OJK dan Pemda Jabar Salurkan Pembiayaan Rp456,5 Miliar untuk 4.565 Peternak Ayam Petelur Lewat Program EGG
OJK dan Pemda Jawa Barat salurkan pembiayaan Rp456,5 miliar bagi 4.565 peternak ayam petelur melalui program EGG yang menganut ekosistem tertutup dari hulu ke hilir

Otoritas Jasa Keuangan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menggeber program pengembangan ayam petelur bernama Endog Jawa Barat Go Global (EGG). Program ini menyasar 4.565 pelaku usaha peternakan ayam petelur yang tersebar di 21 sentra peternakan di Jawa Barat.
Pembiayaan yang bakal mengalir ke sektor ini diproyeksikan mencapai Rp456,5 miliar. Angkanya besar, tapi menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, modal saja tidak cukup.
"Pembiayaan perlu disertai pendampingan, literasi keuangan, akses pasar, penguatan kelembagaan usaha, pemanfaatan teknologi, dan manajemen risiko agar dapat meningkatkan produktivitas dan memperkuat usaha peternak," katanya.
Baca Juga: Mondial Pamerkan 70 Karya Perhiasan Mewah di Bandung, Bandung Jadi Kota Ketiga Penjualan Tertinggi
Pendekatan Closed Loop dari Kandang ke Piring
Program EGG menggunakan pendekatan closed loop alias ekosistem tertutup. Peternak terhubung langsung dengan lembaga pembiayaan, hasil produksi dijamin terserap pasar, dan pelaku usaha dikawal oleh offtaker. Alur ini membentang dari hulu hingga hilir agar rantai nilai ayam petelur tidak terputus.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menegaskan, kepastian pasar jadi salah satu kunci program ini berjalan.
Baca Juga: Aldi Satya Mahendra Bidik Podium di Cremona dari Posisi 9 Klasemen
"Program EGG kami arahkan untuk memastikan akses keuangan berjalan beriringan dengan kepastian pasar, pendampingan, dan penguatan rantai nilai," katanya.
Di tingkat hilir, peternak diarahkan masuk ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menyuplai Program Makan Bergizi Gratis. Kolaborasi ini diproyeksikan menghemat anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun karena telur untuk program itu dibeli 10 hingga 15 persen lebih murah dari harga pasar.
Porang, Domba, Sapi, dan Sekarang Telur
Program EGG sebenarnya bukan pertama kalinya OJK dan Pemda Jabar menggarap komoditas secara terpadu. Pada 2024, program serupa menyasar komoditas domba, kemudian sapi perah pada 2025. Eggs menjadi kelanjutan dari skema Pengembangan Ekonomi Daerah itu.
Pada semester I 2026, nilai ekspor fertilized eggs for incubation alias telur tetas dari Jawa Barat sudah menyentuh US$550,23 ribu. Jumlah ini melonjak 513 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara tujuan ekspornya meliputi Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Pengolahan telur di tingkat hilir juga mulai digenjot. Selain telur utuh, produk turunan yang dikembangkan antara lain tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk dari cangkang telur, hingga nutrisi untuk hewan peliharaan. Diversifikasi ini penting karena masa simpan telur ayam relatiff singkat sehingga peternak berisiko besar mengalami kerugian kalau tidak terserap cepat.
Ekspor DOC dan Komitmen Baru
Sebagai bukti nyata operasional program, satu eksportir asal Jawa Barat bernama PT Intama Taat Anugerah meresmikan ekspor day-old chick (DOC) ke Timor-Leste dalam acara yang sama. Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Pengembangan Peternak Ayam Petelur juga dilakukan sebagai landasan hukum keberlanjutan program.
Acara itu sendiri berlangsung di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat pada Jumat, 25 September. Turut hadir Anggota Komisi XI DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Barat V Kabupaten Bogor Mulyadi, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat Buky Wibawa Karya Guna, serta 150 perwakilan peternak.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengingatkan agar program ini tidak berhenti di seremoni.
"Kami berharap pengembangan komoditas ayam petelur tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dikawal dan dikembangkan secara berkelanjutan," katanya.
Dalam konteks ekonomi produktif Jawa Barat, peternak ayam petelur masuk kategori pekerja informal yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga dan minimnya akses perbankan. Jabar Alokasikan Rp224 Miliar untuk Jamin 1 Juta Keluarga Pekerja Informal Mulai 2026 menggambarkan upaya serupa yang tengah berjalan di sektor lain untuk kelompok pekerja informal.
Keberhasilan program ini akan diukur bukan sekadar dari nominal pembiayaan yang tersalur, melainkan dari kenaikan produktivitas, kekuatan rantai pasok, perluasan jangkauan pasar, dan peningkatan pendapatan riil peternak di tingkat grassroots.