Moofeat Bandung Kirim 10.000 Paket Sebulan Lewat 300 Afiliator
UMKM sepatu Bandung Moofeat menembus penjualan 10.000 paket sebulan melalui jaringan 300 afiliator Shopee, membuka peluang ekonomi digital bagi masyarakat.

Muhammad Nofal Alsyaifa serius memandang layar komputer di ruang kerjanya. Tanggal 8 Juli 2026 pukul 14.30, dia sibuk memilah nama-nama kreator yang akan diajak bekerja sama. Criteria yang dia perhatikan bukan sekadar jumlah video yang diunggah, tapi juga frekuensi siaran langsung dan keaktifan masing-masing akun. "Kita cari yang bukan cuma upload video di Shopee tapi juga live stream-nya seperti apa keaktifannya. Di website bisa kelihatan sih kapan dia live stream kapan dia buat video, jadi enak carinya," kata Nofal.
Moofeat bukan pemain baru di dunia footwear. Jenama asal Bandung ini sudah berdiri sejak 2007 dengan awal menjual alas kaki melalui jaringan toko luring. Perpindahan besar terjadi setelah bergabung dengan Shopee pada 2017. Sejak saat itu, Moofeat mulai belajar strategi penjualan digital dari nol. "Dari cara upload, dari cara nama kunci, kunci judul dan lain-lain, kita foto-foto. Terus seiring berjalannya waktu kita ngikutin, ternyata penjudulan harus seperti gimana, upload foto harus seperti gimana yang enak dilihat sama audiens," jelas Nofal.
Hasilnya terasa nyata dalam angka. Hampir 75 persen penjualan Moofeat sekarang berasal dari kanal daring. Pada hari biasa mereka mampu menjual 5.000 hingga 6.000 pasang alas kaki setiap bulan. Angka itu melonjak dua kali lipat saat musim ramai seperti Lebaran, Back to School, dan akhir tahun menjadi 7.000 hingga 10.000 paket. Capaian ini tidak terlepas dari jaringan afiliator yang sekarang menembus 300 akun. Moofeat bahkan rutin menggelontorkan insentif dari uang tunai hingga motor bagi afiliator dengan penjualan tertinggi.
Baca Juga: Bandung Siapkan Delapan Venue untuk Terima Delegasi 11 Negara di Konferensi Insinyur ASEAN
Cerita sukses Moofeat bukan satu-satunya di Bandung. Di lantai dua rumahnya di Cipageran, Cimahi Utara, Susi Mustika Siregar (42) bersama suami Arifin mengelola bisnis fesyen muslim yang berawal dari keterpurukan. Usahanya anjlok terdampak pandemik COVID-19 ketika aturan PSBB membuat dagangan sulit terjual tanpa pertemuan langsung dengan pembeli. Malu-malu awalnya, Susi akhirnya mencoba promosi lewat media sosial. "Saya berdarah-darah hampir dua tahun lah jungkir balik nggak naik-naik traffic malah habis modal banyak," kenangnya.
Perubahan fortune datang perlahan. Konten promosi yang dia bagikan mulai menarik perhatian penonton untuk membeli. Pada 2023, Susi resmi menjadi afiliator Shopee dengan akun @susi.esme. Tiga tahun berkecimpung di platform itu membuatnya berkembang menjadi salah satu top kreator di bidang fesyen muslim. Bangunan lantai dua rumahnya kini berubah fungsi menjadi gudang sekaligus studio pembuatan konten. Lima orang pekerja, mayoritas perempuan, standby di sana untuk轮流 promosi produk lewat siaran langsung dari pagi hingga malam. "Paling malem ini jam 12, habis itu kosong nanti ada lagi jam 5 pagi," tutur Susi. Pendapatan dari affiliate sekarang cukup让他 bisa membangun usaha lain.
Di sisi lain rantai ekonomi digital, konsumen menjadi penentu akhir sebuah transaksi. Setia, warga Bandung yang bekerja dan membesarkan dua anak berumur lima dan satu tahun,早已经 menjadikan pembelian daring sebagai kebiasaan. Waktu yang terbatas membuatnya lebih memilih memilih dan membeli barang langsung dari ponsel. "Kalau nonton video promosi biasa pas di kantor kalau kerjaan sedang tidak banyak. Kalau malem di rumah kadang nonton yang live gitu kan. Suka ada diskon juga kalau beli langsung," cerita Setia. Pengalaman pernah menerima barang tidak sesuai deskripsi, mulai dari warna hingga ukuran, membuatnya lebih selektif dengan menonton video promosi atau siaran langsung sebelum menekan tombol checkout.
