan Gubernur Jabar untuk Mengurangi Kemacetan
Kapolda Jabar juga mengapresiasi kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang memberikan dukungan untuk mengurai kemacetan arus mudik. Kebijakan tersebut melibatkan peliburan sementara operasional angkutan umum tradisional seperti angkot, delman, dan becak selama periode tertentu. Menurut Rudi, para pengemudi angkutan tradisional akan mendapatkan kompensasi sebagai bentuk dukungan pemerintah. Ia berharap kebijakan ini dapat membantu mengurangi volume kendaraan di jalur utama, sehingga arus lalu lintas selama mudik dan arus balik dapat berjalan lebih lancar dan efisien.
Potensi Mobilitas Tinggi di Jawa Barat
Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Jawa Barat diperkirakan menjadi provinsi dengan jumlah pemudik terbesar di Indonesia secara nasional, dengan potensi mobilitas mencapai sekitar 30,97 juta orang. Angka ini menegaskan pentingnya persiapan matang untuk mengantisipasi keramaian dan kemacetan selama periode mudik Lebaran 2026. Dengan strategi yang telah disiapkan, Polda Jabar berharap dapat memastikan mudik Lebaran tahun ini berjalan aman dan lancar bagi seluruh warga.