Persib Desak Polresta Batang Usut Tuntas Kekerasan terhadap Pemain EPA U-18 di Rest Area KM 360
Manajemen Persib koordinasi langsung dengan Polresta Batang empat hari setelah kekerasan menimpa pemain EPA U-18 di Rest Area KM 360, desak penanganan tuntas

Empat hari setelah kekerasan di Rest Area KM 360, manajemen Persib menempuh jalur koordinasi langsung dengan Polresta Batang. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan bentuk nyata pengawalan kasus yang menimpa pemain muda Persib Elite Pro Academy (EPA) U-18.
Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, ditemui di Kantor Polresta Batang, Jalan Gajah Mada No. 200, Dracik Barat, Kamis 15 Oktober 2026. Ia menyampaikan bahwa perhatian klub terhadap kasus ini tidak berhenti setelah laporan polisi dilayangkan.
"Bagi kami, persoalan ini tidak boleh berhenti menjadi perhatian sesaat. Kami ingin memastikan komunikasi dengan pihak kepolisian terus berjalan dan penanganannya dikawal hingga tuntas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," kata Adhitia.
Baca Juga: Peralta Eksekusi Penalti di Menit Akhir, Persib Ungguli Cong Viettel 1-0 Babak Pertama
Peristiwa pada Minggu, 11 Oktober 2026, lalu itu melibatkan serangan terhadap rombongaan Persib EPA U-18 yang sedang dalam perjalanan pulang seusai pertandingan. Tiga pemain muda teridentifikasi mengalami trauma akibat kekerasan fisik. Selain itu, bus yang ditumpangi mengalami kerusakan, dan sejumlah koper milik ofisial serta perlengkapan tim dikabarkan raib.
Ipda Pipin Setyo Utomo dari Kanit 3 Satreskrim Polresta Batang memimpin penyidikan perkara ini. Ia menerima kunjungan manajemen Persib dan mengakui koordinasi semacam ini membantu kerja tim penyidik.
"Terima kasih kepada manajemen PERSIB yang hari ini telah bersilaturahmi ke Satreskrim Polresta Batang untuk menanyakan perkembangan daripada tindak pidana penganiayaan yang dialami oleh pemain PERSIB U18 di rest area 360 kemudian memberikan support supaya Polresta Batang dalam melakukan penyidikan tindakan pidana ini dapat dengan transparan dan seterang-terangnya," kata Pipin.
Baca Juga: Peralta Cetak Penalti, Persib Hancurkan Viettel 1-0 dan Pimpin Grup E ACL Two dengan Enam Poin
Pipin juga menyerukan agar suporter kedua kubu menjaga kondusivitas. Ia meminta suporter Persib tidak terprovokasi oleh peristiwa tersebut, sekaligus mendesak suporter Persija atau yang dikenal sebagai Jakmania yang menjadi terduga untuk menyerahkan diri.
"Kami mohon supaya tetap tenang, serahkan kepada kami dari pihak kepolisian Polresta Batang untuk dapat pengusuh tuntas perkara ini dan untuk menemukan pelaku-pelaku yang lain," lanjut Pipin.
Kasus ini bukan yang pertama menyeret nama Persib ke ranah keamanan sebuah kompetisi. insiden suporter yang terjadi sebelumnya, termasuk dengan pihak Ratchaburi, pernah menjadi sorotan publik terhadap keamanan pertandingan. bedanya, kekerasan di Rest Area KM 360 menyasar pemain muda yang seharusnya mendapat perlindungan ekstra.
Manajemen Persib sendiri kini menghadapi tekanan dobel. Selain memastikan proses hukum berjalan, mereka juga harus menjagapara pemainnya tetap fokus pada pengembangan futbol. Tiga pemain yang teridentifikasi mengalami trauma masih dalam proses pemulihan, dan kapan mereka bisa kembali berlaga bergantung pada kondisi mental masing-masing.
Persib kini berharap koordinasi dengan polisi dapat membuka tabir siapa saja pelaku kekerasan itu. Klub juga meminta seluruh Bobotoh, sebutan suporter Persib, untuk tidak membalas dan mempercayakan proses hukum kepada aparat. Bagi manajemen, insiden ini bukan sekadar soal Persib, melainkan tentang keselamatan seluruh insan sepak bola Indonesia.
Sumber: persib.co.id