Pemetaan FMIPA ITB: Kompetensi Matematika SMA Jawa Barat Masih Rendah
Hasil pemetaan kompetensi matematika siswa SMA di Jawa Barat oleh FMIPA ITB menunjukkan skor rata-rata 500, dengan kesenjangan signifikan antar wilayah dan hanya 1,12% yang mencapai level problem solving tinggi.

Sebuah pemetaan kompetensi matematika siswa SMA negeri dan swasta di Jawa Barat telah dilaksanakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 21–22 Oktober 2025. Kegiatan ini menggunakan platform online testing MathERA dan melibatkan 3.046 siswa dari 157 SMA di 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa skor kompetensi matematika siswa masih tergolong rendah, dengan kesenjangan yang signifikan antar wilayah.
Skor Rata-Rata dan Distribusi Level Kompetensi
Rata-rata skor kompetensi matematika seluruh peserta pemetaan mencapai 500, setara dengan skala penilaian internasional PISA. Distribusi kompetensi siswa dibagi menjadi empat level:
- Level I (Pemahaman Konseptual Dasar): 39,40% siswa
- Level II (Kemampuan Prosedural): 35,78% siswa
- Level III (Penalaran dan Argumentasi Matematis): 23,70% siswa
- Level IV (Problem Solving Tingkat Tinggi): Hanya 1,12% siswa (34 orang)
Lebih dari 75% siswa berada pada level I dan II, yang berarti mereka hanya mampu menyelesaikan soal rutin dan belum memiliki kemampuan penalaran yang memadai. Hanya sebagian kecil siswa yang mencapai level IV, yang merupakan standar minimum yang dibutuhkan untuk UTBK maupun asesmen internasional seperti PISA dan TIMSS.
Kekuatan dan Kelemahan Bidang Matematika
Berdasarkan analisis bidang studi, siswa di Jawa Barat memiliki kinerja relatif baik pada dua bidang:
- Bilangan
- Data dan Peluang
Sebaliknya, bidang yang memiliki capaian paling lemah meliputi:
- Aljabar
- Geometri dan Pengukuran
- Matematika Lanjut dan Kalkulus
Kelemahan pada bidang ini menjadi perhatian serius, mengingat matematika adalah fondasi untuk pengembangan bidang sains, teknik, dan teknologi lainnya.
Kesenjangan Antar Wilayah
Hasil pemetaan juga menunjukkan kesenjangan yang signifikan antar wilayah di Jawa Barat. Dari 27 kabupaten/kota yang terlibat, 13 wilayah mencatat nilai di atas rata-rata provinsi, dengan tujuh wilayah menunjukkan kinerja tinggi dan konsisten:
- Kabupaten Pangandaran (542,06)
- Kota Bekasi (532,83)
- Kabupaten Tasikmalaya (531,33)
- Kota Sukabumi (531,06)
- Kabupaten Bogor (528,64)
- Kota Bandung (527,16)
- Kabupaten Purwakarta (529,61)
Di sisi lain, lima wilayah mencatat capaian terendah:
- Kota Cirebon (443,07)
- Kota Tasikmalaya (450,49)
- Kabupaten Bandung Barat (461,44)
- Kabupaten Kuningan (464,44)
- Kabupaten Majalengka (467,45)
Kesenjangan ini dinilai signifikan dan membutuhkan strategi intervensi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Tanggapan dan Strategi Perbaikan
Guru Besar FMIPA ITB, Edy Tri Baskoro, menekankan bahwa matematika adalah core competency yang harus dikuasai oleh semua siswa, karena menjadi dasar untuk perkembangan berbagai bidang ilmu. Ia juga menyoroti persoalan latar belakang akademik tenaga pengajar matematika di lapangan, di mana tidak sedikit guru yang latar belakangnya bukan matematika, bahkan dari bidang sains atau sosial.
"Guru memegang kendali dalam pembelajaran. Tapi tidak sedikit guru matematika yang latar belakangnya bukan matematika. Ada yang dari sains, bahkan sosial. Ini yang perlu kita perbaiki, baik kemampuan mengajarnya maupun kemampuan matematikanya itu sendiri."
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat, Deden Saepul Hidayat, mengakui bahwa skor numerasi Jabar pada 2025 mencapai 66,81, masih di bawah target 70,6. Ia menambahkan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di SMA, tetapi juga di jenjang SMK dan SLB.
"Para kepala dinas pendidikan se-Indonesia pun menyampaikan hal yang sama bahwa nilai rapor numerasi masih sangat rendah, termasuk di Jawa Barat."
Untuk mengatasi masalah ini, FMIPA ITB bersama Disdik Jabar mendorong pelaksanaan Assessment of Mathematical Competency for Teachers (AMCT-Jabar) bagi seluruh guru matematika SMA di Jawa Barat. Program ini menargetkan 80% guru matematika memenuhi standar kompetensi baru pada 2028. Guru dengan kemampuan rendah akan mengikuti program upskilling selama 6 hingga 12 bulan. Deden menegaskan bahwa intervensi pada guru sangat penting untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Jawa Barat, terutama dalam konteks pengembangan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics).
Peningkatan kompetensi matematika siswa SMA di Jawa Barat bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dengan intervensi yang tepat, baik pada siswa maupun guru, diharapkan capaian kompetensi matematika siswa dapat meningkat secara signifikan di masa depan, mendukung pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas di provinsi ini.