Pintuberita.com — Portal Berita Bandung Raya & Jawa Barat

Pameran Tunggal Antaresa Hendita: Healing dan Restorasi Melalui Seni Abstrak di Bandung

Jabar · Oleh Rizky Maulana ·

Pameran tunggal Antaresa Hendita di Art:1 New Museum Bandung mengangkat tema healing dan restorasi, dengan peluncuran monograf komprehensif dari Afterhours Books.

Pameran Tunggal Antaresa Hendita: Healing dan Restorasi Melalui Seni Abstrak di Bandung

Bandung, 6 Juni 2026 — Seniman kontemporer Antaresa Hendita menghadirkan pesan healing dan restorasi melalui rangkaian karya abstrak terbarunya dalam pameran tunggal bertajuk Epiphany: A Testimony of Healing & Restoration. Pameran yang dibuka resmi pada hari ini di Art:1 New Museum ini menampilkan lebih dari sekadar lukisan, melainkan juga ruang refleksi untuk pemulihan emosional yang diwujudkan dalam bahasa visual yang intuitif.

Tema Healing dan Restorasi dalam Setiap Karya

Melalui kombinasi bentuk non-linear, warna ekspresif, dan komposisi dinamis, Antaresa menerjemahkan pengalaman emosional yang kompleks ke dalam kanvas. Setiap karya di pameran ini berfungsi sebagai rekaman proses kontemplasi dan pencarian makna personal sang seniman, yang kemudian diolah menjadi ekspresi visual yang terbuka untuk diinterpretasikan oleh penikmat seni.

Kurator pameran sekaligus penulis esai dalam monograf, Anna Sungkar, menjelaskan bahwa Antaresa menggunakan pendekatan stream of consciousness (aliran kesadaran) dalam proses kreatifnya. Pendekatan ini memungkinkan sang seniman bekerja secara spontan dan intuitif tanpa terikat struktur yang kaku, sehingga mampu menangkap emosi dan pemikiran secara langsung di kanvas.

"Pendekatan yang spontan dan intuitif membuat Antaresa bebas mengekspresikan aliran pemikiran dan emosinya secara langsung di kanvas tanpa perencanaan atau struktur yang kaku," tulis Anna dalam catatan kuratorialnya.

Karya-karya Antaresa selama ini dikenal melalui eksplorasi bentuk non-linear, warna-warna ekspresif, serta komposisi yang dinamis. Karakter gaya ini sebelumnya terlihat jelas dalam seri seni sebelumnya seperti Kesuma, Puspita, dan Sekar. Namun, rangkaian karya terbaru dalam Epiphany menunjukkan perkembangan signifikan dari eksplorasi visual yang telah dibangun selama beberapa tahun terakhir.

Perpaduan Fragmen Ingatan dan Energi Harmonik

Menurut Anna Sungkar, setiap karya dalam pameran ini menyatukan berbagai fragmen ingatan dan pengalaman emosional menjadi komposisi yang harmonis namun tetap penuh energi. Meskipun tidak mengikuti narasi linear, setiap lukisan menciptakan ruang eksplorasi yang terbuka bagi penikmat seni untuk terhubung dengan pengalaman pribadi masing-masing.

"Karya-karya tersebut mempunyai daya tarik visual yang mengutamakan elemen-elemen seperti pola, warna, dan komposisi yang harmonis," ujar Anna.

Hal ini membuat karya Antaresa mudah diterima oleh publik yang lebih luas, bukan hanya oleh kalangan penggemar seni abstrak saja. Selain memiliki kedalaman makna, karya-karya di pameran ini juga menawarkan daya tarik visual yang dapat dinikmati oleh semua kalangan.

Monograf EPIPHANY: Dokumentasi Perjalanan Artistik yang Komprehensif

Selain pameran seni, Afterhours Books juga meluncurkan monograf berjudul EPIPHANY yang menjadi publikasi komprehensif pertama yang mendokumentasikan fase penting dalam perjalanan artistik Antaresa. Buku ini memuat reproduksi karya seni, esai kuratorial, serta catatan mendalam mengenai proses kreatif yang membentuk bahasa visual sang seniman.

Monograf ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai pandangan untuk memahami bagaimana karya abstrak Antaresa lahir dari perpaduan intuisi, refleksi, ingatan, dan transformasi emosional. Peluncuran buku ini dijadikan sebagai bagian integral dari penyelenggaraan pameran, sehingga penikmat seni dapat memahami konteks lebih dalam tentang setiap karya yang ditampilkan.

Perspektif Seniman tentang Proses Kreatif dan Tema Healing

Bagi Antaresa, proses melukis bukan sekadar aktivitas artistik semata, tetapi juga merupakan bagian dari perjalanan pemulihan dan pencarian makna diri. Melalui judul Epiphany, sang seniman ingin menghadirkan ruang refleksi yang dapat terhubung dengan pengalaman banyak orang, terutama yang sedang mencari cara untuk mengolah emosi dan menemukan pencerahan dalam perjalanan hidup mereka.

"Judul Epiphany merujuk pada momen-momen pencerahan yang muncul selama proses kreatif—saat pengalaman, emosi, dan ingatan yang sebelumnya terpecah menemukan bentuk dan makna baru," demikian penjelasan Antaresa dalam monograf tersebut.

Mengapa Pameran Ini Berarti bagi Pemandangan Seni Lokal Bandung

Pameran Epiphany: A Testimony of Healing & Restoration tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan karya terbaru Antaresa, tetapi juga sebagai bukti bagaimana seni abstrak kontemporer dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan healing dan restorasi kepada publik. Dengan lokasi di Art:1 New Museum Bandung, pameran ini juga memberikan kontribusi bagi perkembangan pemandangan seni lokal di kota, dengan menghadirkan karya yang memiliki kedalaman makna dan daya tarik visual yang tinggi.