Peduli Santri: Pemkab Sumedang Siap Tanggung Penuh Biaya Korban Keracunan Massal
Pemkab Sumedang tanggung penuh biaya pengobatan 100+ santri korban keracunan massal di Ponpes Nuurush Sholah. Bupati Dony pastikan penanganan optimal.

Pemkab Sumedang Tanggung Biaya Pengobatan Santri Korban Keracunan Massal
SUMEDANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang, Jawa Barat, telah menegaskan komitmennya untuk menanggung seluruh biaya perawatan medis bagi para santri korban keracunan massal. Insiden memprihatinkan ini menimpa santri di Pondok Pesantren Nuurush Sholah, Cimanggung, setelah mengonsumsi makanan dari seorang donatur.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, pada Selasa lalu menyampaikan rasa prihatin mendalam atas musibah ini. Ia berjanji akan memastikan setiap santri mendapatkan penanganan kesehatan yang optimal hingga pulih sepenuhnya.
"Pemerintah daerah prihatin atas musibah ini. Untuk pembiayaan seluruh pasien akibat kejadian ini, semuanya ditanggung oleh pemerintah daerah," tutur Bupati Dony.
Korban dan Kondisi Terkini
Lebih dari 100 santri dikabarkan harus mendapatkan perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan pasca-mengonsumsi makanan dalam sebuah kegiatan pesantren. Kejadian ini dilaporkan terjadi setelah santri menyantap hidangan dari donatur pada Jumat (19/12) malam.
Namun, kabar baik datang seiring perkembangan kondisi para korban. Bupati Dony melaporkan bahwa kondisi para santri terus membaik dan menunjukkan progres pemulihan yang signifikan. Pihak medis terus memantau dan memberikan penanganan terbaik untuk memastikan kesembuhan mereka.
Imbauan dan Pencegahan di Masa Depan
Menyikapi insiden ini, Bupati Dony menekankan pentingnya kewaspadaan bagi seluruh pengelola lembaga pendidikan dan pesantren. Ia mengimbau agar lebih selektif dan berhati-hati dalam menerima bantuan makanan dari pihak luar. Beliau berharap insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak.
"Ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Penting untuk selalu melakukan pengecekan berkala terhadap jenis dan kelayakan makanan yang dikonsumsi di lingkungan pesantren agar kejadian serupa tidak terulang kembali," tegasnya.
Pihak kepolisian, melalui Kepolisian Resor (Polres) Sumedang, segera menurunkan tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan penyelidikan lebih lanjut usai insiden keracunan yang melibatkan 116 santri tersebut.
Harapan besar disampaikan agar para santri dapat segera pulih, kembali melanjutkan aktivitas belajar, serta mendapatkan bimbingan keagamaan di pesantren dengan tenang dan aman.
ATR