Pesan Singkat yang Terlalu Kasar Bikin Rekan Kerja Kurang Yakin pada Karier Anda
Dosen Taruna Bakti University ingatkan cara mengetik di WhatsApp bisa membentuk persepsi atasan terhadap profesionalisme karyawan dan memengaruhi jenjang karier.

Rizky Maulana
Grup WhatsApp keluarga, grup pertemanan, hingga grup kerja menjadi bagian harian bagi kebanyakan anak muda di Bandung dan sekitarnya. Pesan singkat mengalir setiap saat. Namun belum banyak yang sadar bahwa cara mengetik di ruang digital itu perlahan ikut menentukan nasib karier mereka.
"Keahlian dan kompetensi teknis hanya sebagian dari persiapan memasuki dunia kerja. Ketika mengirim pesan di ruang digital, pilihan kata, waktu pengiriman, dan bahkan jumlah tanda baca yang digunakan ikut membentuk cara orang menilai profesionalisme seseorang," kata Hendri Pramadya, dosen Taruna Bakti University.
Komunikasi digital memang kehilangan banyak elemen yang biasa hadir dalam percakapan tatap muka. Tanpa intonasi suara, tanpa ekspresi wajah, tanpa bahasa tubuh, penerima pesan harus menebak-nebak maksud pengirim hanya dari teks yang muncul di layar.
Contoh kecil ini sering ditemukan di lingkungan kerja. "Mana laporannya?" memiliki kesan yang berbeda dibandingkan "Bu, izin mengingatkan, apakah laporan kemarin sudah dapat saya terima? Terima kasih." Kedua pesan itu sama-sama menanyakan laporan. Namun nada yang terbaca di kepala penerima jauh berbeda.
Pesan-pesan yang terlihat kasar, singkat berlebihan, atau mencolok meninggalkan kesan buruk yang susah dihapus. Dalam komunikasi digital, satu pesan bisa diteruskan, dibaca ulang, hingga disimpan sebagai tangkapan layar. Rekam jejak itu kemudian menjadi salah satu cara atasan menilai karakter bawahannya.
Baca Juga: Keluarga Ai Tunda Bayar Iuran BPJS selama Enam Bulan, Tetap Bisa Berobat karena Program REHAB
"Pesan yang terlihat kasar, penggunaan huruf kapital secara berlebihan, atau nada yang mencolok bisa merusak persepsi tentang profesionalisme seseorang," jelas Hendri.
Anak muda yang sudah akrab dengan budaya ngobrol santai di grup media sosial kadang tidak menyadari pergeseran nada yang harus dilakukan saat berbicara dengan atasan atau rekan kerja yang lebih senior. Hal ini menjadi masalah tersendiri ketika dunia kerja kini sangat bergantung pada platform digital untuk komunikasi harian.
Perusahaan-perusahaan di Bandung dan kawasan industri Jawa Barat mulai memunculkan pelatihan komunikasi digital sebagai bagian dari program pengembangan karyawan. Beberapa institusi pendidikan juga telah mengintegrasikan literasi komunikasi digital ke dalam kurikulum mereka.
Sebelum menekan tombol kirim di lingkungan kerja, ada baiknya memastikan tiga hal. Pertama, pesan mudah dipahami. Kedua, kata yang dipilih sesuai dengan hubungan dan hierarki kerja. Ketiga, pesan itu pantas dikirim pada waktu tertentu.