Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Pesantren Lemka Sukabumi: Pusat Kaligrafi Al-Qur’an Internasional

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Pesantren Lemka Sukabumi adalah pusat kaligrafi Al-Qur’an internasional yang menawarkan pembelajaran tujuh jenis khat, dengan kegiatan disesuaikan selama Ramadan untuk mendukung ibadah puasa santri.

Pesantren Lemka Sukabumi: Pusat Kaligrafi Al-Qur’an Internasional

Suasana di Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Qur’an Lemka, Kota Sukabumi, terasa tenang dan khusyuk di tengah bulan Ramadan. Para santri duduk bersila di depan meja rendah, fokus menorehkan tinta di atas kertas dengan goresan teliti, menghadirkan keindahan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam bentuk seni kaligrafi. Meskipun kegiatan belajar tetap berjalan, ada penyesuaian waktu agar para santri dapat menjalani ibadah puasa secara optimal.

Suasana dan Kegiatan Harian Selama Ramadan

Muhammad Syamsuddin, salah satu pengurus pesantren, menjelaskan bahwa secara umum aktivitas harian tidak banyak berubah dibanding bulan non-Ramadan. Perbedaan utama adalah penambahan waktu khusus untuk tadarus bersama.

"Kalau di luar Ramadan biasanya anak-anak membaca Al-Qur’an masing-masing. Di bulan puasa ini ada waktu khusus tadarusan bersama, itu yang membedakan," ujarnya saat ditemui di lingkungan pesantren, Rabu (4/3/2026).

Kurikulum dan Jenis Khat yang Diajar

Di Lemka, para santri mempelajari tujuh jenis khat secara bertahap selama satu tahun satu angkatan. Setiap tingkat mengajarkan khat yang berbeda, meliputi:

Selain materi utama, pesantren juga menyediakan kelas cabang seperti mushaf, dekorasi, naskah, dan kontemporer. Kelas ini menjadi ruang eksplorasi bagi santri untuk mengembangkan minat dan gaya kaligrafi masing-masing.

Profil dan Prestasi Lemka

Didirikan pada tahun 1985 dan mulai berbentuk pesantren pada 1998, Lemka sudah lama dikenal di dunia kaligrafi. Nama pesantren ini menjadi acuan bagi kaligrafer, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Hampir setiap tahun, peserta kompetisi kaligrafi tingkat nasional maupun internasional banyak yang merupakan alumni Lemka. Syamsuddin menambahkan bahwa Lemka juga menerima santri dari luar negeri, seperti Oman, yang datang selama satu hingga dua bulan untuk belajar kaligrafi. Tahun ini, jumlah santri tercatat sekitar 136 orang, dengan mayoritas berasal dari luar Jawa Barat, termasuk Kalimantan, Jambi, Riau, dan Aceh. Meskipun jumlah santri lokal dari Sukabumi masih relatif sedikit, minat warga daerah ini terhadap kaligrafi mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Peran sebagai Destinasi Wisata Edukasi

Lemka kini juga dikenal sebagai destinasi wisata edukasi di Kota Sukabumi dan dimasukkan dalam paket wisata resmi oleh pemerintah daerah. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah, santri, hingga mahasiswa dari universitas ternama seperti Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Al-Azhar. Banyak dari mereka menjadikan Lemka sebagai lokasi studi, praktik, maupun penyusunan tugas akhir.

Upaya Regenerasi dan Pengenalan Kaligrafi

Lemka aktif menggelar lomba kaligrafi dan mengenalkan seni ini ke sekolah-sekolah di Kota Sukabumi sebagai upaya menjaga regenerasi generasi kaligrafer muda. Hal ini dilakukan untuk mengatasi penurunan minat terhadap seni kaligrafi di kalangan lokal, meskipun tren ini mulai membaik dalam beberapa tahun terakhir.

Nilai Spiritual di Balik Karya Kaligrafi

Syamsuddin menegaskan bahwa kaligrafi bukan hanya tentang estetika semata. Sejak dahulu, Al-Qur’an ditulis tangan sebelum hadirnya mesin cetak, dan proses menulisnya dianggap sebagai bagian dari ibadah karena menghadirkan bacaan sekaligus melatih ketekunan.

"Belajar kaligrafi juga melatih kesabaran, konsistensi, dan ketenangan jiwa. Setiap goresan membutuhkan fokus dan kehati-hatian," kata dia.

Setelah lulus, para alumni Lemka menempuh jalan berbeda: ada yang kembali ke daerah asal, mengabdi di pesantren lain, melanjutkan kuliah di Sukabumi, atau tetap berkarya dan mendampingi generasi berikutnya di Lemka. Bagi para santri Lemka, setiap huruf yang ditulis bukan sekadar karya seni, melainkan bagian dari ibadah yang menghubungkan mereka dengan Al-Qur’an.