Baca Juga: HRTA Bukukan Pendapatan Rp33,8 Triliun pada Semester I-2026, Laba Bersih Capai Rp700 Miliar
Potensi ekonomi digital di Indonesia terus melambung. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia memprediksi jumlah pengguna internet nasional pada 2026 mencapai 235,26 juta jiwa, naik dari 221,56 juta pada 2024. Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satria Pinandita menyebut sudah belasan juta orang menjadi afiliator aktif di platformnya. "Artinya semakin banyak masyarakat yang tertarik bergabung ke ekonomi digital. Keunggulan ekonomi digital adalah sifatnya yang fleksibel. Masyarakat bebas menentukan kapan mereka ingin bekerja dan bagaimana mereka ingin memanfaatkan waktu yang dimiliki," terang Satria.
Institutut for Development of Economics and Finance (INDEF) menempatkan Indonesia di posisi ketujuh dunia berdasarkan jumlah afiliator. Peneliti INDEF Fadhilla Maulida menyebut Indonesia memiliki sekitar 3,1 juta afiliator. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat dengan jumlah penduduk tidak jauh berbeda memiliki 23 juta afiliator. "Artinya peluang Indonesia untuk terus bertumbuh masih sangat besar. Generasi muda sekarang cenderung lebih menyukai pekerjaan yang fleksibel. Mereka tidak selalu ingin bekerja dengan pola kerja pukul sembilan pagi sampai lima sore. Mereka lebih menyukai pekerjaan yang berbasis hasil," tutur Fadhilla.
Peluang ini ditangkap baik oleh Dinas Ketenagakerjaan dan UMKM Kota Bandung. Sekretaris Dinas Koordinator UMKM Kota Bandung Trisye Avi mengatakan pemerintah mendorong masyarakat memanfaatkan peluang di era digital, termasuk menjadi reseller maupun affiliate. "Kita mendorong pelaku usaha yang tidak semuanya juga yang mau punya produk. Dia mau itu jadi reseller, mau itu menjadi afiliator dan sebagainya kita dorong. Yang penting dia punya aktivitas yang memang produktif," katanya. Dinas Koordinator UMKM kini mulai menjajaki kolaborasi dengan perusahaan yang memiliki program pengembangan affiliate dan menggelar pelatihan pemasaran digital secara bertahap di berbagai kecamatan.
Di ekonomi digital, penghalang untuk masuk justru sangat rendah. Seseorang tidak perlu memiliki produk untuk mulai berpenghasilan. Cukup dengan kemampuan membuat konten atau menjual, siapa pun bisa bergabung sebagai afiliator. Shopee sendiri menyediakan berbagai format yang bisa disesuaikan kemampuan. Mereka yang suka membuat video bisa menggunakan Shopee Video dengan menyematkan tautan produk. Ada juga yang memilih fokus di Shopee Live untuk siaran langsung bersama penjual. Sementara itu, sebagian lainnya cukup membagikan tautan melalui WhatsApp atau media sosial lain tanpa perlu membuat video maupun live stream. "Minggu lalu saya bertemu dengan seorang affiliate dari Solo. Menurut dia, Shopee Video itu seperti menabung. Hari ini dia membuat video dan mengunggahnya. Transaksi bisa saja terjadi satu atau dua bulan kemudian, tetapi selama transaksi berasal dari video tersebut, dia tetap memperoleh komisi," cerita Satria.
Ekonomi digital di Bandung terus menggeliat seiring reaktivasi Bandara Husein yang diharapkan mendorong sektor riil lebih aktif. Bagi anak muda Bandung yang mencari pekerjaan fleksibel dengan potensi penghasilan tambahan, menjadi afiliator bisa menjadi opsi. Sentra Kuliner Gridea di Depok menunjukkan bagaimana kreativitas warga bisa berwujud menjadi wadah ekonomi baru. Keduanya sama-sama membuktikan bahwa di era digital, kesempatan tidak selalu datang dari modal besar, melainkan dari kemauan untuk mulai dan konsisten berkarya.
Fadhilla mengakui bahwa peningkatan jumlah afiliator membawa dua pesan berbeda. Di satu sisi, ekonomi digital mampu memberdayakan masyarakat secara luas. Namun di sisi lain, fenomena ini juga menunjukkan bahwa banyak rumah tangga yang masih membutuhkan penghasilan tambahan. "Tugas kita bersama adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Kalau daya beli meningkat, otomatis transaksi juga akan meningkat dan seluruh ekosistem digital akan ikut berkembang," katanya.