Peningkatan Minat Mendaki Gunung, Kemenhut Ingatkan Etika dan Keselamatan
Kementerian Kehutanan mengingatkan etika dan keselamatan pendakian seiring peningkatan minat masyarakat, terutama anak muda, untuk mendaki gunung. Kampanye di Bandung juga menghadirkan kolaborasi musik untuk menyampaikan pesan konservasi.

Pada tahun 2025, minat masyarakat Indonesia, terutama anak muda, untuk mendaki gunung mengalami peningkatan signifikan. Kementerian Kehutanan memproyeksikan total pendaki di seluruh kawasan gunung Indonesia akan melebihi 1,2 juta orang, dengan dominasi pendaki domestik. Beberapa gunung populer bahkan mencatat jumlah pendaki yang cukup tinggi, seperti Gunung Rinjani dengan lebih 80 ribu pendaki, Gunung Batur dengan 73 ribu pendaki, dan Gunung Dempo dengan 7 ribu pendaki.
Latar Belakang Kampanye
Kenaikan minat pendakian ini mendorong Kementerian Kehutanan untuk menggelar kampanye cinta lingkungan serta keamanan dan keselamatan pendakian. Acara ini dilaksanakan di Arei Flagship Store, Cihampelas, Bandung, pada Selasa (28/4/2026) dan dihadiri oleh Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkumhut), Dwi Januanto Nugroho.
Pesan Penting dari Ditjen Gakkumhut untuk Pendaki
Dalam acara tersebut, Dwi Januanto Nugroho menekankan bahwa gunung bukan hanya arena untuk menantang alam secara sembarangan, melainkan ruang hidup yang bernilai ekologis dan tempat untuk belajar rendah hati. Ia menyampaikan sejumlah aturan dasar yang harus diikuti oleh setiap pendaki:
- Memastikan keselamatan diri sebelum berangkat
- Mematuhi semua peraturan kawasan pendakian
- Tidak meninggalkan sampah di jalur pendakian
- Tidak menyalakan api sembarangan
- Tidak merusak vegetasi di sekitar jalur
- Tidak mengganggu satwa liar di kawasan gunung
"Setiap pendaki wajib memastikan keselamatan dirinya, mematuhi aturan kawasan, tidak meninggalkan sampah, tidak menyalakan api sembarangan, tidak merusak vegetasi, dan tidak mengganggu satwa liar," kata Dwi Januanto Nugroho dalam acara kampanye.
Ia menambahkan bahwa kecintaan terhadap alam harus dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan hanya sekadar mengagumi keindahan pemandangan.
"Mencintai gunung berarti menjaga jalurnya, membawa turun kembali sampahnya, menghormati petugasnya, mematuhi kuota dan prosedur pendakian, serta tidak melakukan aktivitas yang merusak kawasan," ujarnya.
Dwi juga mengingatkan bahwa kawasan hutan, termasuk kawasan konservasi dan taman nasional, memiliki aturan yang harus dihormati dengan tegas. Aktivitas ilegal seperti perburuan satwa liar, pembalakan, perusakan vegetasi, pembakaran lahan, vandalisme, serta masuk kawasan tanpa izin tidak hanya membahayakan lingkungan, tetapi juga dapat dikenai penegakan hukum.
"Ditjen Gakkumhut mendukung wisata alam dan pendakian yang bertanggung jawab. Namun, terhadap tindakan yang merusak kawasan hutan, mengancam satwa liar, atau membahayakan keselamatan publik, penegakan hukum tetap dilakukan secara tegas dan terukur," tegasnya.
Kolaborasi Musik untuk Menyampaikan Pesan Konservasi
Selain menyampaikan pesan etika dan keselamatan pendakian, kampanye ini juga menghadirkan kolaborasi musik dengan Ady, mantan vokalis grup band Naff. Ia memperkenalkan lagu terbarunya berjudul Merbabu, yang membawa pesan emosional tentang kekaguman manusia terhadap gunung, keheningan jalur pendakian, kabut, sabana, senja, dan puncak yang membuat seseorang merasakan ketundukan pada kebesaran alam.
Lirik lagu ini menggambarkan perjalanan pendaki yang menyusuri jalur, menghadapi kabut dingin, menyaksikan keindahan sabana, hingga merasakan kekaguman mendalam pada Gunung Merbabu. Beberapa penggalan lirik seperti "setapak kudaki" dan "Merbabu aku luluh" menjadi pengingat bahwa gunung bukan sekadar latar foto, melainkan ruang yang harus dihormati dan dijaga.
"Merbabu bagi saya bukan hanya tentang pemandangan. Ada keheningan, perjalanan, rasa kecil di hadapan alam, dan pelajaran untuk lebih mencintai bumi. Saya berharap lagu ini bisa membuat orang bukan hanya ingin mendaki, tetapi juga ingin menjaga," ujar Ady.
Melalui lagu ini, pesan konservasi disampaikan dengan cara yang lebih dekat, hangat, dan mudah diterima oleh publik.
Prinsip Pendakian Bertanggung Jawab yang Harus Diikuti
Ditjen Gakkumhut juga mengajak seluruh pendaki dan pecinta alam untuk memegang prinsip pendakian bertanggung jawab, yaitu:
- Mempersiapkan fisik dan perlengkapan pendakian yang memadai
- Mengecek prakiraan cuaca sebelum berangkat
- Mengikuti jalur resmi yang telah ditentukan
- Melapor ke petugas sebelum dan sesudah pendakian
- Tidak melakukan pendakian tanpa izin resmi
- Membawa turun semua sampah yang dibawa selama pendakian
- Tidak mengambil apa pun dari alam selama pendakian
- Tidak meninggalkan apa pun selain jejak kaki di kawasan pendakian
- Segera melapor kepada petugas jika melihat aktivitas yang merusak kawasan hutan
Kampanye ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendakian yang bertanggung jawab, sehingga minat mendaki gunung yang terus meningkat tidak diiringi kerusakan lingkungan dan pelanggaran aturan. Dengan menjaga keselamatan dan etika pendakian, kita dapat menikmati keindahan alam sambil juga melestarikan kawasan hutan untuk generasi mendatang.